Kamis, 27 Juni 2013 - 08:36 WIB
APEC dan Momentum Kejayaan Ekonomi Indonesia
Oleh : Eddy Cahyono Sugiarto *)
- Dibaca: 9538 kali



Terpilihnya Indonesia sebagai Ketua Asia-Pasific Economic Forum (APEC) 2013 serta tuan rumah perhelatan yang akan diselenggarakan pada Oktober 2013 mendatang di Bali, sejatinya merupakan momentum bagi kebangkitan ekonomi Indonesia sekaligus   meningkatkan peran strategis Indonesia  bagi  perekonomian global.

Fakta sejarah menunjukkan peran strategis Indonesia sangat besar dalam  perkembangan APEC,  Indonesia berperan dalam pendirian APEC dan hadir pada konferensi tingkat menteri di Canberra, Australia, tahun 1989. Setelah pertemuan APEC di Blake Island Seattle (AS) pada 1993,  Indonesia menjadi tuan rumah KTT APEC 1994 yang diselenggarakan di Bogor, Jabar.

Kontribusi utama Indonesia pada awal pembentukan APEC,  ditandai dengan rumusan Bogor Declaration  dan Bogor Goals pada saat Keketuaan APEC Indonesia tahun 1994.  Indonesia juga turut mendorong dibentuknya salah satu pilar utama APEC yaitu Economic and Technical Cooperation (ECOTECH), yang dirancang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan merata demi mengurangi kesenjangan ekonomi di kawasan melalui pembangunan kapasitas individu dan institusi.

Saat ini, sebagai emerging country yang pertumbuhan ekonominya selalu positif di tengah krisis global, Indonesia menjadi barometer bagi ekonomi global, karena  dunia melihat Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki daya tahan (resilient) terhadap krisis dengan tingkat pertumbuhan ekonomi  yang stabil.

Sebagaimana diketahui, ketika krisis hebat melanda Eropa, perekonomian Indonesia mampu tumbuh di atas 6,5 persen. Bahkan, sampai dengan tahun 2012,  pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di angka 6,5 persen. Kondisi ini bertolak belakang dengan sebagian besar negara-negara lain  yang pertumbuhan ekonominya cenderung negatif.

Evaluasi  2012  masih menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara sentral dalam menjaga pertumbuhan kawasan. Dengan produk domestik bruto (PDB) berdasarkan purchasing power parity (PPP) lebih dari 1 triliun dollar AS, dan meningkatnya kelas menengah, Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi di Asia Pasifik. Besaran (size) ekonomi nasional  dimaksud,  menjadikan posisi strategis Indonesia  sebagai pasar bagi produk impor bagi negara-negara yang tergabung dalam APEC, namun di sisi lain juga,  menjadi peluang bagi ekspor produk nasional dengan semakin terbukanya pasar kawasan Asia Pasific.

Sejak ikut serta dalam APEC, Indonesia mencatat perkembangan yang pesat dalam perekonomian dengan sesama anggota di Asia-Pasifik. Total perdagangan Indonesia di tahun 1989 ke seluruh ekonomi anggota APEC adalah 29,9 miliar dollar AS, sekitar 78% dari total perdagangan Indonesia ke seluruh dunia.

Di tahun 2011 ekspor Indonesia ke seluruh ekonomi anggota APEC mencapai 289,3 miliar dollar AS, sekitar 75% dari total perdagangan Indonesia ke seluruh dunia, terjadi peningkatan hampir 10 kali lipat, dari tahun 1989 ke tahun 2011, atau 22 tahun terakhir.

Investasi dari ekonomi APEC ke Indonesia pada tahun 2010 berjumlah 9,26 miliar dolar AS, dan meningkat pada tahun 2011 menjadi 10,7 miliar dolar AS. Selain itu, pada tahun 2011, 10 dari 20 anggota ekonomi APEC termasuk dalam 20 investor terbesar Indonesia.

Ketika Indonesia memimpin APEC 2013, berarti Indonesia juga menjadi daya tarik  perekonomian dunia,  mengingat APEC menguasai 56 persen PDB dunia, 39,8 persen penduduk dunia, dan total PDB 2011  berkisar USD38,9 triliun.

Momentum APEC 2013 Harus dimanfaatkan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada KTT APEC di Vladivostok, Rusia, tahun 2012 telah menyampaikan tema yang akan diusung oleh Indonesia pada Keketuaan tahun 2013, yaitu “Resilient Asia Pacific; Engine of Global Growth”.

Dalam Pengantar Rapat Terbatas membahas Persiapan KKT APEC 2013, pada Selasa (25/6/2013) di  Bali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyo kembali menegaskan perlunya dukungan semua pihak untuk menyukseskan perhelatan KTT APEC 2013 baik dari sisi substansi maupun teknis penyelenggaraan.

Presiden menegaskan,  dunia tengah mengalami resesi. Krisis di sana sini masih terjadi. APEC harus bisa berbuat yang nyata untuk memastikan bahwa ekonomi jajaran APEC disamping memiliki ketahanan yang lebih tinggi (resilience) juga menjadi engine (mesin pertumbuhan) bukan hanya di kawasan tetapi juga di dunia. 

Mendasar pada tema besar yang telah ditetapkan dalam APEC 2013,  Indonesia ingin mewujudkan suatu kawasan Asia Pasifik yang terus bertumbuh kuat, berketahanan, gigih, dan cepat pulih dalam menghadapi dampak krisis ekonomi global.  Dengan mewujudkan visi ini, diharapkan Asia Pasifik dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi dunia.

Resilience adalah kata kunci dari tahun keketuaan Indonesia, hal ini setidaknya mengacu kepada tiga prioritas utama yang akan dicapai, yakni:

Pertama, Attaining Bogor Goals (mewujudkan dan mendukung pencapaian Bogor Goals). Prioritas ini ditujukan untuk menjawab tantangan proteksionisme sekaligus memenuhi komitmen para Pemimpin APEC dalam mewujudkan kawasan dengan perdagangan dan investasi yang lebih bebas dan terbuka. 

Kedua, Achieving Sustainable Growth with Equity (pencapaian pertumbuhan yang berkelanjutan dan merata). Melalui prioritas ini Indonesia ingin menekankan bahwa upaya penciptaan kesejahteraan dan pemerataan hasil pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat, tidak cukup hanya melalui liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi saja, tetapi juga harus melalui upaya-upaya untuk menciptakan suatu pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Ketiga, Promoting Connectivity (memperkuat atau meningkatkan konektivitas). Prioritas ini diarahkan untuk dapat meningkatkan kinerja ’mesin’ perekonomian nasional dan kawasan melalui tiga hal, yaitu: perbaikan tingkat konektivitas antara pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan; penyebaran moda-moda perdangangan; dan peningkatan arus pergerakan manusia pada tingkat nasional dan regional.

Seluruh rangkaian pertemuan APEC di tahun 2013 harus dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan  peran aktif Indonesia di dalam memajukan arsitektur ekonomi regional, memanfaatkan integrasi ekonomi kawasan bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan investasi, dan ekspor Indonesia, mempromosikan potensi perdagangan, investasi, pariwisata, agar dapat memberikan manfaat dan diarahkan pada upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Momentum APEC mendatang seyogyanya dapat pula ditransformasikan bagi kemajuan ekonomi Indonesia,  dengan memanfaatkan bergesernya konstelasi mesin pertumbuhan ekonomi dari kawasan Amerika Eropa ke kawasan Asia Pasific akibat dampak krisis global, yang membawa dampak turunan semakin terbukanya ekonomi negara-negara kawasan Asia Pasific.

Hal ini  tentu saja  memberikan harapan positif bagi kemajuan Indonesia apabila dapat memanfaatkan keuntungan dari liberalisasi perdagangan (gain from trade), Indonesia setidaknya dapat memanfaatkan peluang dengan meningkatkan volume perdagangan internasional, mengingat selama ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didorong oleh tingkat konsumsi.

Keketuaan Indonesia pada APEC 2013 akan dapat memberikan keuntungan lain bagi Indonesia,  dengan posisi sebagai ketua akan menentukan  pembahasan agenda, yang harus dapat diupayakan optimal untuk memberikan keuntungan kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia, mengingat pada masa mendatang Indonesia tidak hanya akan menjadi basis produksi, tetapi juga basis konsumsi dan  pasar yang sangat potensial dengan 250 juta penduduk.  

Indonesia juga harus memperkuat supply side agar pasar domestik Indonesia dapat diisi produk-produk buatan dalam negeri, dan tidak didominasi oleh produk impor, kuncinya bagaimana meningkatkan daya saing produk dan efesiensi  sehingga dapat bersaing dengan produk impor.

Dengan semakin  terintegrasinya kawasan Asia Pasifik dan kawasan lain, peningkatan kemampuan adaptasi (adaptive capacity) untuk merespons setiap sentimen negatif  menjadi suatu keniscayaan agar survive dalam kancah percaturan ekonomi global.

Hal ini sangat diperlukan agar dapat  terus diupayakan peningkatan kemampuan nasional untuk tetap menjaga defisit fiskal pada posisi aman, pembangunan inklusi, proteksi sosial, terkendalinya inflasi, dan terjaganya stabilitas sosial-politik.

Pembangunan nasional perlu terus dikawal agar terus diupayakan peningkatannya dan diarahkan tidak hanya bertumpu atas keberpihakan industri besar tetapi juga industri mikro, kecil, dan menengah  sehingga dapat menjadi model pembangunan di kawasan Asia Pasifik.

Disisi lain pengembangan  capacity bulding dan inovasi produk perlu terus ditingkatkan, yang tidak hanya bicara hal-hal berkaitan dengan freetrade semata,  capacity building dan inovasi produk sangat dibutuhkan agar terjadi keseimbangan perdagangan (balance of trade).

Integrasi ekonomi dalam APEC  sangat berpotensi untuk  menghasilkan kemajuan ekonomi tetapi juga adverse impacts bagi kalangan tertentu seperti UKM, pebisnis pemula, oleh sebab itu integrasi ekonomi harus dibarengi upaya mengatasi 'adverse impacts' agar ekonomi APEC dapat lebih resilient menghadapi tantangan dan pembangunan dapat bersifat sustainable.

Kapasitas Indonesia sebagai ketua APEC kelak akan dihadapkan pada sejumlah isu penting, seperti peningkatan perdagangan regional yang terbuka, penguatan peran APEC dalam investasi, pengupayaan sustainable growth with equity, dan penguatan ketahanan ekonomi regional, antara lain melalui pembangunan konektivitas.

Dengan keketuaan Indonesia pada APEC 2013, diharapkan dapat dikedepankan upaya memajukan kepentingan nasional dengan mengusung inisiatif mendorong investasi infrastuktur, memastikan bahwa perdagangan international tetap terbuka bagi ekspor Indonesia, memperkuat kesiapsiagaan bencana, memperkuat peran UKM dan wanita dalam kegiatan ekonomi, serta mengarusutamakan isu-isu kelautan.

Untuk itu, peningkatan dukungan,  kesatupaduan langkah dan rencana aksi kongkrit  dari berbagai pemangku kepentingan,  menjadi suatu keniscayaan, agar implementasi pada tataran teknis dapat dijamin memberikan efek balik terhadap capaian visi besar pembangunan ekonomi Indonesia.

Diharapkan seluruh  pemangku kepentingan dapat meningkatkan sinergitas dan optimalisasi kapabilitas koordinasi,  guna memanfaatkan momentum APEC 2013  dalam berkonstribusi membangun daya tahan terhadap krisis,  sekaligus memanfaatkan perubahan konstelasi ekonomi global demi kejayaan ekonomi Indonesia.  Orang yang gagal selalu mencari jalan untuk menghindari kesulitan,  orang yang sukses selalu mencari jalan untuk menggapai kesuksesan.  Semoga...

*) Penulis adalah Asisten pada Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan