Tue, 04-23-2013 12:16 WIB
Pelaksanaan PKH di Karawang & Cikampek
By : Desk Informasi
- Read: 1856 times



“Program Keluarga Harapan (PKH) diberikan khusus kepada keluarga sangat miskin untuk membantu peningkatan akses kesehatan dan pendidikan. Sebagai warga sangat miskin, penerima PKH juga menerima Raskin, Jamkesmas serta BOS, sehingga 4 program pro rakyat sekaligus dinikmati warga tingkat bawah tersebut.”

Peningkatan kesejahteraan warga miskin terlebih warga sangat miskin mendapat prioritas utama di era Pemerintahan Presiden SBY yang ditandai dengan penerapan Program Pro Rakyat secara terpadu yang dibingkai dalam empat klaster. Warga sangat miskin menjadi prioritas mendapatkan Program Pro Rakyat sekaligus meliputi PKH, Raskin, Jamkesmas dan BOS. Warga miskin juga mendapat prioritas untuk ambil bagian dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta program klaster empat khususnya pembangunan rumah swadaya atau yang lebih dikenal dengan bedah rumah.

   Keterpaduan penerapan Program Pro Rakyat telah membantu rakyat sangat miskin dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama kebutuhan dasar seperti pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Hadirnya berbagai Program Pro Rakyat secara terpadu telah mendorong warga sangat miskin yang merupakan lapisan paling bawah untuk terus optimis bisa keluar dari kemiskinan.

Berdasarkan peninjauan di lapangan, khususnya di Desa Karawang Kulon dan Cikampek Kota, kondisi ekonomi keluarga sangat miskin tersebut pada umumnya tidak “separah” yang dibayangkan. Dilihat dari kondisi rumah, memang boleh dibilang berada di level paling bawah dibanding kondisi rumah di sekitarnya. Lantai pada umumnya hanya berupa semen kasar atau papan kayu, dinding bilik, kayu atau setengah tembok serta beratap genting. Meskipun demikian, menariknya hampir di setiap rumah terdapat televisi berwarna berukuran 14 hingga 21 inchi, bahkan sebagian dilengkapi dengan pemutar cd/dvd (vcd/dvd  player), kipas angin serta speaker atau pengeras suara. Menariknya lagi, hampir seluruh keluarga miskin memiliki telepon genggam alias hand phone, yang tampak tergeletak di meja atau samping tv.

Fakta lain yang lebih menarik adalah sebagian keluarga yang disebut-sebut paling bawah tersebut juga memiliki kulkas alias lemari pendingin, padahal, barang tersebut kerap diidentikan dengan kalangan kelas menengah ke atas. Sebagain keluarga miskin juga bahkan sudah ada yang memiliki kendaraan roda dua alias sepeda motor sebagai alat transportasi.

Lebih jauh, melongok ke bagian dapur, para keluarga miskin tersebut kini sudah terbiasa memasak menggunakan kompor gas sejalan dengan program konversi minyak tanah ke gas yang dijalankan pemerintah. Pada awalnya, para keluarga miskin mendapat bantuan tabung elpiji 3 kg dan kompor gas satu tungku, namun demikian, kini, kompor gas di dapur keluarga miskin tersebut telah diganti dengan kompor gas baru yang memiliki dua tungku. Ini artinya, mereka telah nyaman menggunakan gas, bahkan terus berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas alat pemasaknya dengan membeli kompor gas baru dua tungku.

Dilihat dari sisi ekonomi keluarga, para keluarga miskin tersebut memiliki penghasilan bersih antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per hari dengan mata pencaharian antara lain pedagang asongan, tukang becak, tukang ojek, berjualan bakso serta buka warung kecil-kecilan. Kesan optimis tampak terpancar dari wajah mereka, meskipun harus bermandikan keringat mencari nafkah. Mereka berharap kehidupannya membaik serta anak-anaknya kelak bisa hidup lebih baik dibanding kehidupan orang tuanya. 

Harapan mereka semakin kuat seiring dengan banyaknya Program Pro Rakyat yang digulirkan pemerintah dan dirasakan manfaatnya oleh mereka. Melalui PKH, mereka mendapat bantuan uang tunai yang besarnya Rp 600 ribu hingga Rp 2,2 juta per tahun, mendapat Raskin dengan harga subsidi, berobat gratis dengan kartu Jamkesmas serta anak-anaknya bisa sekolah gratis dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Keterpaduan 4 program Pro Rakyat yang diterima sekaligus oleh warga sangat miskin ini tampak nyata dirasakan warga Karawang Kulon, yang merupakan salah satu desa terbanyak peserta PKH. Desa yang berpenduduk 20.229 jiwa atau sekitar 5.507 KK ini meliputi 22 RW (rukun warga) dan 85 RT (rukun tetangga) dengan mata pencaharian mayoritas sebagai pelaku UMKM. Dari jumlah tersebut sebanyak 439 KK atau Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) merupakan peserta PKH, 1.062 KK atau Rumah Tangga Sasaran (RTS) merupakan penerima Raskin dan sebanyak 5.760 jiwa merupakan peserta Jamkesmas. Sementara itu, anak-anak usia sekolah SD hingga SMP, semuanya bisa sekolah gratis dengan BOS.

   Salah satu warga Karawang Kulon yang merasakan 4 Program Pro Rakyat sekaligus adalah Nengsih, yang tinggal di Jl Singosari RT 15 RW 14 Kampung Anjung Kaler. Ibu yang sehari-hari berjualan aneka makanan ini tercatat mendapat PKH sebesar Rp 1 juta per tahun kerena memiliki anak sekolah usia SMP, menerima Raskin sebanyak 5 liter tiap bulan, memiliki kartu Jamkesmas untuk berobat gratis serta anaknya sekolah gratis dengan dana BOS. “Saya senang mendapat banyak bantuan, dari pemerintah, saya berharap terus dilanjutkan. Dengan adanya PKH dan BOS, anak saya bisa sekolah gratis serta bisa melanjutkan ke SMA 5 yang merupakan sekolah favorit di Karawang. Saya bertekad supaya bisa menyekolahkan anak saya, bahkan kalau bisa terus hingga kuliah, jangan sampai kayak ibunya yang enggak bisa sekolah, karena memang tidak ada biaya,” tuturnya.

Nengsih memang merupakan salah satu warga sangat miskin, sehingga layak menerima 4 bantuan tersebut. Rumahnya hanya berukuran sekitar 3 x 6 meter, berdinding bilik, alas kayu serta atap genting. Rumah semungil itu menjadi tempatnya melepas lelah bersama suami dan ketiga anaknya. Sebagai sarana hiburan dan informasi, di rumahnya tersedia tv berukuran 14 inchi. “Kalau semua sudah kumpul, di sini berjejer, kayak ikan peda,” imbuhnya sambil tertawa. Namun demikian, pancaran optimisme tampak tergambar di wajah ibu paruh baya ini. Untuk membantu pendapatan keluarga, ia berjualan aneka makanan untuk anak – anak sehingga bisa mendapat penghasilan sekitar Rp 20 ribu – Rp 25 ribu per harinya, sementara suaminya yang bekerja sebagai buruh bisa mendapat penghasilan sekitar Rp 35 ribu per hari.Ia juga bersyukur, karena memiliki jaminan kesehatan, sehingga jika sakit walau hanya pusing atau pilek langsung berobat ke Puskesmas secara gratis. Dengan kata lain, tidak ada keraguan terkait biaya, karena ada jaminan berobat gratis dengan kartu Jamkesmas.

Sambutan positif juga disampaikan Een, warga RT 04/08 yang juga mendapat 4 Program Pro Rakyat sekaligus yakni PKH sebesar Rp 1 juta, Raskin sebanyak 10 liter per bulan, kartu Jamkesmas serta anaknya bisa sekolah gratis dengan BOS. Kondisi rumahnya memang sederhana dengan lantai dari semen kasar yang dilapisi semacaman plastik tebal bekas banner, dinding bilik dan atap genting, sehingga layak mendapat PKH dan program pro rakyat lainnya. 

Meskipun demikian, di rumahnya terdapat tv berukuran 21 inchi, kipas angin, pemutar cd serta kulkas. Di atas tv tampak tergeletak sebuah   telepon genggam atau hand phone berwarna putih. Kondisi ini cukup menggembirakan dan bisa dimaklumi mengingat ia dan suaminya sama-sama bekerja mencari nafkah. “Suami saya bekerja sebagai tukang becak dengan penghasilan antara Rp 20 ribu  hingga Rp 50 ribu per hari, sementara saya jualan bakso dengan penghasilan Rp 40 ribu per hari,” tuturnya.

Kondisi serupa juga tampak pada Mimin, penerima PKH sebesar Rp 1,4 juta per tahun dan Raskin, Jamkesmas serta BOS. Di rumahnya yang sederhana tampak tv berukuran 14 inchi, pemutar cd yang dilengkapi dengan speaker dan kipas angin. Selain itu, ia juga memiliki kulkas serta di atasnya tampak tergeletak telepon genggam berwarna biru – hitam.  Hal ini, lagi-lagi menandakan bahwa keluarga penerima PKH yang merupakan “golongan paling miskin”, kondisi kesejahteraannya sudah semakin membaik, sejalan dengan banyaknya Program Pro Rakyat yang dilaksanakan pemerintah. Ibu yang memiliki tiga anak ini bersyukur karena semua program pemerintah sangat membantunya. “Saya bersyukur dengan adanya PKH, baju anak-anak saya jadi bagus, saya selalu jaga agar tidak terlihat kuning dan lusuh. Anak saya yang balita juga semakin sehat, beratnya sekarang bertambah jadi 16 kg, sebelumnya 15 kg,” tuturnya. 

Hal senada dikemukakan warga sangat miskin di Desa Cikampek Kota yang juga mendapat 4 Program Pro Rakyat Sekaligus. Di Desa yang berpenduduk 1.800 KK ini, sebanyak 51 RTSM mendapat PKH, 101 KK penerima Raskin dan sebanyak 1.464 jiwa tercatat menerima Jamkesmas. Penerima PKH mayoritas bekerja sebagai pedagang asongan tahu goreng, penjaul boneka, makan ringan dan lain-lain, karena lokasinya berdekatan dengan Stasiun Cikampek dan Terminal Cikampek. Rata-rata penghasilan mereka sebesar Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu per hari. Sebelum mendapat PKH, kebanyakan anaknya tidak melanjutkan sekolah SMP karena kendala biaya, meskipun sudah ada BOS namun tidak kuat untuk membeli seragam dan buku.

Bantuan PKH telah mengubah kondisi mereka yang menerima manfaat, dana dari PKH yang diterima rata-rata Rp 1,2 juta hingga Rp 2,2 juta per tahun dibuat untuk membiayai sekolah anak hingga lulus SMP. Bahkan, menyadari pentingnya pendidikan yang dapat merubah nasib, mereka bisa menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA. Anak yang sebelumnya hanya lulus SD sekarang mengikuti program kejar paket B untuk bisa melanjutkan ke jenjang SMA.

Sementara itu, kondisi rumah meskipun dinyatakan paling miskin kebanyakan ekonominya terus jalan, bahkan di rumah tersebut terdapat televise dan kulkas bahkan sebagian memiliki motor. Melihat perkembangan keluarga miskin tersebut, tentu sangat menggemberikan, karena Program Pro Rakyat yang dilaksanakan pemerintah telah turut membantu membawa warga miskin untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Salah satu warga yang menerima bantuan PKH adalah Sairoh Rohatika, 44 tahun warga Dusun Krajan Remaja, RT 02 RW 05 Desa Cikampek Kota, Kecamatan Cikampek. Ia memiliki 2 anak yakni Firman Abidin yang duduk di bangku kelas III SMP dan Rian Santoso baru lulus SMA dan sudah bekerja di salah satu pabrik di Karawang. Sairoh menerima bantuan PKH sejak tahun 2008 dan terus berlanjut hingga saat ini. Bantuan PKH yang diterima berkisar Rp 1 juta hingga rp 1,4 juta per  tahun. Bantuan dana PKH tersebut digunakan untuk menyekolahkan anaknya, karena menyadari pendidikan penting untuk masa depan. Ia juga menerima bantuan Raskin, Jamkesmas dan BOS untuk anaknya yang duduk di bangku SMP. “Alhamdulillah anak saya sudah bekerja dan memiliki penghasilan Rp 1,5 juta sebulan, sehingga bisa beli motor meskipun kredit. Saya berharap PKH ditingkatkan peruntukannya hingga lulus SMA,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Ning Ati, 29 tahun, yang menerima dana PKH sebesar Rp 1,4 juta per tahun, karena sedang hamil dan satu anaknya duduk di kelas 6 SD. Sementara itu, ia juga memiliki anak usia 6 tahun yang akan masuk sekolah SD, sehingga jika sudah masuk SD maka bantuan bertambah Rp 400 ribu menjadi Rp 1,8 juta per tahun. Sebelumnya, ketika balita (bawah lima tahun) anak tersebut juga mendapat PKH yang besarnya Rp 800 ribu per tahun, dan saat ini sedang dalam masa transisi dari balita ke usia SD.

Suaminya bekerja sebagai penjual boneka asongan di Stasiun Cikampek dengan penghasilan rata-rata Rp 30 ribu per hari, serta tambahan dari menarik sampah dilingkungannya dengan upah Rp 100 ribu per bulan. “PKH sangat membantu untuk mencukupi kebutuhan sekolah, susu balita, dan menjaga kesehatan kehamilan. Saya berharap PKH dilanjutkan termasuk Raskin dan Jamkesmas,” papar Ati.

Secara keseluruh jumlah penerima PKH di Kabupaten Karawang saat ini tercatat 21.386 RTSM yang mencakup 16 kecamatan. Cakupan PKH tersebut meningkat dibanding tahun 2007 yang merupakan awal pelaksanaan PKH di mana cakupan PKH baru menjangkau 7 kecamatan dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 10.537 RTSM. Jumlah dana yang sudah digulirkan kepada penerima PKH juga meningkat dari Rp 14,01 miliar pada tahun 2007 menjadi Rp 25,12 miliar pada tahun 2012. Sementara itu, secara keseluruhan sejak tahun 2007 – 2012, jumlah dana PKH yang sudah digulirkan mencapai Rp 142,39 miliar.

(Firman dan Dhuha)