Jumat, 06 Agustus 2010 - 11:00 WIB
Tiga Keppres Direvisi dan Dituangkan ke Dalam Perpres
Oleh : presidensby.info
- Dibaca: 532 kali


          Bogor: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, didampingi Wapres Boediono, Jumat (6/8) pukul 10.15 WIB, menutup Rapat Kerja ketiga di Istana Kepresidenan Bogor. Sepanjang pagi ini raker membahas tentang percepatan anggaran dan revisi Kepres No. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa.

          Sebelum Presiden menutup Raker, Menko Perekonomian Hatta Rajasa memaparkan hasil raker. Hatta menjelaskan tentang materi yang dipaparkan selama retreat, yaitu ekonomi makro dengan kondisi perekonomian tengah semester, pelaksanaan APBN yang sehat dan berkesinambungan yang dipaparkan oleh Menkeu, pelaksanaan APBD yang dipaparpakan Mendagri. Lalu, paparan kepala Bappenas tentang revisi Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintahan.

          "Dengan memonitor ekonomi makro dapat terlihat arah perekonomian nasional," ujar Hatta. Keadaan ekonomi makro ini harus diketahui seluruh jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah.

          Hatta juga menjelaskan tentang pertumbuhan 6,2 persen pada kwartal kedua 2010 yang didukung oleh ekspor, konsumsi masyarakat, dan investasi yang meningkat. Selain itu, sinergi antara pusat dan daerah harus ditingkatkan untuk menekan gejolak harga.

          Sementara terkait APBN yang sehat diperlukan efektivitas, tepat waktu, dan tepat sasaran. "Untuk optimalisasi APBN, perlu dijaga agar belanja aparatur tidak membengkak, secara bertahap melakukan pengurangan porsi," Hatta menambahkan. Sementara untuk mempercepat anggaran, akan dilakukan beberapa revisi peraturan pelaksanaan APBN serta prosedur pengadaan barang dan jasa.

          Untuk APBD, Hatta mengatakan pengelolaannya harus mengutamakan belanja untuk kepentingan publik. "Rasio jumlah antara belanja aparatur pemerintah, PNS, baik pusat maupun daerah, akan diatur dengan mempertimbangkan efektivitas pelayanan publik, tingkat kualitas, dan luas wilayah," jelas Hatta.

          Selain itu, dana dekonsentrasi yang dilaksanakan di daerah harus diberitahukan secara resmi kepada gubernur, dan selanjutnya gubernur menugaskan SKPD untuk melaksanakannya.

          Ihwal revisi Kepres No. 80 Tahun 2003, akan digunakan sebagai bahan untuk Presiden membuat Peraturan Presiden.

          Sementara itu, Wapres Boediono dalam laporannya mengatakan bahwa ada prinsip dasar dari pengelolaan APBN dan APBD yang sejalan. Terdapat pula 3 prinsip yang menjadi pegangan. Pertama, peranan peningkatan APBN dan APBD adalah kunci utama. Kedua, keseimbangan APBN dan APBD dalam jangka pendek ataupun panjang. "Pada masa-masa tertentu perlu dilakukan defisit, dan pada masa-masa tertentu perlu dilakukan surplus," Boediono menambahkan.

          Ketiga, peran dan kualitas belanja, dimana perlu dilakukan keseimbangan antara belanja committed dan belanja aparatur. Selain itu, juga efisiensi penggunaan rupiah dan percepatan penyerapannya.

          Presiden SBY sebelum memberikan arahannya, terlebih dahulu mengucapkan selamat kepada para gubernur yang terpilih kembali. Yaitu Gubernur Jambi Hasan Basri Agung, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang, dan Gubernur Kalsel Rudi Arifin.

          Dalam arahannya, Presiden mengatakan ada 3 produk yan telah dihasilkan dalam Raker ini. Yaitu, revisi PP No. 29 Tahun 2000 tentang Jasa Konstruksi, revisi Kepres No. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa, dan revisi Kepres No. 42 Tahun 2002 tentang Pengelolaan APBN. Ketiga revisi tersebut telah ditandatangani SBY untuk dijadikan Peraturan Presiden (Perpres).

          Kepala Megara kembali menekankan tentang pentingnya memanfaatkan peluang seperti sekarang. "Karena masih banyak negara maju yang masih dalam keadaan krisis," ujar SBY.

          Usai menutup raker ini, Presiden langsung menunaikan salat Jumat di Istana Bogor. Setelah itu, Presiden akan menuju Bandung untuk sebuah kunjungan kerja.

Hadir dalam penutupan Raker ini para menteri KIB II dan gubernur, bupati serta walikota se-Indonesia. anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) dan Komite Inovasi Nasional (KIN). Mereka sejak kemarin mengiukuti raker dengan seksama.