Kamis, 10 Mei 2012 - 11:14 WIB
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PELUNCURAN ASIA PACIFIC HUMAN DEVELOPMENT REPORT (APHDR) 2012 Jakarta, 10 Mei 2012
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 1883 kali


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,
Peace be upon us,

Yang saya hormati para Pimpinan Lembaga Negara dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II,
Yang Mulia para Duta Besar dan Perwakilan Negara Sahabat,Yang Mulia Bapak Ajay Chhibber, UN Assistant Secretary-General, Assistant Adminis-trator of the United Nations Development Pro-gramme (UNDP),
Yang saya hormati para Pimpinan Organisasi Internasional, para Akademisi, dan Perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat dari dalam negeri maupun dari negara-negara sahabat,

Hadirin sekalian  yang saya muliakan,

Kita bersyukur, pada hari ini dapat  menghadiri Peluncuran Asia Pasific Human Development Report (APHDR) 2012 dengan judulOne Planet to Share: Sustaining Human Progress in a Changing Climate  dari The United Nations Development Programme (UNDP). Negara kita mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah dalam peluncuran laporan yang diperuntukkan bagi kawasan Asia Pasifik.  Peluncuran ini selanjutnya akan diikuti di India dan Republik Rakyat Tiongkok, yang diperuntukkan bagi negaranya masing-masing.

Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini, untuk menyampaikan ucapan   selamat datang kepada para perwakilan negara sahabat, para pimpinan organisasi internasional, para akademisi, serta perwakilan lembaga swadaya masyarakat, yang hadir pada acara yang penting ini.

Hadirin yang saya hormati.

Laporan UNDP tahun 2012 ini berisi gambaran lengkap tentang situasi indeks pembangunan manusia di Asia Pasifik.  Laporan ini menunjukkan kepada kita, pengaruh perubahan iklim terhadap kemajuan pembangunan dan terhadap kesejahtera-an rakyat, baik yang ada di perdesaan maupun di perkotaan.

Informasi dalam laporan itu menyebutkan, bahwa tantangan terbesar yang kita hadapi bersama saat ini adalah mengentaskan sekitar 900 juta umat manusia di Kawasan Asia Pasifik dari kemiskinan, di tengah berlangsungnya perubahan iklim. Tantangan besar itu tentu menjadi semakin berat, manakala solusi pengentasan kemiskinan tidak hanya dihadapkan pada dampak besar perubahan iklim, tetapi juga pada kondisi ekonomi global yang melemah dan penuh dengan ketidakpastian. 

Negara kita bersama negara-negara di dunia, terus bekerja keras menjalankan tugas  mulia dalam mengelola dampak perubahan iklim.  Tugas itu merupakan bagian dari tugas kemanusiaan yang harus dijalankan secara bersama-sama, seperti halnya dengan perubahan iklim yang tidak mengenal batas-batas negara. 

Saudara-saudara,

Peluncuran laporan Asia Pasific Human Development Report (APHDR) 2012 ini saya nilai tepat waktu, di tengah kondisi kawasan yang berubah dalam berbagai aspek sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan.

Pertama, kita masih dihadapkan pada perlambatan ekonomi dunia, yang tentunya berdampak pada agenda pembangunan nasional Negara-negara di dunia, termasuk pencapaian Millennium Develop-ment Goals.

Kedua, populasi dunia telah melewati angka 7 milyar orang, di mana 4.1 milyar hidup di kawasan Asia Pasifik.  Semuanya tentunya memerlukan kebutuhan pokok yang mencukupi.

Ketiga, pola konsumsi dan produksi masih belum pada posisi yang berimbang dan belum berkelanjutan. Laporan UNDP ini menunjukkan bahwa kita menggunakan 50 persen lebih banyak sumberdaya, dibandingkan yang kita gunakan 25 tahun yang lalu. Penggunaan sumberdaya inipun dinilai masih belum merata antar negara.  Kondisi ini tentunya memberi tekanan besar kepada sumberdaya alam dan lingkungan kita, serta memperparah dampak perubahan iklim.

Keempat, keterkaitan antara aktivitas manusia dengan perubahan iklim semakin tidak terbantah-kan.  Intensitas dan skala aktivitas manusia yang terus meningkat, telah mengakibatkan emisi gas rumah kaca yang melebihi kemampuan alam untuk menanggungnya.

Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Perubahan iklim menjadi tantangan nyata bagi kehidupan manusia di kawasan ini.  Sebagaimana disebutkan dalam laporan UNDP ini, masyarakat yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim adalah mereka yang tinggal di daerah pegunungan, delta sungai, dan pesisir pantai yang rendah.   Meskipun kontribusi mereka kepada pemanasan global relatif kecil, namun mereka menghadapi ancaman yang besar, terutama dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Kelompok masyarakat ini pada akhirnya berada pada golongan indeks pembangunan manusia yang juga relatif rendah. 

Dengan demikian, kawasan Asia Pasifik adalah tempat tinggal bagi populasi yang paling rentan dan yang paling sensitif terhadap dampak perubahan iklim.  Situasi menjadi semakin buruk saat bencana alam semakin sering terjadi.  Dalam tiga dasa warsa terakhir, 45 persen bencana alam di dunia terjadi di kawasan ini. 

Walaupun kawasan Asia Pasifik menghadapi berbagai tantangan, syukur Alhamdulillah, kawasan ini telah menunjukkan daya tahannya, terutama dalam menghadapi gejolak ekonomi dunia.  Dengan disiplin dan kemauan politik yang kuat, kawasan ini tetap mengalokasikan sumberdaya yang dibutuhkan untuk dapat terus tumbuh dan mengurangi kemiskinan. 

Dengan kerja keras dan kerjasama, kita yakin dapat semakin memperkecil kesenjangan pemba-ngunan, baik antar daerah maupun antar negara di kawasan ini. Jika kita berhasil, dan harus berhasil, maka kawasan ini dapat mengambil peran penting dalam upaya umat manusia menanggulangi dampak perubahan iklim.

Hadirin yang saya hormati,

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin berbagi pengalaman dalam mengelola dampak perubahan iklim.  Sebagai negara ketiga terbesar di kawasan Asia Pasifik---setelah Republik Rakyat Tiongkok dan India---kami mengedepankan pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup. 

Indonesia memiliki Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang ini secara tegas mengamanatkan internalisasi aspek lingkungan hidup, dalam berbagai ranah pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pemanfaatan sumber daya alam untuk menggerakan per-tumbuhan ekonomi, kita jalankan dengan tidak mengorbankan daya dukung, daya tampung, dan produktivitas lingkungan.

Indonesia terus mencari keseimbangan yang tepat antara kepentingan pembangunan ekonomi dengan kepentingan pelestarian lingkungan hidup.  Pada tahun 2005, saya perkenalkan tiga pilar strategi pembangunan sosial-ekonomi yaitu pro-growth, pro-poor, dan pro-job. Kemudian, sejak tahun 2007 kami tambahkan lagi pro-environment.  Berbagai kebijakan pemerintah yang dilandaskan pada keempat pilar ini, yang sejatinya adalah “sustainable growth with equity.

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Dalam beberapa tahun terakhir ini  pemerintah   telah menerapkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang lingkungan, yang harus dipenuhi  oleh setiap Pemerintah Daerah pada pengelolaan pembangunan ekonomi di daerahnya masing-masing.  Kita gulirkan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Lingkungan Hidup kepada Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota, untuk dimanfaatkan bagi pemantauan dan pengendalian pencemaran lingkungan di daerah  masing-masing.

Sementara itu, dalam upaya mempercepat penurunan emisi karbon, sejak tahun 2010 kita laksanakan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 2020.  RAN GRK 2020 ini saya tetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 61 tahun 2011, sebagai pedoman dalam pengelolaan semua sektor pembangunan, baik di tingkat pusat maupun di daerah.

Secara khusus, untuk mengurangi emisi karbon yang berasal dari pengelolaan sumber daya hutan, kita terapkan skim Reducing Emission from Deforestation and Degradation Plus (REDD +) di seluruh pelosok tanah air, melalui pelaksanaan Strategi Nasional REDD+. Berbagai instrumen REDD+ yang meliputi kelembagaan, mekanisme pendanaan, serta sistem untuk pengukuran, pelaporan dan verifikasi---measurement, reporting,  and verification (MRV)---terus kita sempurnakan. Saya gembira, pelaksanaan skim REDD+ telah  diapresiasi UNDP dan dijadikan sebagai salah satu Indonesian Specific Highlights pada laporan tahun 2012 ini.

Saudara-saudara,

Pada lingkup pembangunan perkotaan, kita minimalkan dampak aktivitas pembangunan dan perubahan iklim. Sejak beberapa tahun terakhir ini,   kita galakkan kembali Program Kali Bersih (PROKASIH) dan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER). Pemerintah juga mendorong efisiensi penggunaan energi oleh rumah tangga dan industri, serta peningkatan pemanfaatan sumber energi terbarukan.  Mulai bulan Juni mendatang, insya Allah gerakan nasional penghematan energi ini akan kita tingkatkan lagi.

Sebagaimana kita ketahui bersama, perubahan iklim membawa dampak buruk bagi kehidupan sosial ekonomi rakyat. Perubahan iklim juga merusak infrastruktur, mengacaukan jalur logistik, dan menurunkan produktivitas sumberdaya lahan dan air. Dalam kaitan itu, Indonesia telah merumuskan road map bagi pembangunan masyarakat yang memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim.

Di daerah perdesaan, kita lakukan berbagai upaya untuk mencegah dampak buruk perubahan iklim terhadap produksi pertanian. Bagian dari upaya tersebut antara lain adalah menjaga distribusi benih, pupuk, dan obat-obatan agar tanaman kita tetap terjaga baik.  Akses petani terhadap kebutuh-an berbagai sarana produksi harus terpenuhi dengan tepat waktu, tepat jumlah, tepat kualitas, dan dengan harga yang terjangkau.  Bimbingan teknis dan penyuluhan kepada petani terus digiatkan, agar petani juga mampu mengantisipasi perubahan iklim yang berdampak pada tanamannya.

Yang tidak kalah pentingnya, kita ajak masyarakat untuk lebih memahami prinsip pengelolaan pembangunan yang bertanggung-jawab. Kita tanamkan rasa tanggungjawab pada pelestarian daya dukung ekosistem, dan perbaikan kualitas ling-kungan hidup.  Kita gagas kegiatan penanaman dan pemeliharaan pohon, yang dimulai di Kabupaten Bogor pada tahun 2007 dan alhamdulillah terus berlanjut hingga kini. Melalui gerakan nasional, setiap tahunnya Indonesia menanam 1 milyar pohon.

Saudara-saudara,

Pada tataran global, Indonesia terus terlibat aktif dan berinisiatif pada pengelolaan pembangunan yang berkelanjutan. Indonesia senantiasa berpartisipasi pada setiap pertemuan United Nation Framework on Climate Changes.

Pada konferensi global di Rio de Janeiro bulan Juni mendatang, kita yang ada di kawasan Asia Pasifik terpanggil untuk menyumbangkan ide-ide praktis yang berkenaan dengan pembangunan berkelanjutan.  Laporan UNDP yang kita luncurkan ini melengkapi kita dengan pengetahuan yang lebih baik, tentang masalah-masalah pembangunan berkelanjutan yang dihadapi kawasan Asia Pasifik, serta cara praktis untuk mengatasi masalah tersebut.

Dalam rangka peningkatan kerjasama internasional untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, Sekretaris Jendral PBB, Mr. Ban Ki-moon, mengundang saya bersama-sama Perdana Menteri Inggris, David Cameron, dan Presiden Johnson-Sirleaf dari Liberia, untuk menjadi co-chair a High-level Panel of Eminent Persons. Panel ini akan memberikan pandangan dan nasehat kepada Sekretaris Jendral PBB untuk mengatasi tantangan pembangunan global yang dapat menghambat pencapaian MDGs.  Juga untuk merumuskan kerangka kerjasama internasional dan agenda baru pasca MDGs tahun 2015.

Panel diharapkan juga mampu merumuskan kerangka kerja yang holistik, yang bisa mengatasi masalah pembangunan secara mendasar.  Oleh sebab itu, kita semuanya diundang untuk ikut dalam upaya mencari jalan terbaik bagi pembangunan kesejahteraan umat manusia.

Hadirin yang saya hormati.

Dari apa yang saya kemukakan tadi, sekali lagi saya mengajak segenap komponen bangsa untuk  melanjutkan pengelolaan kegiatan pembangunan yang berwawasan lingkungan.  Mari kita  berikan perhatian besar pada upaya pengentasan kemiskin-an, melalui perbaikan akses rakyat pada fasilitas kesehatan dan pendidikan; serta perluasan akses rakyat pada kegiatan ekonomi yang menyejahtera-kan mereka.

Kepada para menteri terkait saya minta untuk menjadikan laporan UNDP tahun 2012 ini sebagai masukan konstruktif, untuk mendukung penajaman perumusan kebijakan di bidang tugas saudara masing-masing.

Kepada para akademisi, para perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat, serta para pemangku kepentingan pembangunan lainnya, saya mengajak saudara agar menjadikan laporan UNDP yang kita luncurkan pada hari ini, sebagai sumber referensi yang bermanfaat. Mari kita sukseskan program pemerintah pada peningkatan kualitas penanganan dampak perubahan iklim.

Akhirnya, dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT serta mengucapkan Bismillahir-rahmanirrahim, Laporan Asia Pacific Human Development Report (APHDR) 2012, dengan resmi saya luncurkan.

Terima kasih

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jakarta, 10 Mei 2012

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

 

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO