Kamis, 22 September 2011 - 12:10 WIB
Politik Makin Hangat, SBY Ingatkan Pejabat Harus Fokus Pada Rakyat
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 2285 kali



Situasi politik nasional pada tahun 2012 mendatang diperkirakan akan semakin hangat dan relatif panas seiring dengan makin dekatnya penyelenggaraan pemilihan umum pada tahun 2014. Menyikapi hal ini Presiden Susilo Bambang (SBY) meminta dan menginstruksikan kepada seluruh pejabat pemerintah baik di pusat maupun di daerah, untuk tetap fokus bekerja keras menyukseskan pembangunan demi kepentingan rakyat.

Instruksi Kepala Negara itu disampaikan saat memberikan sambutan pada pencanangan Candi Muaro Jambi sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu, di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Kamis (22/9) pagi. 

Kepala Negara hadir didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono, dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II seperti Mendagri Gamawan Fauzi, Mendiknas Muhammad Nuh, Mensesneg Sudi Silalahi, Menbudpar Jero Wacik, Seskab Dipo Alam, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Menhut Zulkifli Hassan, Menteri Koperasi UKM Syarifuddin Hassan, dan Menpora Andi Malarangeng.

Presiden mengingatkan, jajaran pemerintah tidak boleh larut apalagi lalai menjalankan tugasnya karena alasan harus ikut politik menuju pemilihan umum 2014. Kalau ada misi-misi politik, jelas Presiden, bisa diatur dengan baik tanpa harus meninggalkan tugas pokoknya.  

“Ingat kita semua yang namanya Presiden dan Wakil Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota itu dipilih langsung oleh rakyat, dengan harapan para pemimpin itu memfokuskan pikiran, waktu dan tenaganya untuk melaksanakan pembangunan bagi rakyat,” jelas SBY.

Semua pemimpin negara, lanjut Presiden, menjalankan amanat rakyat itu, menjalankan mandat rakyat untuk melaksanakan tugas-tugas pembangunan.  Karena itu, Presiden mengajak jajaran pemerintah untuk lebih fokus menjalankan tugas-tugas pemerintahan. “Tidak dilarang untuk ikut misi-misi politik, tapi tolong saudara bisa memprioritaskan, mana yang tidak boleh ditinggalkan  manakala kita harus melayani rakyat kita,” tutur SBY.

Menurut Presiden, arah dan agenda pembangunan nasional hingga tahun 2014 tetap terfokus pada 3 (tiga) pilar yang utama, yaitu pertama meningkatkan pembangunan ekonomi berbagai sektor, di segala bidang, dan di seluruh wilayah Indonesia untu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kedua, membangun demokrasi yang lebih matang, yang lebih membawa manfaat bagi rakyat, dan mengembangkan peradaban demokrasi yang berkualitas. Dan yang ketiga adalah menegakkan hukum dan keadilan, termasuk  upaya untuk melanjutkan pemberantasan korupsi.

“Tiga agenda inilah yang harus terus kita intensifkan di tahun-tahun mendatang,” tegas Presiden.

Dalam kaitan itu,  kata Presiden, Pemerintah Pusat telah menetapkan sebuah rencana induk atau masterplan untuk melakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi di seluruh Indonesia atau yang dikenal dengan MP3EI. Masterplan ini membagi wilayah Indonesia dalam enam koridor, yaitu koridor Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, dan Papua dan Maluku, dan masing-masing koridor memiliki zona-zona dan klaster-klaster pembangunan ekonomi.

Presiden optimistis jika semua pihak menjalankan MP3EI ini dengan sungguh-sungguh sampai tahun 2025, maka Indonesia akan sangat berubah. Ekonomi kita akan sangat kuat, yang selanjutnya diharapkan akan meurunkan angka kemiskinan dan juga pengangguran.

“Investasi akan menjadi motor penggerak dari MP3EI ini. Kalau saudara bupati, walikota dan gubernur ingin betul-betul investasi di daerahnya makin berkembang, maka bikinlah peraturan-peraturan daerah yang mendukung berkembangnya ekonomi dan investasi. Ciptakan situasi yang baik, kondisi politik yang stabil, keamanan dan ketertiban masyarakat yang baik, infrastruktur yang main baik, dan pelayanan publik yang makin baik,” pinta Presiden. 

Kalau itu dilaksanakan, Presiden meyakini investasi akan berkembang, dan dunia usaha makin berkembang. Kondisi ini pada tahan selanjutnya akan membawa dampak lanjutan bagi penyediaan lapangan kerja untuk terus, dan berkurangnya angka kemiskinan.

(AK, TS, humaslem, ES)