Selasa, 07 Agustus 2012 - 11:43 WIB
2014, Puncak Swasembada Pangan Berkelanjutan
Oleh : Oktavio Nugrayasa - Kabid Ketahanan Pangan dan PDT
- Dibaca: 4598 kali



Arus globalisasi saat ini telah menghadapkan sistem pangan nasional pada persaingan pasar yang semakin ketat. Berbagai produk pangan impor dengan kualitas dan harga yang lebih baik, berpotensi menekan kemampuan produksi pangan nasional. Persaingan ini terkadang tidak adil bagi pelaku usaha nasional karena banyak negara pesaing yang memberikan proteksi dan subsidi dalam jumlah yang cukup besar kepada produk dan petaninya. Untuk memenangkan persaingan ini tentunya diperlukan kemampuan teknis dan manajemen dalam pengelolaan produksi serta mengangkat daya saing tinggi terhadap produk pangan nasional yang sebagian besar dihasilkan para petani di pedesaan.

Tantangan ke depan adalah kemampuan merancang kebijakan perdagangan yang dapat melindungi sistem produksi domestik, serta dapat menunjang peningkatan daya saing bagi produk pangan lokal tanpa menyebabkan distorsi yang berlebihan terhadap mekanisme pasar di dalam negeri. Telah cukup banyak berbagai pandangan dan analisis terkait ancaman membanjirnya produk impor pangan ke Indonesia, terutama menyoroti pilihan-pilihan atas kebijakan pemerintah dalam rangka mengurangi ketergantungan produk pangan impor serta meningkatkan produk pangan domestik.

Berdasarkan data dari beritasatu.com, saat ini ketergantungan Indonesia atas produk pangan impor, antara lain sebesar 100% untuk impor gandum, 60% untuk kedelai, 70% susu, 54% kebutuhan gula, dan sekitar 30% kebutuhan daging sapi dalam rangka mencukupi permintaan dalam negeri, dimana produk pangan tersebut sebagian besar dikirim dari negara-negara penghasil terbesar di dunia. Berdasarkan persentase, khusus untuk kebutuhan impor jagung dan beras tidak terlalu besar, yakni hanya 11% (2 juta ton impor) dari 18 juta ton produksi jagung nasional serta sebesar 5% (2 juta ton impor) dari 39 juta ton produksi beras nasional.

Hal yang lebih krusial bagi ekonomi pangan nasional adalah kinerja produksi pangan domestik perkembangannya masih belum optimal. Apalagi pemerintah akan mencapai target besar menuju swasembada pada tahun 2014 untuk 5 (lima) komoditas pangan strategis, yaitu beras, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi.

Produk Beras

Berdasarkan publikasi terakhir bps.go.id soal angka ramalan produksi pada Juli 2012, target swasembada beras mungkin relatif paling aman walaupun untuk memenuhi surplus sampai 10 juta ton tahun 2014 perlu kerja keras dan komitmen yang tinggi dari seluruh pemimpin/stakeholder yang terkait di bidang perberasan guna mewujudkan harapan tersebut dari waktu tersisa selama 2 tahun ke depan.

Hambatan sedikit sulit, untuk menghentikan kegiatan laju konversi lahan sawah subur menjadi kegunaan lain, diantaranya alih fungsi lahan produktif menjadi lahan perumahan dan industri. Juga kesukaran dalam mengejar perbaikan sebesar 50% atas sistem infrastruktur irigasi yang telah rusak dan adapula beberapa saluran irigasi diberbagai daerah sentra produksi beras keadaannya rusak cukup berat.

Produk Jagung

Untuk target swasembada jagung mungkin masih dapat tercapai asalkan semua kebijakan terkait pemberian insentif peningkatan produksi dan produktivitas benar-benar dilaksanakan secara baik dan konsisten, di mulai dari ketersediaan benih unggul (hibrida), penyediaan pupuk yang tepat waktu, hingga kegiatan penanganan yang terpadu hama penyakit tanaman serta berpihaknya sistem usaha tani kepada Petani jagung dibarengi upaya penguatan kelembagaan pemasaran dan penanganan produksi pascapanen yang umumnya berhubungan dengan industri pakan ternak.

Produk Gula Pasir

Target swasembada gula sebesar 4,2 juta ton diharapkan akan tercapai tahun 2014, meskipun masih terdapat berbagai persoalan di kelembagaan yang melingkupinya mulai dari tingkat usaha tani di hulu, perdagangan dan distribusi di tengah, sampai struktur pasar dan mekanisme pemasaran yang rumit (kompas.com, 9 Juli 2014).

Produk Kedelai

Sedangkan, target swasembada kedelai sebesar 2,5 juta ton tahun 2014, tentunya diharapkan akan dapat tercapai, meskipun fenomena atas produksi dan kebutuhan yang sangat besar celah distorsinya, ditambah meningkatnya harga kedelai dunia terutama selama 4 tahun terakhir. Areal panen kedelai nasional menurun drastis sampai 6% per tahun dan kini hanya tinggal sekitar 567.000 hektar. Sekedar perbandingan, lahan kedelai pernah seluas 1,4 juta hektar dan produksi kedelai pernah mencapai 1,8 juta ton awal tahun 1990-an. Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian, harus mulai memikirkan upaya meningkatkan produktivitas hingga swasembada kedelai di dalam negeri, mengingat komoditas tersebut sangat terkait dengan hajat hidup rakyat kebanyakan. Hal itu juga mengingat kedelai adalah sumber gizi protein yang murah. Selain itu, Kementerian Pertanian perlu memikirkan dan memasyarakatkan komoditas biji-bijian lain yang bisa menjadi substitusi dari kedelai dalam proses produksi tahu dan tempe. Ini penting menjadi alternatif solusi peningkatan jumlah produksi kedelai menunju swasembada di tahun 2014.

Produksi Daging Sapi

Impor daging Indonesia saat ini, sebesar 30% yang didatangkan dari Australia dan Selandia Baru. Jumlah impor itu harus terus berkurang hingga tersisa 10% dan 90% bisa dipenuhi dari daging lokal. Keadaan sebenarnya, Kebijakan pemerintah bagi pembatasan impor sapi, sudah diberlakukan sejak 2010 lalu. Dengan harapan, pada 2014 mendatang, Indonesia hanya mengimpor 85.000 ekor sapi dari saat ini yang mencapai 260.000 ekor sapi atau setara 460.000 ton daging sapi.

Data sensus menunjukan, total jumlah sapi di Indonesia saat ini sekitar 16 juta ekor. Keseriusan pemerintah, terlihat dengan mendorong empat gubernur wilayah Indonesia yang merupakan sentra daging sapi di Indonesia yakni Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Papua Barat untuk potensi pertenakan sapi guna menargetkan Indonesia agar mampu swasembada daging pada 2014. Uraian di atas tentunya telah memadai untuk menjelaskan kinerja produksi pangan dalam negeri yang sangat rentan atas gejolak produksi dan harga pangan di luar negeri.

Percepatan Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan

Pemerintah dalam Program Prioritas Pembangunan di Bidang Pertanian, telah menargetkan pada tahun 2014 untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan, mengharapkan jumlah target produksi padi sebesar 75,70 juta ton, untuk produksi jagung sebesar 29 juta ton, kedelai sebesar 2,7 juta ton serta produksi gula sebesar 4,81 juta ton sedangkan untuk daging sapi sebesar 0,55 juta ton.

Penekanan ini tidaklah berlebihan jika dilihat dari fakta yang ada. Setiap kebijakan tanpa ada dukungan dari pemerintah daerah tak akan bisa berjalan. Apalagi, masing-masing daerah, memiliki potensi besar untuk  mengembangkan komoditas pangan strategis. Selain itu peran pemerintah daerah sangat vital dalam menyukseskan rencana swasembada dan swasembada berkelanjutan.

Pada sisi lain kepastian penambahan lahan untuk produksi menjadi syarat utama yang harus segera direalisasikan dalam waktu yang singkat. Mengacu pada faktor-faktor penentu keberhasilan produksi, faktor ketersediaan lahan menempati proporsi terbesar. Sekurangnya 40% keberhasilan target produksi ditentukan oleh faktor lahan. Karenanya pemerintah perlu secara tegas menentukan dan memperluas lahan produksi tidak hanya berpusat pada lahan sawah. Agar program ini dapat berjalan, diperlukan dukungan sarana infrastruktur dan kebijakan lainnya dalam rangka mendukung program tersebut.

Sumber daya alam telah semakin terbatas bagi peningkatan produksi pangan, sehingga kita dituntut untuk memanfaatkan secara lebih arif dan bijaksana. walaupun demikian kita harus mendukung dan mempercayai bahwa kita, seluruh komponen bangsa, masih mempunyai semangat dan kemampuan yang bisa kita satukan untuk melakukan pekerjaan besar tersebut, yaitu mewujudkan swasembada dan swasembada berkelanjutan pada tahun 2014.