Jumat, 04 Januari 2013 - 09:51 WIB
Memantapkan Ketahanan Pangan Melalui Program ABG Plus
Oleh : Jusuf Gunawan, SKP bidang Pangan dan Energi
- Dibaca: 3020 kali



Mengawali rangkaian kunjungan kerja ke Provinsi Jawa Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Selasa (11/12) melakukan kegiatan panen dan tanam padi bersama petani di Desa Sukorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Presiden didampingi Ibu Ani Yudhoyono memanen padi jenis IR 64 yang produktivitasnya mampu mencapai 10 ton per hektar. Presiden dan Ibu Negara Ani Yudhoyono yang didampingi beberapa menteri serta Gubernur Jawa Timur Soekarwo juga berdialog dengan para petani di areal persawahan yang luasnya sekitar 400 hektar.

Dialog berlangsung santai dan akrab. Pada kesempatan tersebut, Suharno, Ketua KTNA Madiun mewakili petani setempat meminta Presiden mempercepat pembangunan Waduk Kresek, agar wilayah Bojonegoro dan Lamongan tidak kebanjiran pada musim hujan. Selain itu keberadaan waduk tersebut diharapkan juga mampu mengatasi kesulitan air sehingga petani tak harus berebut air pada musim kering. Sementara itu, Tasir, seorang petani tebu mengemukakan beberapa permasalahan yang dihadapi petani seperti fasilitas kredit yang kadang belum tepat waktu dan usulan perbaikan pabrik gula. Menanggapi permasalahan tersebut Presiden langsung memerintahkan menteri terkait yang juga hadir untuk menindaklanjuti penyelesaiannya.

Presiden dan rombongan terdiri atas Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hattta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam, Menperin MS Hidayat, Menparekraf Mari Elka Pangestu, Menkop dan UKM Syarief Hasan, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menteri Pertanian Suswono dan Dirut Perum Bulog.  Presiden berpesan kepada semua pihak untuk menjaga pertanian di Provinsi Jawa Timur yang merupakan penyumbang cadangan beras yang paling besar.

Kegiatan kunjungan dilanjutkan ke Pendopo Kantor Kabupaten Magetan untuk menyaksikan pameran kendaraan ramah lingkungan dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) ABG Plus untuk implementasi penanaman padi dalam rangka peningkatan produksi pangan nasional. ABG Plus adalah kerjasama antara akademis, bisnis (dunia usaha), Government (Pemerintah) dan Plus KTNA (Kelompok Tani Nelayan Andalan). Kegiatan ini akan memberikan manfaat : terintegrasinya  kegiatan industri pertanian dari hulu hingga hilir secara efektif dan efisien sehingga pelaku ABG Plus mendapatkan value added yang memadai.  Selain itu, seluruh potensi resources yang dimiliki pelaku ABG Plus dapat terkapitalisasi sehingga dapat menjadi leverage dalam pembangunan ketahanan pangan nasional. Pada akhirnya dapat diwujudkan, ketahanan pangan daerah yang kuat di seluruh Indonesia untuk menekan laju inflasi sehingga memperkokoh pertumbuhan dan stabilitas perekonomian nasional.

Mewakili akademisi dalam MOU ABG Plus adalah adalah Rektor Universitas Jember, Dr. M. Hasan. Sebagai perwakilan pihak dunia usaha dan Pemerintah masing – masing adalah Direktur Utama Perum Bulog dan Gubernur Jawa Timur. KTNA diwakili oleh Ketua yaitu Winarno Tohir. Pada penanda tanganan MoU tersebut hadir juga Rektor Universitas Brawijaya, Malang, Prof. Dr Ir Yogi Sugito.

Dalam sambutannya, Dirut Perum Bulog mengatakan adalah komitmen Perum Bulog untuk menerapkan teknologi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi, melakukan sinergi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, dan juga untuk menyerap beras yang dihasilkan oleh petani sehingga ada kepastian pendapatan bagi petani.

Sesuai arahan Presiden SBY untuk mengembangakan integrasi lintas sektor dalam peningkatan produksi pangan telah diimplementasikan oleh Staf Khusus Presiden bidang Pangan dan Energi untuk memfasilitasi terbentuknya sinergi antara Universitas Jember, Bulog, KTNA dan Pemerintah Daerah. Pengembangan program peningkatan produksi melalui integrasi ABG Plus diharapkan akan menyediakan : cadangan komoditas pangan strategis nasional dapat terpenuhi di tingkat nasional dan lokal, lahan aplikasi penelitian akademisi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan dan dikembangkan sesuai kebutuhan lapangan, pengetahuan pertanian terkini bagi petani dan kelompok tani untuk menghadapi persaingan global dan risiko climate change. Selain itu, kesejahteraan petani akan semakin meningkat dari waktu ke waktu dan pelaku bisnis memperoleh jaminan supply dengan kualitas premium dan kuantitas yang memadai untuk menunjang kegiatan bisnis yang favorable.

Sebelum menyaksikan MoU, Presiden SBY dan Ibu Ani beserta rombongan meninjau mobil listrik dan becak tenaga surya. Ada 2 mobil yang dipamerkan yaitu produksi kerja sama PT PLN dan PT Pindad. Sedangkan becak tenaga surya yang diberi nama Cakra Hybrid merupakan karya Siswa SMK PGRI 2 Ponorogo. Untuk dimasa yang akan datang perlu didukung pengembangan becak Cakra yang lebih ringan bobotnya yang saat ini beratnya masih sekitar 200 Kg, sehingga harga jualnya dapat lebih murah. Selanjutnya becak Cakra juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung industri pariwisata dan alat transportasi dan mengangkut hasil panen petani di pedesaan. Presiden SBY berkenan mengendarai becak tenaga surya bersama dengan Ibu Negara dan Putranya, Edi Baskoro.

Presiden beserta rombongan kemudian melanjutkan kegiatan ke sentra industri kecil kerajinan kulit di Magetan serta pusat penggemukan sapi di Desa Janggan, Kec. Poncol Kab. Magetan. Kecamatan Poncol merupakan daerah pegunungan yang terletak sekitar 20 km dari Kota Magetan ke arah Telaga Sarangan.

Di Desa Janggan, Presiden berdialog dengan ratusan peternak di kandang sapi milik H. Suraji yang memiliki 100 ekor sapi. Secara total, terdapat lebih dari 2,000 ekor sapi di Desa Janggan. Pada saat dialog, peternak mengharapkan adanya bantuan alat pencacah pakan, air minum ternak, dan tambahan bantuan modal kerja baik berbentuk KUR maupun hibah. Presiden memerintahkan kepada Kementerian BUMN untuk membantu peternak menggunakan dana CSR (corporate social responsibility) perusahaan.

Pada kesempatan tersebut, Menristek menyanggupi untuk menyediakan bantuan teknologi untuk pengembangan pakan ternak sapi di Desa Janggan. Pada saat kunjungan, antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk menyambut dan bertemu dengan Bapak Presiden dan Ibu Negara dari awal hingga kunjungan berakhir. Presiden kemudian kembali ke Madiun untuk bermalam di Wisma Moelyono milik TNI Angkatan Udara.