Senin, 25 Juni 2012 - 08:53 WIB
Bangkitnya Ekonomi Melalui Basis Pertanian dan UKM
Oleh : Oktavio Nugrayasa, Anggota Desk Info Setkab
- Dibaca: 3585 kali



Krisis yang melanda beberapa negara akhir-akhir ini telah mendorong sejumlah pakar ekonomi global dalam meninjau kembali serta mengkaji ulang arti pentingnya peranan usaha skala kecil menengah (UKM). Bersama pertanian, UKM sudah terbukti mampu memperkuat dan  menjaga perekonomian saat diterpa krisis ekonomi di suatu negara.

Setidaknya ada 2 (dua) kesimpulan yang dapat di cermati sebagai penguat hipotesis tentang peranan sektor UKM, yakni pertama, pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat, sebagai contoh terjadi di Jepang yang tak lepas dari kontribusi sangat besar dari sektor usaha kecil menengah. Kedua, dalam penciptaan lapangan kerja di Amerika Serikat (AS) sejak perang dunia II, sumbangan UKM ternyata tak bisa diabaikan (DL Birch, 1979). AS benar-benar telah membuktikan hipotesis tersebut. Ketika sektor finansial terpuruk  diterpa krisis yang melanda negeri adidaya itu pada 2008, pertanian dan UKM tampil sebagai penyelamat ekonomi.

Ini sangat masuk akal karena sektor pertanian tidak berhubungan erat dengan sektor finansial. Pertanian dan UKM adalah sektor yang keterkaitannya dengan sektor finansial paling kecil. Namun, bukanlah sebuah kebetulan bahwa UKM dan pertanian tetap kokoh berdiri saat perusahaan-perusahaan raksasa seperti  di AS justru goyah atau ambruk diterpa krisis. Pertanian demikian juga UKM, adalah tradisi perekonomian selama ratusan tahun usia kemerdekaan negeri itu.  Jauh sebelum sektor industri berkembang, AS sudah mengandalkan sektor pertanian sebagai motor utama pembangunan ekonomi. Jika kini AS adalah kampiun ekonomi dunia, itu tidak lain adalah dua sektor fondasi perekonomian negeri itu demikian kuat berkat kemajuan di sektor pertanian dan UKM.

Pemberian Subsidi dan Ketatnya Proteksi

Untuk mengungkap keberhasilan sektor pertanian dan UKM di negara maju, ada sebuah pertanyaan yang layak untuk diperhatian yaitu, mengapa pertanian dan UKM begitu maju dan menjadi andalan dalam perputaran roda perekonomian di AS dan negara-negara maju lainnya? Hal itu tak lepas dari keberanian pemerintahan negara-negara tersebut dalam memberikan subsidi dan ketatnya kebijakan proteksi yang diterapkan.

Peranan Pemerintahan di AS, begitu pula pemerintahan di negara-negara Uni Eropa, Jepang, tidak pernah berhenti untuk selalu memberikan subsidi dan memperketat proteksi kepada sektor pertanian secara besar-besaran. Ini sepenuhnya didasarkan pada sebuah kesadaran mereka bahwa pertanian dan UKM akan mampu menciptakan multiplier effect yang dahsyat bagi perekonomian domestiknya.

Para perencana dan pelaksana pembangunan dalam pemerintahan AS sangat paham dan sadar betul betapa pentingnya memberikan perlindungan bagi sektor pertanian dan UKM. Selain skala ekonomi yang tercipta, ada dampak strategis dari keberadaan sektor pertanian bagi perekonomian secara keseluruhan, termasuk di dalamnya sektor UKM.

Industri mobil raksaksa seperti di Jepang takkan tumbuh jika tak ditopang oleh sektor UKM dalam proses produksinya, serta UKM di sektor pertanian. Skala ekonomi produsen padi di Jepang secara relatif memang lebih kecil ketimbang di AS, namun justru menciptakan banyak sektor UKM di sektor pertanian.

Sektor UKM tersebut pada gilirannya bukan hanya menciptakan surplus produksi tapi juga surplus tenaga kerja yang kemudian menjadi faktor produksi di sektor-sektor lainnya. Peranan sektor UKM di Soweto, Afrika Selatan, menjadi satu-satunya sektor yang mampu mengisi peran untuk menyediakan pangan bagi kebutuhan masyarakatnya. Sektor UKM bukan hanya harus kuat di sektor pertanian tapi juga di sektor-sektor lainnya, sebab tanpa sektor pertanian yang kuat maka surplus produksi tidak dapat didistribusikan ke sektor-sektor lainnya.

Peranan Sektor Pertanian dan UKM di Indonesia

Peranan sektor pertanian dan UKM di Indonesia meski telah terbukti bahwa kedua sektor tersebut tetap kokoh dan kuat ketika dilanda krisis ekonomi tahun 1997/1998, namun sebagian besar sektor ini masih memiliki kemampuan yang sangat terbatas seperti teknologi, struktur, manajemen, pelatihan, dan pembiayaan. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat, bahwa lapangan usaha di sektor UKM pertanian meski mengalami keterbatasan namun dapat tumbuh dan menempati posisi pertama dalam memberikan kontribusi bagi produk domestik bruto (PDB) nasional tumbuh rata-rata 3,30% setiap tahun. Tahun 2008 mencapai 5,16% dan mengalami kenaikan pada tahun 2009 sebesar 6,0%, karena disokong oleh kenaikan produk padi pada tahun yang berasngkutan dan meningkatnya harga-harga komoditas ekspor (kelapa sawit, kakao, karet dll) di pasar dunia. Sedangkan posisi kedua ditempati sektor perdagangan, dan ketiga sektor keuangan.

Belajar dari pengalaman negara-negara maju, pemerintah Indonesia tidak perlu segan-segan memberikan proteksi yang sebesar-besarnya bagi sektor pertanian dan UKM. Melihat besarnya kontribusi UKM pertanian pada PDB nasional, maka layaklah jika dua sektor ini mendapatkan kucuran kredit dari perbankanan nasional. Namun, pada kenyataannya, UKM pertanian masih sedikit dikucuri kredit oleh dunia perbankan.

Selama ini, distribusi kredit UKM masih terkosentrasi di sektor perdagangan, industri dan jasa, sedangkan sektor pertanian masih di bawah 10%. Padahal, populasi pengusaha mikro kecil dan menengah itu mencapai 68% bertumpu pada sektor per tanian, terutama untuk produksi barang pangan yang harus lebih besar mendapatkan dukungan pembiayaan dari perbankan.

Selain persoalan distribusi kredit terhadap sektor usaha, kehadiran kredit usaha rakyat (KUR) yang diharapkan bisa menjadi solusi juga terjadi kesenjangan dari sisi sebaran geografis. Penyebaran KUR selama ini hanya terpusat di Jawa serta pusat perekonomian kota, sedangkan porsi luar Jawa masih rendah. Belajar dari sejumlah negara lain yang mampu meningkatkan skala ekonomi sektor pertaniannya, melalui pemberdayaan UKM, maka keberpihakan pemerintah kita terhadap sektor ini sudah menjadi sebuah keharusan.

Keberpihakan yang terang-terangan dari pemerintah Indonesia akan memacu sektor UKM dan pertanian mencapai keunggulan kompetitifnya. Ini bisa dilakukan dengan keberanian memberikan kredit tanpa bunga dan/atau agunan kepada sektor UKM dan pertanian.  Ini memang membutuhkan waktu dan tidak mudah untuk dilaksanakan. Namun, kita tetap optimis bagi sebuah bangsa besar seperti Indonesia untuk bersama mewujudkan, karena di mana ada kemauan di sana pasti ada jalan!

                                                -------------------------------------------