Jumat, 04 Mei 2012 - 09:05 WIB
Ekspor Bahan Mentah Tambang Mineral Kena Bea Keluar 20%
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 1600 kali



Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyatakan, bahwa ekspor bahan mentah 14 tambang mineral sesuai Undang-Undang Minerba baru akan diberlakukan efektif tahun 2014 mendatang. Dalam persiapan menuju waktu larangan dilaksanakan secara efektif, maka Pemerintah menyusun tahapan dengan mengeluarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2012, agar para petambang mineral membuat smelter di Indonesia.

“Kepmen. No.7 itu tujuannya adalah mendorong para pengusaha tambang untuk membuat smelter. Jadi jangan tanah digaruk terus langsung diekspor begitu saja. itu dilarang nanti 2014. Dalam rangka itu kita mempersiapakan,” kata Jero Wacik yang didampingi Menko Perekonomian Hatta Rajasa kepada wartawan seusai Rapat Terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (3/5) petang.

Jero mengakui bahwa ketentuan mengenai larangan ekspor bahan mentah tambang mineral sempat ditanggapi kurang pas oleh sejumlah pengusaha. Tapi setelah djelaskan dengan KADIN, HIPMI, dan para pengusaha tambang, setelah mereka mengerti tujuannya.

“Tujuannya tidak mungkinlah pemerintah mau mematikan perusahaan, kita kan kerja sama. Jadi karena itu maka  Kepmen No.7 itu, tanggal 6 Mei nanti tidak boleh lagi ada orang yang mengekspor barang mentah kecuali dia menyampaikan road map untuk buat smelter,” jelas Jero.

Dalam rangka persiapan tanggal 6 Mei itu, lanjut Menteri ESDM, Rabu (2/5) lalu telah dilaksanakan rapat yang dipimpin oleh Menko Perekonomian, dihadiri oleh Menteri ESDM, Menteri Perindustrian, Menbteri Perdagangan, Menteri Keuangan, dan juga Meneg BUMN. Keputusannya adalah mulai tanggal 6 akan dikeluarkan Kepmen yang baru, yang isinya adalah agar para petambang tetap tenang, boleh mengekspor dengan syarat akan dikenakan bea keluaran.

“Angkanya sedang dihitung kira-kira sekitar yang mereka sudah terima, katanya para petambang itu daripada kemungkinan  tanggal 6 saya larang ekspornya. Benar-benar dilarang, itu mereka keberatan. Kemudian setelah diterangkan akhirnya oke, agara terjadi dorongan untuk membuat smelter maka kita akan keluarkan bea keluaran itu rata-rata 20% dari 14 logam mineral,” papar Jero Wacik.

Empat belas logam itu adalah tembaga, emas, perak, timah, timbal dan seng, kromium, molybdenum, platinum, bauksit, bijih besi, pasir besi, nikel dan atokobal, mangan dan antimon.

Menteri ESDM menegaskan, bahwa terhitung 2014 nanti ke-14 tambang mineral itu tidak boleh lagi diekspor mentah. Karena itu, saat ini semua perusahaan yang mengerjakan tambang itu diminta mengajukan rencana untuk membuat smelter.

“Kalau tambangnya kecil nggak usah sendiri. Jadi mungkin tiga empat tambang membuat satu smelter sehingga tujuannya agar kita mendapat nilai tambah. Jadi kalau satu smelter dibangun akan banyak pekerja disitu sehingga ada proses awal disitu,” tutur Jero.

Nantinya jika sudah jadi semi finish, barulah boleh diekspor bertahap, sehingga pada akhirnya bisa sampai tahapan finish. “Jadi barang akhir itu adeed value-nya tinggi sekali. Ini tujuannya sudah tertuang dalam UU Minerba yang harus kita laksanakan dan itu berlaku nanti mulai tahun 2014,” ucap Menteri ESDM.

Over Ekspolitir

Sebelumnya Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyesalkan banyaknya pengusaha tambang mineral yang lalai membayar pajak, lalai membayar royalti, sehingga ini mau tidak mau harus dilakukan pengendalian.

“Ini adalah perintah UU, UU Minerba, dimana 2014 semua sudah harus melalui proses di dalam negeri. Kita tidak ingin proses tahun 2014 dari sekarang terjadi over eksploitir, produksi berlebihan sehingga merusak lingkungan dan merugikan masa depan daripada sumber mineral kita,” katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Menko Perekonomian, perlu ada satu tata niaga, perlu ada pengendalian yang ini dilakukan sesuai dengan perintah UU.

(Humaslem, ES)