Selasa, 05 Juni 2012 - 21:43 WIB
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA TAHUN 2012 DAN PENCANANGAN TAHUN BADAK INTERNASIONAL 2012 Jakarta, 5 Juni 2012
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 2502 kali


Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Para Tamu Undangan, dan hadirin sekalian yang saya hormati,

Kita bersyukur, pada hari ini, dapat menghadiri Acara Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2012, yang dirangkaikan dengan Pencanangan Tahun Badak Internasional 2012. Sebagaimana kita ketahui bersama, Hari Lingkungan Hidup Sedunia, diperingati di berbagai belahan bumi, setiap tanggal 5 Juni.  Dan tahun ini, atas gagasan Presiden International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang didukung oleh 11 negara tempat sebaran badak dunia---termasuk Indonesia---sepakat untuk mencanangkan Tahun 2012 ini sebagai Tahun Badak Internasional.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia kita peringati    sebagai bentuk apresiasi negara kita atas  Deklarasi Stockholm pada tanggal 5 Juni 1972. Deklarasi yang juga telah diakui sebagai tonggak sejarah kesadaran masyarakat dunia, atas pentingnya penanganan dan pemeliharaan lingkungan hidup secara bersama.

Pada tahun 1992, para pemimpin dunia bertemu dalam KTT Bumi di Rio Janeiro, Brazil dan menghasilkan beberapa kesepakatan global antara lain, Kesepakatan Perubahan Iklim (UNFCCC), Kesepakatan Keanekaragaman Hayati  (UN CBD). Dalam dua minggu ke depan, saya akan menghadiri peringatan 20 tahun KTT Bumi di Rio. Saya juga sudah menyanggupi permintaan Sekjen PBB untuk berperan sebagai co-chairs High Level Eminent Persons yang akan membahas capaian Millenium Development Goals, dan tindak lanjut setelah 2015.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Pencanangan Tahun Badak Internasional menjadi tonggak sejarah kesadaran masyarakat dunia, tentang pentingnya komitmen, pandangan, dan prinsip bersama, untuk secara kolektif melindungi dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup umat manusia. Kita juga sepakat untuk melestarikan dan mencegah kepunahan badak yang hanya tersisa di 11 negara.

Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Tema yang diangkat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini—sebagaimana  ditetapkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP)—adalah Green Economy; Does It Include You?. Dan untuk negara kita, disesuaikan temanya menjadi “Ekonomi Hijau; Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan”. Tema ini saya nilai penting dan berorientasi masa depan, karena ekonomi hijau yang dimaksud disini adalah pembangunan untuk mencapai tiga sasaran besar yaitu, ekonomi terus tumbuh dan memberikan lapangan kerja serta mengurangi kemiskinan, tanpa mengabaikan perlindungan lingkungan, khususnya fungsi ekosistem dan keanekaragaman hayati, serta mengutamakan keadilan sosial.

          Prinsip ekonomi hijau tentu kita terapkan sesuai dengan karakteristik, kondisi, dan kebutuhan bangsa dan rakyat kita. Prinsip ekonomi hijau, insya Allah, juga kita gulirkan pada proses penetapan berbagai bentuk kebijakan, perencanaan dan program, di berbagai  sektor pembangunan ekonomi.

Sebagai wujud dari upaya itu, kita telah berinisiatif untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, pengelolaan hutan, laut dan pesisir secara lestari. Kita lanjutkan pengembangan energi bersih dan terbarukan yang ramah lingkungan.

Semua itu menjadi sangat penting untuk kita lakukan secara berkelanjutan karena beberapa alasan mendasar. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki 17.508 pulau dan garis pantai sepanjang 104.000 km. Kondisi geografisnya unik, karena terletak di antara Benua Asia dan Australia dan Samudera Pasifik dan Hindia.

Indonesia juga tercakup dalam dua alam biogeografis utama, yaitu Indomalaya dan Australasia, dengan Garis Wallace di antaranya, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Negeri ini merupakan negara megabio-diversity, negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat besar dan dengan tingkat endemik yang tinggi. Lebih dari sepuluh persen keaneka-ragaman flora dan fauna di muka Bumi hanya ditemukan di Indonesia, termasuk orangutan, gajah, harimau, badak, ribuan spesies burung, dan spesies tanaman.

Hutan kita merupakan rumah bagi 12 persen mamalia dunia, 16 persen spesies reptil dan amfibi, serta 17 persen spesies burung. Lebih dari 10.000 spesies pohon tercatat tumbuh di seluruh Nusantara. Masih banyak lagi spesies yang menunggu untuk ditemukan.

Perairan Nusantara yang luas---sekitar 3,1 juta km2--- menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi atau marine megadiversity. Tercatat kita memiliki  700 jenis rumput laut, 450 jenis karang batu, lebih dari 1.500 jenis moluska, dan lebih dari 2.000 jenis ikan.

Hadirin yang saya hormati.

Beragam kekayaan alam yang melimpah, dengan nilai keekonomian yang tinggi itu tentu  harus kita manfaatkan dengan mengedepankan asas manfaat dan lestari, asas kerakyatan, keadilan, kebersamaan, keterbukaan, dan asas keterpaduan, yang  dilandasi  tanggungjawab.

Saat ini fenomena perubahan iklim sudah menjadi ancamanan serius bagi ketahanan pangan dan keselamatan banyak warga dunia. Informasi terakhir mengenai konsentrasi gas karbondioksida di atmosfir telah mencapai  400 ppm (parts per million) di Kutub Utara.  Peningkatan konsentrasi tersebut akan meningkatkan suhu rata rata permuka-an bumi sebesar 3 derajat celsius. Sementara pada saat ini saja, kenaikan suhu permukaan bumi sebesar 1.9 derajat celsius telah menyebabkan berbagai bencana iklim, termasuk   kenaikan permukaan air laut yang telah menenggelamkan  24 pulau kecil selama periode 2005-2007.

          Dengan berbagai kejadian tersebut di atas, terbukti model pembangunan yang selama ini kita anut perlu diperbaiki, agar lebih kuat, lebih mampu bertahan terhadap gejolak pasar dunia, dan bersahabat dengan lingkungan.

          Perubahan model pembangunan ke arah Ekonomi Hijau ini sudah menjadi komitmen kita juga, yang tercermin dari rencana penurunan emisi Gas Rumah Kaca sebesar 26% sampai 41%, melalui pembangunan ekonomi rendah emisi karbon. Strategi pembangunan kita untuk mencapai ekonomi hijau adalah menjaga pertumbuhan ekonomi sebesar 6-7% sembari menurunkan emisi karbon sebanyak 26%, dari proyeksi emisi kita di tahun 2020.

Pendekatan pembangunan ekonomi tersebut merupakan lompatan besar bagi kita untuk meninggalkan praktek pembangunan ekonomi di masa lalu, yang mementingkan keuntungan jangka pendek tapi mewariskan berbagai permasalahan lingkungan. Strategi ini menekankan aspek "pertumbuhan kesejahteraan" dan “pelestarian lingkungan”. Konsep ini didukung melalui Instruksi Presiden mengenai Rencana Aksi Nasional untuk menurunkan Gas Rumah Kaca, Inpres Efisiensi Energi, Inpres Moratorium Hutan dan Keppres Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.

          Penerapan konsep "ekonomi hijau" membutuhkan perubahan paradigma dan gaya hidup yang menghasilkan perasaan adil di antara berbagai kelompok masyarakat, sekaligus memberikan penghematan dan peningkatan daya guna ekonomi dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini dimaknai dengan pentingnya melakukan perubahan paradigma pembangunan dan perilaku warga masyarakat, termasuk di dalamnya dalam kegiatan produksi dan konsumsi yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

          Ekonomi hijau juga dimaknai sebagai kemampuan untuk melibatkan rakyat banyak secara produktif dalam perekonomian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Kemampuan untuk menemukan dan membuat alat-alat produksi sendiri dan mengadakan penyesuaian terhadap barang-barang yang diproduksi di tempat lain dengan kebutuhan setempat. Disamping juga kemampuan untuk menerapkan sendiri kemajuan teknik pada situasi setempat.

          Konsep ekonomi hijau merupakan konsep terintegrasi yang utuh dan tidak terpisah-pisah dan dapat diimplementasikan sesuai arah pembangunan yang pro-poor, pro-job, pro-growth dan pro-environment. Hal ini memerlukan kerjasama semua pihak untuk membuatnya menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari, dimulai dari hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan, misalnya hemat air dan energi, serta menanam pohon.

Hadirin yang saya hormati,

Pengelolaan lingkungan hidup yang baik menjamin keberlangsungan layanan ekosistem dan kehidupan aneka satwa dan fauna di dalamnya. Diantara satwa-satwa langka yang dimiliki oleh Indonesia, beberapa mengalami penurunan populasi dalam tingkat menuju kepunahan. Penyebab dari  ancaman tersebut adalah  berkurangnya habitat asli, sebagai akibat dari kegagalan kita mengelola hutan dan ekosistem secara lestari.

Dari apa yang saya kemukakan tadi, saya  mengajak kepada segenap warga bangsa di seluruh tanah air untuk menanamkan arti penting kelestarian lingkungan hidup kepada keluarga dan anak-anak kita. Berikan penjelasan dan pencerahan untuk menjaga, merawat, dan melestarikan, lingkungan di sekitar kita.

Kepada kalangan BUMN dan BUMD saya mengajak untuk meningkatkan kualitas Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dengan masyarakat setempat. Budaya asli Indonesia sesungguhnya sarat akan nilai-nilai pengelolaan alam yang lestari. Berbagai bentuk pemanfaatan kekayaan alam yang dilakukan oleh masyarakat adat secara tradisional, telah terbukti berlangsung selama ribuan tahun, tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan, misalnya budaya panen sasi lompa oleh masyarakat Maluku, atau kearifan lokal Dayak Iban di Kalimantan Barat yang melindungi pohon madu atau bangris, atau pengelolaan damar oleh suku Krui di Lampung.

Selanjutnya, berkaitan dengan Tahun Badak Internasional, saya minta kepada Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup, dan para Menteri terkait lainnya untuk menyukseskan Tahun Badak Internasional yang kita canangkan bersama  tahun ini. Jadikan Tahun Badak Internasional  sebagai momentum dan akses bagi peningkatan kerjasama internasional dalam pelestarian badak di negeri kita. Ajak masyarakat dan instansi terkait untuk menyukseskan Tahun Badak Internasional. Jadikan pelestarian badak, sebagai bagian dari pemantapan reputasi bangsa kita sebagai salah satu global leaders pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan.

Kepada saudara-saudara yang meraih penghargaan Kalpataru; para Bupati dan para Walikota yang wilayahnya memperoleh penghargaan Adipura; para Kepala Sekolah yang sekolahnya memperoleh penghargaan Adiwiyata Mandiri; dan penerima Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD)  saya ucapkan selamat, disertai ucapan  terima kasih dan apresiasi yang tinggi atas kerja keras dan prestasi saudara. Saudara-saudara telah berjasa besar dalam memelihara dan melestarikan lingkungan hidup, keindahan kota, dan kehijauan sekolah. Lanjutkan kerja keras saudara-saudara dalam kepeloporan dan keteladanan pada pemeliharaan kelestarian lingkungan di wilayah saudara masing-masing.

Kepada saudara Menteri Lingkungan Hidup, saya menyambut baik berbagai program inovatif yang ditujukan untuk mempercepat penurunan emisi Gas Rumah Kaca baik melalui program Green Province, Taman Keanekaragaman Hayati, maupun  pengelolaan gambut dan rehabilitasi pantai. Terus tingkatkan sinergi dan koordinasi, untuk mencapai target penurunan emisi Gas Rumah Kaca yang telah kita tetapkan.  Tingkatkan pula sinergi dengan aparat hukum, guna melindungi negeri kita dari limbah industri berupa bahan-bahan berbahaya.

Secara khusus kepada para gubernur, para bupati, dan para walikota, mari kita tingkatkan pengelolaan pembangunan daerah berwawasan lingkungan. Berikan kontribusi konstruktif pada berbagai program nasional yang berwawasan lingkungan. Libatkan masyarakat dan kalangan dunia usaha untuk mengelola pembangunan yang berwawasan lingkungan. Budayakan kearifan lokal di wilayah saudara masing-masing.

Akhirnya, bertepatan dengan Hari Lingkungan  Hidup Sedunia Tahun 2012, seraya memohon ridho Allah SWT, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim saya canangkan Tahun 2012 sebagai Tahun Badak Internasional.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 

Jakarta, 5 Juni 2012

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

 

 

 

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO