Kamis, 29 November 2012 - 11:15 WIB
Berfokus Pada Program Swasembada Daging Sapi 2014
Oleh : Oktavio Nugrayasa
- Dibaca: 3341 kali



Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2014 (PSDS-2014) merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis sumberdaya domestik khususnya ternak sapi potong. Pencapaian swasembada daging sapi sudah lama didambakan oleh masyarakat agar ketergantungan terhadap impor baik sapi bakalan maupun daging makin menurun dengan mengembangkan potensi dalam negeri. Dengan berswasembada daging sapi tersebut akan diperoleh keuntungan dan nilai tambah meliputi:

  1. Akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak;
  2. Penyerapan tambahan tenaga kerja baru;
  3. Penghematan devisa negara;
  4. Optimalisasi pemanfaatan potensi ternak sapi lokal; dan
  5. Makin meningkatnya peyediaan daging sapi yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) bagi masyarakat sehingga ketenteraman lebih terjamin.

Oleh karena itu, untuk menuju swasembada daging sapi pada tahun 2014, pemerintah melakukan sejumlah upaya dan strategi diantaranya, menurunkan kuota impor daging dari 100 ribu ton menjadi 38 ribu ton sehingga mencapai 10% dari kebutuhan konsumsi masyarakat, meningkatkan populasi sapi potong menjadi 14,2 juta ekor tahun 2014 dengan rata-rata pencapaian pertumbuhannya sebesar 12,48%, dan meningkatkan produksi daging dalam negeri sebesar 420,3 ribu ton pada tahun 2014 atau meningkat 10,4% setiap tahunnya.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengeluarkan Pedoman Umum (Pedum) Program Swasembada Daging Sapi sebagai  acuan  bagi para pengelola kebijakandi tingkat pusat dan daerah.

Perdum di antaranya menurunkan kuota impor daging dari 100 ribu ton menjadi 38 ribu ton sehingga mencapai 10% dari kebutuhan konsumsi masyarakat, meningkatkan populasi sapi potong menjadi 14,2 juta ekor tahun 2014 dengan rata-rata pencapaian pertumbuhannya sebesar 12,48%, dan meningkatkan produksi daging dalam negeri sebesar 420,3 ribu ton pada tahun 2014 atau meningkat 10,4% setiap tahunnya.

Menurut UU Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan, pengertian swasembada adalah kemampuan Negara dalam menjamin terwujudnya kemandirian pangan yang dihasilkan dari produksi dalam negeri. Produksi pangan yang strategis tersebut selayaknya dibangun dengan berbasiskan pada produksi dalam Negeri serta tidak mengantungkan pasokan dari Negara lain (impor) untuk kebutuhan pokok masyarakat Indonesia.

Keberhasilan Program Swasembada Daging Sapi 2014 akan sangat tergantung kepada partisipasi penuh masyarakat peternak sapi potong. Betapapun  baiknya program yang disusun pemerintah, tidak akan berhasil tanpa partisipasi masyarakat peternak dan para pelaku peternakan sapi potong lainnya.

Menjangkau Skenario PSDS- 2014

Sepekan terakhir, meski harga daging terus mengalami kenaikan bahkan sudah diambang batas kewajaran, Pantauan  di sejumlah pasar tradisional Jabodetabek, pada minggu ke tiga bulan Nopember 2012, harga daging bergerak naik di kisaran Rp.98.000-Rp.105.000 per kg, lebih tinggi dari kondisi normal semula pada akhir bulan Oktober 2012 antara Rp.65.000-Rp.75.000 per kg.

Pemerintah terus berupaya  menurunkan kembali harga pada kondisi  normal dengan menambah pasokan/stok sebanyak 22.000 ekor sapi dari usaha penggemukan atau feelloter dan peternakan rakyat di sejumlah pasar-pasar komsumsi. Sejumlah daerah sudah menyatakan menjamin pasokan daging aman dan memastikan tidak ada lonjakan harga menjelang Natal dan Tahun Baru. Di Propinsi Jawa Barat sejak pertengahan Nopember 2012, dari dua pintu masuk yaitu Losari dan Banjar, tercatat pasokan daging sapi masing-masing sebanyak 12.770 ekor dan 1.964 ekor sehingga jumlahnya sebanyak 14.731 ekor (Sumber: Bisnis Indonesia)

Walaupun telah mengumumkan pasokan tercukupi dan aman, sebaiknya pemerintah perlu meningkatkan pengawasan serta memperhatikan lebih ketat dan detail rantai atas pasokan barang kebutuhan pokok masyarakat, dengan mencegah ulah para spekulan. Diharapkan,  harga tidak menimbulkan permasalahan di tengah momentum menuju skenario swasembada daging sapi tahun 2014, akibat pengurangan kouta impor daging.

Jika perlu, pemerintah mengambil langkah antisipasi meninjau sampai pada tingkat paling dasar yaitu para petani. Juga tetap menjaga pola distribusi barang, sehingga pasokan barang di pasar konsumsi dapat tersedia dan terjamin, sebagai upaya menjangkau kepentingan konsumen akhir. Pengamanan distribusi tersebut harus dilakukan sejak awal, jauh sebelum memutuskan operasi pasar sebagai instrumen stabilisasi harga barang.

Pemerintah juga dapat melakukan upaya peningkatan prasarana demi  kelancaran arus distribusi barang dengan terus mengembangkan dan menambah jalan dan jembatan, sekaligus membangun konektivitas wilayah dan antarpulau. Untuk komoditas pertanian yang volume pa­­sokannya sangat bergantung pada musim, sebaiknya pemerintah dapat secara berkesinambungan  memperkuat pola/sistem pergudangan yang baik lagi se­­hingga volume pasokan barang dan kewajaran harga senantiasa bisa tetap dijaga.

Bagaimanapun pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014 tetap menjadi prioritas pemerintah, sambil terus meningkatkan ketersediaan kebutuhan bahan pokok lainnya bagi masyarakat menuju terwujudnya ketahanan pangan di Indonesia dengan terus menerus membangkitkan minat dalam bisnis budidaya sapi dan pasar hewan alternatif ataupun kebutuhan pokok lainya kepada kaum pebisnis lokal.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan PDT, Deputi Bidang Perekonomian