INDONESIA dan Turki bersepakat untuk menggenjot kerja sama di bidang investasi dan perdagangan. Ditargetkan, dalam empat tahun mendatang, nilai kerja sama di dua bidang itu mencapai US$5 miliar, naik 150 persen dari nilai saat ini yang baru sekitar US$2 miliar. Demikian dikatakan Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, kemarin.
Dia menguraikan, kesepakatan itu dilakukan pada saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengadakan kunjungan kerja ke Turki, akhir Juni lalu. Kesempatan itu digunakan SBY dan Abdullah Gul (Presiden Turki) untuk membuka pertemuan bisnis di Istanbul. "Mereka juga menyaksikan penandatanganan Tujuh nota kesepahaman antara perusahaan Indonesia dan Turki," kata Hatta.
Selain itu, kata Hatta, dalam pertemuan itu juga ditandatangani delapan nota kesepahaman antara pemerintah Indonesia dan turki (G to G). Forum tersebut diinisiasi oleh Badan Kerja Sama Penanaman Modal (BKPM) dan Tuskon (Kadin Turki), dihadiri oleh sekitar 800 perusahaan Turki dan 22 pengusahan Indonesia.
"Kedua negara sepakat bekerja sama untuk mendorong supaya investor Turki meningkatkan investasinya di Indonesia, khususnya beberapa yang potensial seperti di bidang Infrastruktur, energi, pariwisata, dan transportasi," kata Hatta.
Indonesia dan Turki merupakan dua negara yang tergabung kedalam kelompok Developing 8 (D-8). Negara lainnya adalah, Bangladesh, Iran, Mesir, Pakistan, Nigeria, dan Malaysia.
Realisasi Investasi
BKPM mencatat realisasi investasi semester I tahun ini mencapai Rp92,9 triliun atau 58,1 persen dari target investasi tahun 2010 yang sebesar Rp160 triliun. Realisasi itu meningkat 39,9 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp66,4 triliun. "Peningkatan ini sebagai bentuk dari iklim investasi di Indonesia yang kian membaik," kata Kepala BKPM Gita Wirjawan dalam kesempatan terpisah.
Realisasi sebesar Rp92,9 triliun itu terdiri dari investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp21,9 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) Rp71 triliun. Ini lebih disebabkan ekspansi yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan di sektor pertambangan, telekomunikasi. "Ada juga aktivitas baru seperti relokasi pabrik sepatu, tekstil dari Taiwan," katanya.