Jumat, 10 Agustus 2012 - 21:57 WIB
BI dan Pemerintah Koordinasi Tekan Defisit Transaksi Berjalan
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 1082 kali



Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah mengadakan rapat koordinasi guna merumuskan langkah-langkah kebijakan dalam rangka mengatasi meningkatnya defisit transaksi berjalan, di Gedung BI, Jumat (10/8). Koordinasi ini dilakukan menyusul rilis BI, bahwa transaksi berjalan triwulan II-2012 mencatat defisit sebesar 6,9 miliar dollar AS (3,1% dari PDB) meningkat dari 3,2 miliar dollar AS (1,5% dari PDB) pada triwulan I-2012.

 “Kita perlu melakukan langkah-langkah kebijakan yang terkoordinasi agar penyesuaian defisit transaksi berjalan mengarah pada tingkat yang sustainable sehingga keberlangsungan pertumbuhan ekonomi dapat terjaga,”  kata Gubernur BI, Darmin Nasution, usai rapat koordinasi itu.

Darmin menegaskan, Bank Indonesia akan mengambil sejumlah langkah untuk mempercepat penyesuaian keseimbangan eksternal melalui kebijakan nilai tukar, penguatan operasi moneter, kebijakan makroprudensial untuk mengelola permintaan domestik, dan kebijakan yang mendorong arus modal.

Di sisi Pemerintah, berbagai kebijakan akan ditempuh agar kegiatan ekspor dapat terus ditingkatkan dan impor dikelola untuk mendukung kesehatan Neraca Pembayaran. Langkah-langkah antisipatif Pemerintah di antaranya melalui perpajakan dan bea masuk. Dari sisi perpajakan, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tax holiday yang diarahkan untuk mendorong investasi yang dapat menghasilkan barang modal untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Di sisi bea masuk, Pemerintah telah memberikan fasilitas pembebasan bea masuk yang ditujukan untuk pengurangan ketergantungan impor untuk barang jadi (PMK 76/PMK.011/2012).

Di sektor pertambangan saat ini terdapat perkembangan yang cukup signifikan dalam penyelesaian Clean and Clear di Kementerian ESDM (yaitu sekitar 4000 perusahaan). Hal ini akan memberikan peningkatan nilai tambah yang signifikan terhadap nilai ekspor Indonesia. Sejalan dengan kebijakan antisipatif tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan 8 peraturan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan 10 peraturan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) yang tujuan akhirnya adalah untuk melindungi industri dalam negeri dari ancaman kerugian serius yang disebabkan oleh lonjakan impor barang sejenis.

Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dody Budi Waluyo dalam penjelasannya mengatakan, perekonomian Indonesia tumbuh kuat dengan pendorong utama bersumber dari menguatnya permintaan domestik. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2012 mencapai 6,4% dengan sumber utama pertumbuhan ekonomi mengalami pergeseran dari ekspor beralih menjadi permintaan domestik, yaitu investasi dan konsumsi rumah tangga.

“Ekspor tumbuh melambat cukup tajam akibat melambatnya perekonomian global yang berdampak pada menurunnya permintaan negara mitra dagang utama dan turunnya harga komoditi ekspor Indonesia. Di sisi lain, kuatnya permintaan domestik telah mendorong pertumbuhan impor yang cukup tinggi, khususnya barang modal dan bahan baku, yang bermanfaat bagi peningkatan produksi dan kapasitas perekonomian nasional. Kuatnya kinerja perekonomian Indonesia tersebut dicapai dengan laju inflasi yang tetap rendah dan terkendali serta penciptaan lapangan kerja yang meningkat khususnya di sektor formal,’ ungkap Dody.

Kuatnya permintaan domestik, di tengah turunnya ekspor akibat penurunan kinerja ekonomi global itu telah menyebabkan kenaikan defisit transaksi berjalan. Transaksi berjalan triwulan II-2012 mencatat defisit sebesar 6,9 miliar dollar AS (3,1% dari PDB) meningkat dari 3,2 miliar dollar AS (1,5% dari PDB) pada triwulan I-2012.

Di sisi lain, transaksi modal dan finansial mengalami kenaikan surplus yang besar, dari 2,5 miliar dollar AS triwulan I-2012 menjadi 5,5 miliar dollar AS triwulan II-2012, baik dalam bentuk investasi asing langsung (PMA), investasi portofolio asing, maupun penarikan utang luar negeri sektor swasta. “Perkembangan ini menunjukkan bahwa, di tengah kondisi perekonomian global yang masih diliputi oleh ketidakpastian, keyakinan investor asing terhadap ketahanan dan prospek perekonomian Indonesia tetap tinggi,” ungkap Dody.

Bank Indonesia memperkirakan pada paruh kedua 2012, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan menurun ke sekitar 2% dari PDB. Penurunan ekpsor diperkirakan akan lebih kecil pada triwulan III sebelum kembali tumbuh positif pada triwulan IV-2012, sementara pertumbuhan impor diperkirakan akan lebih rendah pada keseluruhan paruh kedua 2012.

“Di sisi lain, surplus transaksi modal dan finansial juga akan tetap besar, baik dari PMA, investasi portfolio maupun penarikan utang luar negeri, sehingga secara keseluruhan Neraca Pembayaran Indonesia akan kembali surplus pada paruh kedua tahun 2012,” kata Dody.

Perakiraan tersebut didasarkan pada ekspektasi bahwa kondisi perekonomian global dan harga komoditas ekspor akan membaik serta didukung oleh respon kebijakan yang ditempuh oleh Bank Indonesia dan Pemerintah. Selain itu, kegiatan investasi dan impor barang modal yang dalam beberapa waktu terakhir tumbuh pesat diharapkan akan meningkatkan kapasitas perekonomian domestik sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada impor di masa mendatang.  (Humas BI/ES)