Thu, 06-27-2013 06:58 WIB
Kepemimpinan Indonesia APEC 2013
By : Prof. Firmanzah, Ph.D, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan
- Read: 3621 times



Tonggak kepemimpinan Indonesia di kawasan Asia Pasifik dimulai dengan menjadi tuan rumah KTT APEC di Bogor 1994. Saat ini, Indonesia kembali dipercaya menjadi Ketua dan sekaligus tuan rumah pertemuan puncak KTT APEC pada 7-9 Oktober 2013 di Bali. Kepemimpinan Indonesia pada pertemuan KTT APEC 1994 di Bogor pada saat itu menghasilkan Bogor Goals yang bertujuan untuk menciptakan kawasan yang lebih terbuka di bidang perdagangan dan investasi melalui pengurangan dan penghapusan hambatan (barriers). Hal ini untuk meningkatkan kelancaran aliran barang, jasa dan modal dalam kawasan Asia Pasifik. Ditargetkan dalam Bogor-Goals hal ini tercapai diantara negara maju pada 2010 dan negara berkembang pada 2020. 

Tentunya, kondisi dan tantangan kawasan Asia Pasifik sangat berbeda bila dibandingkan 20 tahun yang lalu. Kepemimpinan Indonesia dalam KTT APEC 2013 akan menghadapi sejumlah tantangan terkait pemulihan ekonomi, menjaga pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, kesenjangan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Menjadikan kawasan Asia Pasifik berdaya tahan (resilient) sekaligus sebagai motor pertumbuhan ekonomi dunia bukanlah hal yang sederhana. Seperti kita ketahui, ekonomi dunia dalam 4-5 tahun terakhir mendapatkan goncangan (shock) akibat krisis Subprime-Mortgage di Amerika Serikat dan krisis utang di Eropa. Dua krisis ini membuat banyak negara dan kawasan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, tekanan terhadap ekspor, investasi, perdagangan dan indeks kepercayaan konsumen terjadi di banyak negara, termasuk negara-negara APEC.  

Bila pada 20 tahun yang lalu, pada KTT APEC 1994, kepemimpinan Indonesia mampu menghasilkan deklarasi ‘Bali Goals’ untuk mengakselerasi perdagangan dan investasi di Asia Pasifik, maka pada kali ini Kepemimpinan Indonesia ditunggu oleh dunia untuk mampu menjadikan kawasan ini lebih berdaya saing. Kunci dari hal ini adalah mewujudkan komitmen di setiap anggota APEC untuk mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonominya masing-masing. Capacity-building menjadi fokus kerjasama dan kemitraan agar pertumbuhan dan kesejahteraan ekonomi dalam kawasan menjadi lebih berimbang dan merata. Dengan semakin terintegrasinya ekonomi masing-masing negara dan juga APEC dengan kawasan lainnya, maka kerjasama dan koordinasi pengambil kebijakan menjadi keharusan.

Oleh karenanya, menjelang pertemuan puncak di Bali pada bulan Oktober 2013, serangkaian pertemuan tingkat Menteri dan Senior Officer Meeting (SOM) negara-negara anggota APEC yang dilakukan di Jakarta, Medan, Surabaya dan Bali. Serangkaian pertemuan persiapan ini membahas tema terkait dengan perdagangan, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan isu-isu ekonomi-keuangan dunia dan kawasan Asia Pasifik.  Semangat kolektif 21 negara anggota APEC untuk mempercepat pemulihan ekonomi dunia menjadi modal untuk menjadikan kawasan ini sebagai motor pertumbuhan ekononomi dunia. Perdagangan dan investasi menjadi fokus kerjasama kawasan dengan mengedepankan prinsip ‘open-dialogue’ dan ‘equal respect’ antar anggota. Keputusan yang diambil berdasarkan konsensus dan kesepakatan bersama tanpa paksaan menjadikan APEC sebagai forum koordinasi kebijakan yang kuat di kawasan.

Arti penting kawasan ini bagi perekonomian dunia sangatlah penting. Mengingat ke-21 negara APEC memiliki hampir 40 persen populasi dunia, hampir 55 persen PDB dunia dan memiliki nilai perdagangan hampir 44 persen perdagangan dunia. Semenjak KTT APEC di Bogor, forum kerjasama ini telah mampu menurunkan rata-ratat tarif dari sebesar 16.9 persen pada 1989 menjadi 5.7 persen pada tahun 2011. Sementara itu hambatan non-tarif juga dapat dikurangi secara substansial semenjak APEC didirikan. Forum kerjasama APEC juga telah memperluas kerjasama dibidang lain seperti penanganan terorisme, kelautan, energi, penyakit menular, perubahan iklim, teknologi-inovasi dan isu-isu fundamental lainnya.

Keketuaan Indonesia dalam forum ini juga akan menjembatani kepentingan negara-negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia. Dalam keanggotaan APEC terdapat sejumlah kekuatan ekonomi terbesar dunia yang tergabung dalam forum G-20 seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Rusia dan Korea Selatan. Pada tahun 2012, China dan Indonesia merupakan dua negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi baik diantara negara-negara APEC maupun G20. Ketika Indonesia berperan aktif memimpin penguatan ekonomi kawasan APEC berarti secara tidak langsung Indonesia membantu penguatan ekonomi dunia. Begitu juga ketika kawasan APEC meningkatkan perdagangan dan investasi maka spillover terhadap ekonomi dunia akan sangat besar.

Keketuaan Indonesia tidak hanya terfokus untuk membantu negara-negara maju di Asia Pasifik saja. Prinsip pembangunan ekonomi yang lebih merata dan seimbang (equitable development) juga menjadi pilar penting dalam APEC. Terlebih lagi setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Co-Chair penyusunan agenda Pembangunan Dunia Pasca MDGs 2015. Semangat untuk membantu dan mendorong pembangunan ekonomi yang lebih merata dan berkeadilan (fair) juga menjadi skala prioritas. Negara-negara anggota APEC seperti Papua Nugini, Chili, Peru dan Vietnam perlu peningkatan capacity building dan technical assistance untuk bisa maju bersama-sama. Perdagangan dunia tidak hanya ‘free’ tetapi juga perlu mengedepankan prinsip ‘fair’.

Tentunya menjadikan kawasan Asia Pasifik lebih kokoh sulit dilakukan tanpa adanya peningkatan konektivitas (connectivity) baik bersifat fisik maupun non-fisik. Konektivitas fisik dapat berupa peningkatan sarana dan kualitas sistem transportasi dan logistik kawasan. Pelabuhan, bandara udara, moda transportasi, fasilitas bongkar muat dan kualitas pelabuhan akan terus ditingkatkan. Selain itu juga, koordinasi kebijakan (non physical connectivity), penyederhanaan perijinan, sistem IT dan basis data juga menjadi tema pembahasan penting untuk mewujudkan kawasan yang berdaya saing.

Kepemimpinan Indonesia dalam forum ini merupakan bentuk kepercayaan dunia dan kesempatan bagi kita semua untuk menjalankan amanat konstitusi. Seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dimana dibentuknya negara Indonesia salah satunya adalah untuk ‘..mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamain abadi dan keadilan sosial..’. Olehkarenanya mari kita dukung dan support keketuaan Indonesia dan tuan rumah dalam KTT APEC 2013 di Bali. Keterlibatan aktif akademisi, praktisi, dunia usaha, LSM, media dan masyarakat untuk menyukseskan KTT APEC 2013 akan menjadikan bangsa dan negara ini semakin disegani dan semakin memainkan peranan penting dalam pembentukan peradaban dan tatanan dunia yang lebih baik, adil dan merata.