Jumat, 17 Agustus 2012 - 04:49 WIB
Renungan dan Harapan setelah 67 Tahun Indonesia Merdeka
Oleh : Alfurkon Setiawan, Kepala Pusat Data dan Informasi
- Dibaca: 6626 kali



Tanpa terasa sudah 67 tahun kemerdekaan telah kita raih, waktu itu  tanggal 17 Agustus 1945  para pendiri  bangsa Indonesia  memproklamasikan  berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta. Kita telah mengumandangkannya  bahwa Indonesia telah merdeka, mampu berdiri sendiri serta berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di dunia.

Namun, setelah 67 tahun  merdeka, bagaimana meningkatkan  jati diri bangsa untuk menuju masa depan yang lebih baik dengan sebuah jati diri yang memang pantas untuk dibanggakan, baik di negeri sendiri maupun di luar negeri.

Jika kita enggan untuk menyandang jati diri sebagai bangsa yang merdeka, lantas apa arti sebuah kemerdekaan,  yang dulu  diperjuangkan begitu semangat hingga titik darah penghabisan oleh  para pejuang, relawan maupun rakyat yang tidak berdosa pun ikut menjadi korban dari perjuangan memperebutkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kemerdekaan bangsa Indonesia ini, dicapai tidak secara cuma-cuma dari bangsa penjajah, melainkan melalui perjuangan para pahlawan yang rela mengorbankan harta, benda dan jiwa raganya sendiri pun dipertaruhkan demi kemerdekaan bangsa  Indonesia.

Perlawanan terhadap Bangsa Asing (Penjajah)

Sebenarnya perlawanan terhadap bangsa asing yang menjajah Indonesia, telah dilakukan sejak zaman kerajaan. Para Raja tidak senang apabila para penjajah  tersebut datang dan merusak wilayah kekuasaannya. Para Raja dari Kerajaan-Kerajaan di Indonesia melakukan perlawanan terhadap penjajah (Bangsa Asing) yang mengganggu ketentraman kerajaan mereka. Namun, perlawanannya masih bersifat kedaerahan dan menggunakan senjata bambu runcing, keris dan senjata khas daerahnya lainnya, yang tentunya tidak akan mampu mengimbangi kekuatan perang dari bangsa asing yang memiliki persenjataan yang lengkap dan mutahir.

Segala bentuk perjuangan yang dilakukannya tidak sia-sia, lewat perjuangan yang berkesinambungan, bangsa  Indonesia berhasil merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah. Dan teks proklamasi  kemerdekaan yang dibacakan Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945 menjadi sebuah legitimasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Seluruh penduduk Indonesia dari berbagai lapisan masyarakat, menyambut gembira peristawa yang sakral dan bersejarah ini.

Seiring berjalannya waktu, sekarang Indonesia telah tumbuh menjadi negara yang berkembang pesat dan cukup disegani di kawasan Asia. Beberapa buktinya adalah Indonesia pernah mendapat julukan  “Macan Asia” dan tidak jarang Indonesia terlibat dan berperan penting dalam kegiatan dunia internasional serta pernah menjadi salah satu negara yang memiliki angkatan laut terkuat di kawasan Asia.

Berkurangnya Rasa Nasionalisme  

Dalam memperingati Proklamasi Kemerdekaan  Republik Indonesia yang ke-67, terlihat  gejala yang menunjukkan berkurangnya rasa nasionalisme bangsa ini. Mungkin hal ini disebabkan minimnya pengetahuan tentang nilai-nilai sejarah dalam diri setiap individu. Jika  hal ini tidak segera dibenahi, akan berpengaruh terhadap masa depan bangsa dan negara Indonesia tercinta. Contoh kicil, misalnya kurangnya kesadaran masyarakat untuk memasang bendera di depan rumah, kantor ataupun di pertokoan.

Gejala ini mulai terlihat sejak masa reformasi, karena pada masa  orde baru, pemasangan bendera adalah sesuatu keharusan bagi setiap warga negara,  begitu juga pemasangan Gapura di setiap gang  selalu ada. Secara umum, Perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan   sekarang ini cenderung hanya dilakukan sebatas pelaksanaan upacara, pertunjukan dram band, pawai pembangunan dan pertunjukkan hiburan lainnya.

Memang beberapa contoh  di atas, tidak dapat dijadikan tolak ukur yang mutlak tehadap tingkat  rasa nasionalisme, akan tetapi kita dapat merenungkan dan menilai bahwa nasionalisme bangsa ini perlu disosialisasikan kembali. Untuk itu, diharapkan masyarakat semakin sadar bahwa rasa nasionalisme itu sangat penting, sehingga diperlukan penyelenggaraan program-program yang dapat menimbulkan rasa nasionalisme dan rasa cinta terhadap tanah air. Jika hal ini ditanamkan dalam setiap individu, maka bangsa Indonesia akan menghargai perjuangan bangsanya sendiri dan tidak akan terjadi perselisihan sesama bangsanya.

Mengembalikan Jati Diri Bangsa

 Mengembalikan sesuatu yang hilang tidak mudah, semudah membalikan telapak tangan. Namun, jika sesuatu yang hilang itu dicari oleh segenap masyarakat, bukan mustahil jati diri itu akan mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mungkin akan mengantarkan kita menjadi bangsa yang besar  dan disegani oleh bangsa lain.

Mengembalikan jati diri bangsa, tidak bisa  dilakukan oleh orang perorangan, tapi  seluruh rakyat  yang mendiami negara ini. Bersatu mengembalikan jati diri bangsa, berarti membangun kembali Indonesia menjadi bangsa berbudi luhur yang memiliki peradaban, karakter dan peduli dengan sesama dan memiliki persatuan dan kesatuan demi Indonesia tercinta. Mengembalikan jati diri adalah tugas mulia dan amanat yang harus dilakukan oleh semua orang yang mengaku sebagai bagian dari bangsa ini. Sebagai bangsa yang besar tidak hanya luas wilayahnya saja, tetapi memiliki banyak identitas yang merupakan ciri dari sebuah identitas atau jati diri bangsa. Identitas tersebut misalnya : Indonesia sebagai negara 1000 pulau, negara yang dilalui garis Khatulistiwa, negara yang memiliki budaya tinggi dan luhur serta banyak lagi identitas jati diri lainnya.

Selain itu, menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa sendiri, cinta terhadap produk dalam negeri, bangga menjadi rakyat Indonesia, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia, akan dapat mengembalikan jati diri bangsa Indonesia. Seperti dalam pepatah, jika manusianya baik, maka bangsa ini akan ikut baik, dan jika moral manusianya buruk maka bangsa ini akan ikut terpuruk. Jadi, harus dimulai dari diri sendiri , dengan meningkatkan kualitas pribadi,  maka akan menciptakan SDM yang handal, unggul dan  bermartabat.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers usai Pertemuan Silaturahim dengan Para Pemimpin Lembaga Negara di Istana Negara, Jakarta (15/8) menyampaikan, bahwa “Kami semua para pemimpin lembaga-lembaga negara kembali meneguhkan semangat, tekad, komitmen dan langkah-langkah, kami semua untuk terus membangun negeri ini menuju masa depan yang lebih baik, Indonesia yang makin damai, adil, demokratis dan sejahtera berdasarkan Pancasila, UUD 1945, bentuk NKRI dan sasanti Bhineka Tunggal Ika”.

Presiden menyadari, bahwa membangun  suatu bangsa adalah sebuah proses panjang yang tentu tidak pernah sepi dari ujian, tantangan dan cobaan. Tetapi apabila bangsa ini tetap dan mau bersatu bekerja bersama-sama dan bekerja keras, seberat apapun permasalahan dan tantangan yang dihadapi, maka akan dapat mewujudkan cita-cita negara sebagaimana yang telah dirumuskan para pendiri   Republik pada tahun 1945 yang lalu.

Jika kita merenungkan dan mengenang kembali akan perjuangan para pahlawan kemerdekaan tahun 1945, maka terlintas jelas di benak dan sanubari kita bahwa semangat pertempuran yang  dilakukan oleh  para pejuang kemerdekaan  pada waktu itu,  bagaikan api tak kunjung padam, sebegitu hebat  semangat juangnya  dan menyatu pada jiwa para pahlawan pejuang 45. Namun demikian, tak kalah pentingnya  dengan peran kita semua sekarang ini. Perjuangan belum selesai, korban telah banyak berjatuhan, maka marilah kita tingkatkan terus jiwa dan semangat 45 dengan mewujudkan jiwa pembangunan yang tangguh, terampil untuk dipersembahkan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

Sekali Merdeka, tetap Merdeka….