Kamis, 09 Agustus 2012 - 13:42 WIB
Rohingya, Korban Minoritas Yang Terusir Dari Negaranya
Oleh : Agil Iqbal Cahaya,S.AP, Staf Analisis Bidang Pertahanan Deputi Bidang Polhukam
- Dibaca: 5778 kali



Berita mengenai pembantaian etnis Rohingya sangat miris kita dengar dan lihat di media cetak atau media elektronik. Di zaman yang seharusnya manusia sudah melakukan hal-hal yang lebih beradab, kenyataannya masih ada saja sekelompok manusia yang melakukan arogansi kepada kaum minoritasnya, hanya karena mereka berbeda dalam hal ras, agama, dan budaya.

Seperti dilansir www.ceritamu.com tanggal 29 Juli 2012, berikut kronologi singkat dari berbagai sumber mengenai konflik yang terjadi di Myanmar bagian utara tersebut: surat kabar The New Light of Myanmar edisi 4 Juni 2012 melaporkan satu berita mengenai pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis oleh tiga orang pemuda: Insiden Pemerkosaan dan Pembunuhan “NAY PYI TAW, 4 Juni - Dalam perjalanan menuju rumah dari tempat bekerja sebagai tukang jahit, Ma Thida Htwe, seorang gadis Buddha berumur 27 tahun, ditikam sampai mati oleh orang tak dikenal. Lokasi kejadian adalah di hutan bakau dekat pohon alba di samping jalan menuju Kyaukhtayan pada tanggal 28 Mei 2012 pukul 17:15.

Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke Kantor Polisi Kyauknimaw oleh U Win Maung, saudara korban. Kantor polisi memperkarakan kasus ini dengan Hukum Acara Pidana pasal 302/382 (pembunuhan / pemerkosaan). Lalu Kepala kepolisian distrik Kyaukpyu dan personil pergi ke Desa Kyauknimaw pada 29 Mei pagi untuk pencarian bukti-bukti lalu menetapkan tiga tersangka, yaitu Htet Htet (a) Rawshi bin U Kyaw Thaung (Bengali/Muslim), Rawphi bin Sweyuktamauk (Bengali/Muslim) dan Khochi bin Akwechay (Bengali/ Muslim).

Penyelidikan menunjukkan bahwa Htet Htet (a) Rawshi tahu rutinitas sehari-hari korban yang pulang-pergi antara Desa Thabyechaung dan Desa Kyauknimaw untuk menjahit. Menurut pengakuannya dia berbuat dipicu oleh kebutuhan uang untuk menikahi seorang gadis, dan berencana untuk merampok barang berharga yang dipakai korban. Bersama dengan Rawphi dan Khochi, Rawshi menunggu di pohon alba dekat tempat kejadian. Tak lama Ma Thida Htwe yang diincarnya datang dan berjalan sendirian, ketiganya lalu menodongkan pisau dan membawanya ke hutan. Korban lalu ditikam mati, tak lupa merenggut lima macam perhiasan emas termasuk kalung emas yang dikenakan korban.

Pada 1 Juni 2012 pukul 9 pagi Kepala Menteri Negara dan partai di Kyaukpyu mengadakan diskusi dengan organisasi pemuda Kyaukpyu atas kasus pembunuhan tersebut. Diskusi-diskusi terutama menyinggung menjatuhkan hukuman jera pada para pembunuh dan membantu mencegah kerusuhan saat mereka sedang diadili. Setelah itu lebih dari seribu massa marah dan hampir menghancurkan kantor polisi di mana tiga pelaku ditangkap. Lalu kasus terburuk dan pemicu tragedi Rohingya adalah pembantaian terhadap 10 orang Muslim peziarah yang ada dalam sebuah bus di Taunggup dalam perjalanan dari Sandoway ke Rangoon pada tanggal 4 Juni.

Sejak insiden 10 orang Muslim terbunuh terus memanas di kawasan Arrakan, Burma, muslim Rohingya menjadi sasaran. Seperti dilansir media Al-Jazeera, Hal ini dipicu juga oleh bibit perseteruan yang sudah terpendam lama, yaitu perseteruan antara kelompok etnis Rohingya yang Muslim dan etnis lokal yang beragama Buddha. Rohingya tidak mendapat pengakuan oleh pemerintah setempat. Ditambah lagi agama yang berbeda. Dari laporan berbagai berita sampai saat ini sejak insiden tersebut sudah terjadi tragedi pembantaian etnis Rohingya lebih dari 6000 orang.

Pada 27 Juni seperti dilansir Press TV, Presiden Myanmar Thein Sein mengatakan, Muslim Rohingya harus diusir dari Myanmar. Ia juga mengatakan, sebaiknya Muslim Rohingya dikirim ke kamp pengungsi yang dikelola PBB. Mantan Jenderal Junta tersebut mengatakan, bahwa satu-satunya solusi untuk mengatasi konflik Muslim dan Buddha di Myanmar adalah dengan mengirim Muslim Rohingya ke luar Myanmar. Ia meminta Muslim Rohingya dikirim ke kamp pengungsi yang dikelola United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). (Dikutip dari www.republika.co.id tanggal 13 Juli 2012).

Diperkirakan, sebanyak 800 ribu Muslim Rohingnya tinggal di Myanmar. Namun, pemerintah menganggap mereka sebagai orang asing dan warga Myanmar juga menyebut mereka pendatang haram dari Banghladesh. Kondisi Muslim Rohingnya semakin mengkhawatirkan karena dunia tidak mempedulikannya. Bangladesh sendiri tidak bersedia menampung mereka dengan alasan tidak mampu. Sehingga banyak pengungsi Rohingya ke Bangladesh dipulangkan kembali begitu tiba di Bangladesh. Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, menyatakan negaranya tidak ingin ikut campur soal nasib pengungsi Rohingya. (dikutip www.ceritamu.com tanggal 29 Juli 2012).

Konflik SARA di negara manapun menjadi hal yang sangat berpotensi menimbulkan risiko kerusuhan hingga perang yang terus menerus. Seperti yang terjadi di Myanmar, pembantaian sampai pengusiran etnis Rohingya terjadi karena Pemerintahan negara Myanmar sejak dahulu tidak mengakui keberadaan etnis ini. Puluhan tahun diskriminasi telah membuat Muslim Rohingya tidak memiliki negara. Myanmar telah membatasi pergerakan mereka, dan memotong hak atas tanah, pendidikan, dan pelayanan publik mereka. Selama dua tahun terakhir, gelombang Muslim etnis ini telah berusaha melarikan diri dengan perahu. Mereka tidak tahan menghadapi penindasan sistematis oleh pemerintah Myanmar. Pemerintah Myanmar menolak mengakui keberadaan mereka di Myanmar. Mereka mengatakan penduduk Rohingya bukan asli Myanmar. Pemerintah juga mengklasifikasikan Muslim Rohingya sebagai migran ilegal. Meskipun mereka telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi.  Kepedulian terhadap etnis Rohingya oleh dunia internasional yang kurang, mengakibatkan semakin membabibutanya pemerintahan Myanmar membunuh dan mengusir muslim rohingya.

Indonesia sebagai negara Asia Tenggara yang memiliki mayoritas penduduknya adalah muslim telah melakukan beberapa solusi dan tindakan yang dilakukan Pemerintah Indonesia yang disampaikan Menteri Luar Negeri RI, sebagai berikut: (seperti dikutip dari www.inilah.com , 2 Agustus 2012)

-Indonesia akan mengusung pembantaian Muslim Rohingya sebagai salah satu agenda pembahasan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerjasama Islam (KTT OKI) yang akan berlangsung di Mekkah, Arab Saudi. Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty M. Natalegawa, yang pekan depan akan ada KTT OKI di Mekkah
-Bantuan yang telah diberikan Indonesia bukan hanya berupa desakan-desakan namun, Indonesia juga bekerja di bawah Kerangka Sidang Umum PBB, baik kerangka 3 maupun dalam kerangka Dewan HAM PBB di Jenewa
-Tidak hanya itu, bantuan Indonesia juga terlihat melalui pemberian tempat penampungan bagi ratusan etnis Rohingya yang berada di wilayah Indonesia.

Menlu RI mengatakan saat ini terdapat 324 warga Rohingya yang berada di Indonesia. Berikut adalah data yang di dapat dari Ditjen Imigrasi melalui www.inilah.com , 2 Agustus 2012.

Belawan : 22 orang

Pekanbaru : 10 orang

Tanjung Pinang : 107 orang

Pontianak : 1 orang

Balikpapan : 1 orang

Kupang : 5 orang

Manado : 35 orang

Makassar : 7 orang

DKI Jakarta : 10 orang

Pusat (Ditjen Imigrasi) Jakarta : 3 orang

Pengungsi yang sudah berada di luar Rudenim:

Medan : 130 orang

Lampung : 19 orang

Kalianda : 4 orang

Bogor : 12 orang

Yogyakarta : 1 orang

Makassar : 48 orang

Berdasarkan Deklarasi Universal Hak-hak Manusia pada tanggal 10 Desember 1948 melalui resolusi 217 A (III) Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam Deklarasi ini dengan tidak ada pengecualian apa pun, seperti pembedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pandangan lain, asal-usul kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran ataupun kedudukan lain. Selanjutnya, tidak akan diadakan pembedaan atas dasar kedudukan politik, hukum atau kedudukan internasional dari negara atau daerah dari mana seseorang berasal, baik dari negara yang merdeka, yang berbentuk wilyah-wilayah perwalian, jajahan atau yang berada di bawah batasan kedaulatan yang lain.

Pemerintah Indonesia memiliki kepentingan untuk melindungi etnis Rohingya bukan karena mayoritas bangsa Indonesia adalah muslim, tetapi rasa kemanusian yang menjadi landasan atas ketidakmampuan etnis rohingnya yang ditindas oleh pemerintah Myanmar dengan melakukan kesewenangan-wenangan terhadap Hak Asasi Manusia.

Pemerintah Indonesia perlu terus berusaha mendesak dunia internasional melalui PBB untuk mendesak Pemerintahan Myanmar menghentikan segala kekerasan dan ketidakadilan terhadap etnis Rohingya.

Indonesia sebagai negara ASEAN harus mengajak semua negara ASEAN ikut memberikan bantuan dan solusi menangani konflik Rohingya tersebut dengan memberikan tekanan politik dan ekonomi kepada Pemerintahan Myanmar.

Perlunya dilakukan investigasi khusus secara independen apakah kondisi di Myanmar seperti yang dikabarkan baik media cetak dan elektronik, sehingga dapat diketahui situasi yang sebenarnya terjadi di Myanmar dan dapat segera diambil keputusan sikap Indonesia selanjutnya.

                                     ----------------------------------