Rabu, 21 Maret 2012 - 16:17 WIB
Presiden: Indonesia dan Timor Leste Berbagi Sejarah Panjang
Oleh : DESK INFORMASI
- Dibaca: 2357 kali



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, bahwa hubungan antara Indonesia dan Timor Leste menawarkan beberapa pelajaran berguna bagi perdamaian. Indonesia dan Timor Leste berbagi sejarah panjang yang kurang baik dan memiliki beban historis yang sulit. Tapi itu tidak menghentikan kedua negara untuk menempa masa depan yang secara fundamental berbeda dari masa lalu dan lebih baik.

“Kami mengerti akan permasalahan tersebut, maka kita duduk bersama-sama dengan niat baik, dan menemukan solusi yang lebih pragmatis,” kata Presiden SBY saat menjadi keynote speaker pada “The 2nd Jakarta International Defense Dialogue (JIDD)”, di Jakarta Convention Center, Rabu (23/3).

Dalam acara yang dihadiri oleh Sekjen PBB Ban Ki Moon dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao dan mantan Presiden Filipina Fidel Ramos itu, Presiden SBY menyebutkan, Indonesia dan Timur Leste kini memiliki kerjasama perbatasan bersama, dan hubungan antara TNI dan FDTL yang sangat baik, sehingga Indonesia dan Timor Leste diberkati dengan salah satu hubungan terkuat antara tetangga di Asia Tenggara.  Dengan demikian, tidak hanya membuat perbatasan yang damai, namun juga membuat daerah yang lebih stabil dan dunia sedikit lebih aman.

Presiden SBY secara langsung menyampaikan pujiannya atas kehadiran PM Timor Leste Xanana Gusmao, yang juga telah menghadiri JIDD pertama tahun kemaren. “Saya sangat mengapresiasi atas kesempatan untuk bekerja dengan dekat dengan Perdana Menteri selama beberapa tahun ini,” jelas Presiden.

ASEAN

Menyinggung hubungan bilateral negara-negara ASEAN, Presiden SBY memberikan penjelasan bahwa hubungan bilateral negara di Asia Tenggara semakin kuat. Dengan demikian, wilayah ASEAN sekarang dikaruniai keadaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu stabilitas perdamaian dan kerjasama.

“Berbeda dengan situasi dekade yang lalu, hari ini tidak terdapat konflik di Asia Tenggara. Wilayah ASEAN tidak lagi terpecah, namun bersatu sebagai "ASEAN 10", berjuang menuju Komunitas ASEAN,” tegas SBY.

Struktur perdamaian yang dapat bertahan lama, jelas Kepala Negara, harusnya tidak hanya di Asia Tenggara. Itulah sebabnya ASEAN mendorong keras, tahun lalu di Bali, untuk 18 negara di KTT Asia Timur yang telah menyepakati Declaration on the Principles for Mutually Beneficial Relations. Deklarasi Prinsip-prinsip ini tidak mengikat secara hukum namun mengikat secara moral. Ini termasuk menghormati hukum internasional, hak asasi manusia, penyelesaian damai sengketa, penggunaan menyangkal kekuatan terhadap negara lain, dan menghormati integritas wilayah.

Sementara itu Sekjen PBB Ban Ki Moon dalam pidatonya menyatakan, bahwa JIDD II adalah pertemuan langka dimana para petinggi dunia bidang pertahanan berkumpul bersama untuk berdialog.

Berbagai kejadian politik terjadi di tahun lalu, jelas Ban Ki Moon,  seperti Arab Spring, revolusi Libia, kekerasan di Siria dan upaya perdamaian di beberapa negara lainnya telah melahirkan keinginan untuk membentuk dasar politik global di tahun mendatang.

“Tantangan untuk menjaga perdamaian dan keamanan di abad 21 ini, dan bagaimana kita bekerjasama untuk mewujudkannya,” tutur Sekjen PBB.

Belajar dari konflik horizontal di sejumlah kawasan yang menelan korban jiwa dalam jumlah besar di kalangan masyarakat sipil, Sekjen PBB Ban Ki Moon menilai, menggunakan angkatan bersenjata untuk menyelesaikan konflik bukan pilihan pertama. “Kita harus lebih bertanggungjawab untuk melindungi masyarakat sipil sebagai keputusan yang bijaksana,” pesan Sekjen PBB.

Acara pembukaan JIDD II itu selain dihadiri oleh sejumlah Menteri Pertahanan dari negara-negara sahabat, juga dihadiri oleh sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, di antaranya Menlu Marty Natalegawa, Mensesneg Sudi Silalahi, Menko Polkam Djoko Suyanto, Seskab Dipo Alam, Kapolri Jendral Timur Pradopo, dan Gubernur DKI Fauzi Bowo.

(TA, KK, ES)