Selasa, 26 Februari 2013 - 10:29 WIB
'Green Farming' di Lereng Gunung Slamet
Oleh : Prof. Dr. Jusuf, Staf Khusus Presiden Bidang Pangan dan Energi
- Dibaca: 2379 kali



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  pada Kamis 21 Februari 2013 bersilaturahmi dengan masyarakat di kawasan hutan lereng Gunung Slamet, tepatnya di  Dusun Krajan, Desa Batumirah, Kecamatan Bumi Jawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Pada kesempatan tersebut Presiden SBY beserta rombongan melakukan penanaman pohon pinus untuk penghijauan hutan. Presiden SBY juga berdialog dan memberikan bantuan langsung kepada masyarakat setempat dengan nilai lebih dari Rp 4 miliar bagi pengembangan berbagai usaha, termasuk beberapa kelompok tani, sekolah, madrasah, dan Puskesmas. Salah satu penerima bantuan adalah para petani peternak yang tergabung dalam Kelompok Tani Sido Makmur di Desa Kedawung, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.

Kelompok Tani Sido Makmur memiliki 20 orang anggota dan memelihara 80 ekor sapi lokal untuk pembibitan. Sapi tersebut merupakan bantuan pemerintah pada tahun 2010. Awalnya sebanyak 40 ekor dan saat ini telah berkembang menjadi 80 ekor. Sumber utama pakan ternak sapi mereka adalah rumput gajah yang ditanam di areal hutan setempat dengan tanpa mengganggu tegakan hutan. Rata – rata anggota kelompok tani ini hanya memiliki lahan tegalan seluas 0,8 hektar yang ditanami jagung dan sayur – sayuran sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup secara layak. Namun berkat bantuan ternak sapi dari pemerintah, kondisi perekonomian keluarga mereka meningkat sehingga mampu hidup layak. Manfaat ekonomi yang mereka petik berasal dari penjualan sapi serta pemanfaatan limbah kotoran sapi yang diolah menjadi pupuk organik dan biogas.

Dengan harga daging sapi yang cukup baik saat ini, mereka jelas memperoleh keuntungan dari penjualan ternak sapi yang dikembangbiakkan. Apalagi pakan ternak yang diperlukan relatif tidak membutuhkan biaya yakni bersumber dari rumput yang ditanam para petani di kawasan hutan setempat. Keuntungan ekonomi lainnya berasal dari limbah kotoran sapi yang diolah sebagai pupuk organik dan biogas. Saat ini kelompok tani Sido Makmur mampu mendapatkan income sebanyak Rp.125.000 per hari dari penjualan pupuk organik dan Rp.750.000 per bulan dari penjualan kotoran basah. Sementara itu, sebagian kotoran ternak juga telah diproses untuk menghasilkan biogas untuk memasak dan penerangan. Namun, pemanfaatan biogas masih terbatas karena keterbatasan dana untuk membangun fasilitas pengolahan biogas. Saat ini fasilitas yang dimiliki masih dalam skala kecil yang digunakan untuk keperluan memasak dan penerangan di sekretariat kelompok tani tersebut.

Mencermati dari kegiatan peternakan sapi yang dilakukan Kelompok Tani Sido Makmur dengan memanfaatkan kawasan hutan tanpa mengganggu tegakkannya tersebut dapat dikatakan bahwa telah tercipta sebuah pola integrasi pertanian dan peternakan yang ramah lingkungan serta berkelanjutan (green farming). Kondisi tersebut cukup berhasil karena pola integrasi peternakan dan pertanian yang dilakukan mampu memberikan manfaat secara ekonomis dan ekologis. Manfaat ekonomi dari kegiatan peternakan dengan pola tersebut berasal dari komoditas sapi itu sendiri beserta hasil dari pemanfaatan limbah, baik berupa pupuk organik maupun biogas. Hal ini sebagaimana telah terbukti secara nyata dan dirasakan oleh Kelompok Tani Sido Makmur dengan adanya penambahan sumber pendapatan bagi keluarganya.

Sementara itu, manfaat ekologis yang diperoleh adalah terjaganya kelestarian hutan, terciptanya sistem bercocok tanam yang sustainable melalui pemanfaatan pupuk organik serta penggunaan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan yaitu biogas. Pola peternakan dengan memanfaatkan hutan sekitar untuk bertanam rumput gajah sebagai sumber pakan tanpa mengganggu tegakkan hutan, terbukti berhasil menjadikan masyarakat sekitar hutan sebagai penjaga kelestarian hutan setempat.

Mereka tidak lagi memanfaatkan hutan dengan cara yang merusak misalnya dengan penebangan pohon secara liar untuk dijual atau dijadikan kayu bakar karena mereka dapat merasakan hutan di kawasan tersebut terjaga kelestariannya.

Demikian pula penggunaan pupuk organik memberikan manfaat ekologis bagi kesuburan lahan di kawasan tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang ternyata menyebabkan degradasi lahan karena unsur hara yang seharusnya mudah dimanfaatkan tumbuhan malah banyak yang terikat oleh unsur kimia buatan dan menyebabkan tanah tidak lagi gembur sehingga menurunkan tingkat kesuburannya. Kondisi seperti itu biasanya bahkan memancing penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dan semakin menyebabkan menurunnya kesuburan lahan. Sebaliknya, pupuk organik terbukti mampu menjaga keseimbangan berbagai unsur hara tanah sehingga penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan. Kedua hal tersebut sejalan dengan berbagai program pemerintah untuk menjaga lingkungan, khususnya dalam menjaga kelestarian hutan dan menciptakan sistem pertanian yang ramah lingkungan serta berkesinambungan (eco-friendly and sustainable agriculture).

Sementara itu, penggunaan biogas dari limbah kotoran sapi sebagai sumber energi alternatif untuk keperluan memasak dan penerangan sebagaimana yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sido Makmur memiliki banyak manfaat. Prinsip pembuatan biogas adalah dengan memanfaatkan gas metana hasil dari proses fermentasi bahan-bahan organik kotoran sapi yang ditampung dalam suatu biodigester.

Manfaat yang dapat diperoleh dengan menggunakan biogas sebagai bahan bakar antara lain masyarakat tak perlu menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar dan proses memasak menjadi lebih bersih karena tidak mengeluarkan asap sehingga memiliki kontribusi positif terhadap lingkungan. Disamping itu, kandang hewan menjadi semakin bersih karena limbah kotoran kandang langsung dapat diolah. Sisa limbah yang dikeluarkan dari biodigester juga dapat dijadikan pupuk sehingga tidak mencemari lingkungan.