Rabu, 25 Januari 2012 - 13:54 WIB
Bertemu Penggiat Anti Korupsi, Presiden Bantah Kong Kalikong
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 1842 kali


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengemukakan, meskipun dalam beberapa forum talkshow suara para pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan penggiat anti korupsi amat keras, bahkan kadang kalimatnya galak-galak, namun dalam banyak hal justru kritik dan usulan yang mereka sampaikan pada forum yang tepat itu menjadi lebih efektif.

Saat bertemu dengan pimpinan LSM dan penggiat anti korupsi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (25/1), Presiden menegaskan bahwa bangsa ini adalah bangsa kita sendiri. Masa depan Indonesia adalah masa depan kita sendiri, jadi akan bagus kalau Pemerintah, LSM dan penggiat anti korupsi punya hubungan kritis, tidak kolutif, tetapi tujuannya sama, golnya sama, yaitu meningkatkan kinerja negara dan bangsa dalam upaya memberantas korupsi.

“Rakyat tahu bahwa para pimpinan NGO anti korupsi, para pegiat anti korupsi juga aktif menyampaikan kritik, pandangan dan usulannya kepada penegak hukum. Ini juga akuntalibitas pada rakyat, demikian juga kami ingin juga akuntabilitas bahwa kita sungguh ingin pemberantasan korupsi yang makin efektif,” ujar Kepala Negara.

Presiden yang didampingi Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin, Ketua UKP4 Kuntoro Mangkusubroto, Kapolri Jendral Timur Pradopo dan Jaksa Agung Basrief Arief, mengaku menyimak betul evaluasi akhir tahun 2011 dan juga termasuk refleksinya, dan juga evaluasi yang muncul pd akhir tahun, tentg kemarahan, ketidaksabaran dan kritik masyarakat menyangkut  masih adanya korupsi di negeri kita.

“Saya menerima kritik, saya bisa memahami kemarahan atau ketidaksukaan rakyat itu. Harapan saya yang lain juga bisa menerima, jajaran penegak hukum saya untuk menjadi cambuk bagi kita semua untuk berbuat lebih banyak lagi di tahun ini dan tahun-tahun mendatang,” tutur Kepala Negara.

Namun Presiden mengingatkan, sesungguhnya dalam 7 (tujuh) tahun terakhir ini setelah kita mengalami masa-masa sulit dulu di awal krisis dan awal reformasi tahun 1998 – 2002, banyak yang sudah kita hasilkan karena kerja keras seluruh elemen bangsa.

Ia menunjuk contoh  ekonomi yang akhirnya bisa keluar dari krisis, tumbuh berkembang dan punya korelasi dengan peningkatan kesejahteraan rakyat. Situasi politik yang dulu sangat tidak stablil berangsur-angsur menjadi lebih stabil, keadaan sosial yang dulu penuh benturan di seluruh Indonesia berangsur-angsur mulai pulih, konflik komunal di Poso, Maluku, Maluku Utara dengan korban ribuan orang, bisa diatasi dan situasinya hampir pulih dan normal, dan Aceh yang dulu masih bisa diselesaikan, dan banyak lagi capaian lainnya.

Meski demikian, diakui Presiden masih banyak yang belum berhasil kita selesaikan. Masih ada pekerjaan rumah (PR) dan hal-hal yang tidak bisa dibiarkan, antara lain birokrasi yang masih bermasalah di banyak tempat, korupsi sendiri, masih terjadi juga konflik komunal, kekerasan-kekerasan horisontal, anarkhi yang tidak boleh hukum tidak ditegakkan disitu. Lantas juga infrastruktur karena ekonomi dulu kita hancur, kita kurang banyak dan sekarang kita percepat untuk menghadirkannya.

“Itulah balace sheet, plus dan minus, dan forum ini sangat tepat karena kita menyentuh sesuatu yang paling esensial, raport merah kita selama tahun-tahun terakhir ini, banyak yang harus kita bikin biru di waktu yang akan datang,” ungkap Presiden mengenai pertemuannya dengan pimpinan LSM dan penggiat anti korupsi itu.

Kepala Negara menegaskan, pertemuan dengan pimpinan LSM dan penggiat anti korupsi itu bukan kolusi, tapi harus dibangun satu kolaborasi, kebersamaan untuk menngefektifkan pencegahan korupsi. Karena itu, pertemuan tersebut harus terbuka.

“Keutamaan pertemuan seperti ini. Jangan dicurigai, jangan-jangan ini kongkalikong, tidak ada kongkalikong kalau untuk pemberantasa korupsi,” ucap Kepala Negara.

(humaslem, es)