Selasa, 08 Mei 2012 - 14:48 WIB
Faktor Perubahan Cuaca Bagi Ketahanan Petani dan Nelayan
Oleh : Oktavio Nugrayasa
- Dibaca: 1140 kali



Faktor tidak menentunya keadaan cuaca dan iklim di belahan dunia, termasuk di wilayah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir ini, sangat berpengaruh besar terhadap produktivitas di sektor kehidupan masyarakat. Sektor yang tentunya mengalami imbas paling besar dari perubahan iklim tersebut adalah sektor pertanian dan perikanan. Dengan tingginya tingkat curah hujan banyak tanaman pangan mengalami gagal panen dan puso diakibatkan curah hujan yang tinggi, bahkan bencana banjir melanda di beberapa wilayah di Nusantara. Cuaca ekstrem tersebut juga membuat sebagian para nelayan tidak berani dan takut untuk menangkap ikan hingga ke tengah laut, mereka berhenti melakukan kegiatan melaut sampai cuaca di nilai aman, sehingga hasil tangkapan menurun drastis.

Dari data secara akumulatif, gangguan cuaca terhadap sektor pertanian dan perikanan dalam skala bervariasi dapat menyebabkan laju pertumbuhan perekonomian nasional akan melambat. Fakta menunjukkan, angka inflasi yang terjadi pada akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011 sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan yang semuanya merupakan imbas dari cuaca ekstrem yang melanda Indonesia. Membubungnya harga cabai, beras dan ikan laut, sebagai contoh, terjadi karena produksi di tingkat petani dan nelayan anjlok akibat cuaca buruk. Sangatlah Jelas bahwa jika tidak diantisipasi secara dini, perubahan iklim dan anomali cuaca sangat merugikan perekonomian negara.  

Pada Acara Pencanangan Gerakan Nasional Penanganan Anomali Iklim di Desa Lebo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta para petani dan nelayan untuk lebih adaptif dan inovatif menghadapi perubahan cuaca atau anomali iklim. Secara adaptif dapat diartikan bahwa petani dan nelayan diharapkan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca yang gampang berubah setiap saat. Sedangkan inovatif berarti petani dan nelayan memiliki strategi dan jurus-jurus baru untuk menghadapi perubahan iklim. Tujuannya jelas, yakni agar petani dan nelayan bisa mengambil manfaat dari perubahan iklim yang sedang terjadi, dan bukan sebaliknya.

 

Secara khusus Presiden mengingatkan, bukan tidak mungkin anomali cuaca yang melanda Indonesia akan mengancam ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu seluruh masyarakat terutama petani dan nelayan harus mewaspadai sekaligus menanganinya dengan cara-cara yang tepat agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar dalam hal produktifitas.

Apa yang dikemukakan Presiden tentu harus menjadi perhatian kita semua, karena di beberapa negara seperti di Rusia, Turki, Cina, India, Pakistan, dan Australia bahkan di Eropa, Afrika dan Amerika Latin, imbas dari perubahan iklim dan cuaca ekstrem terbukti mampu merusak infrastruktur pertanian yang berakibat pada penurunan produksi pangan di negara-negara kawasan tersebut secara signifikan hingga mengarah kepada krisis pangan.

Sebagai negara yang telah mencapai kemapanan di bidang pangan, Indonesia tentu harus menjaga agar tidak mengalami nasib yang sama. Dalam rangka menjaga ketahanan pangan, pemerintah telah menambah dana untuk ketahanan pangan dari semula Rp 2 triliun menjadi Rp 3 triliun di 2011. Penambahan anggaran tersebut sebagai antisipasi dini apabila terjadi kerawanan pangan.

Rinciannya, Rp 2 triliun untuk antisipasi (kontigensi) dan Rp 1 triliun khusus untuk penyediaan beras. Selain itu, pemerintah juga akan menganjurkan pola makan masyarakat sesuai dengan tradisi daerah masing-masing. Namun akan lebih baik apabila upaya tersebut juga didukung dengan langkah nyata di tingkat petani dan nelayan.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan para petani adalah dengan melakukan adaptasi cara menanam sesuai dengan karakteristik cuaca yang berubah-ubah. Jika sebelumnya pada cuaca normal petani cenderung melakukan teknik menanam secara monokultur atau satu jenis tanaman pangan, pada cuaca ekstrem sebaiknya diganti dengan teknik multikultur atau berbagai jenis tanaman dalam satu lahan. Tanaman yang tidak tahan curah hujan tinggi untuk sementara tidak ditanam dan diganti dengan tanaman lain yang lebih tahan hujan. Inovasi dapat dilakukan misalnya dengan menanam di pot-pot plastik (polybag), atau di bawah lindungan atap plastik transparan agar tanaman tidak langsung terpapar hujan.

Sementara para nelayan, sambil menunggu cuaca buruk mereda, bisa mengalihkan kegiatan menangkap ikan di tengah laut dengan mengoptimalkan penangkapan ikan di pesisir dan intensifikasi budidaya tambak. Selain itu, dapat pula melakukan kegiatan ekonomi produktif di darat, misalnya dengan membuat kerajinan tangan dan industri rumahan makanan olahan berbasis hasil laut, serta mengadakan kegiatan lain yang tidak tergantung cuaca. Berbagai inovasi tersebut selain dapat menghindarkan nelayan dari kevakuman pekerjaan, juga dapat meningkatkan pendapatan nelayan di luar pekerjaan utamanya mencari ikan di laut.

Selama ini terdapat kecenderungan petani dan nelayan masih sulit mengubah strategi kerja yang telah mereka terapkan selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, mereka menghentikan aktivitas dan memilih vakum apabila keadaan cuaca tidak mendukung kegiatan mereka sehari-hari. Sikap semacam itu dapat dimaklumi apabila cuaca ekstrem hanya terjadi satu atau dua minggu. Namun jika cuaca ekstrem terjadi sampai berbulan-bulan seperti sekarang, seyogyanya para petani dan nelayan mengubah sikap. Mereka tidak bisa lagi menunggu, namun harus segera bertindak dengan cara dan strategi baru. Alasannya jelas, berhenti bekerja berarti membuang waktu dan kesempatan untuk mendapatkan pendapatan.

(Kedeputian Perekonomian)