Pembangunan Rumah Layak Huni di Banjarmasin


09 March 2013 oleh Desk Informasi

Pemerintah memenuhi kebutuhan rumah layak huni di Kota Banjarmasin melalui pembangunan Rusunawa dan Rumah Swadaya, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah seperti buruh, pegawai honorer, tukang becak dan lainnya. Untuk Rusunawa, pemerintah melalui Kementerian PU menyediakan Rusunawa Kelayan yang terletak di Kelurahan Kelayan Selatan, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Rusunawa  Kelayan terdiri dari tiga twin blok  yang dibangun dalam 3 tahap sejak 2007 hingga 2011. Total kamar yang tersedia mencapai 288 kamar yang menelan anggaran dana Rp36 miliar.  

Pembangunan Rusunawa Kelayan ini didukung oleh Pemkot Banjarmasin dengan menyediakan lahan 2,5 Ha, listrik, sarana air bersih (PDAM Bandarmasih), dan jalan lingkungan. Selain itu Pemkot juga menyediakan anggaran rutin perawatan Rusunawa sebesar Rp150 juta per tahun. Warga Banjarmasin yang boleh menempati Rusunawa tersebut harus memenuhi persyaratan di antaranya yakni penduduk tetap yang dibuktikan dengan KTP dan Kartu Keluarga (KK), memiliki pekerjaan tetap baik di sektor formal maupun informal dengan penghasilan berkisar Rp1 juta – Rp2 juta per bulan. Selain calon penghuni Rusunawa juga harus sudah berkeluarga dengan jumlah anggota keluarga maksimal 5 orang serta belum memiliki rumah tinggal tetap. Sebelum tinggal di Rusunawa mereka tinggal di kawasan kumuh dan padat penduduk.

Adapun sewa kamar Rusunawa per bulan bervariasi tergantung dari lokasi lantai dan blok. Untuk blok A, gedung Rusunawa yang baru dihuni sejak Agustus 2012 lalu tarif kamar berkisar Rp200 ribu – Rp260 ribu, sedangkan untuk Blok A dan B berkisar Rp120 ribu – Rp180 ribu per bulan. Letak dari Rusunawa Kelayan ini  cukup strategis, karena terletak dengan pusat kota mudah dijangkau dengan berbagai sarana transportasi baik angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Selain itu, lokasinya  berdekatan dengan  tempat kerja sehingga dapat  menghemat biaya transportasi sehingga memudahkan masyarakat yang akan bekerja maupun anak-anak yang akan bersekolah. Selain itu Rusunawa ini juga menyediakan satu ruang untuk digunakan sebagai Pos kesehatan, dimana selalu ada seorang bidan yang bertugas untuk memberikan pelayanan kesehatan baik untuk masyarakat di Rusunawa maupun masyarakat sekitarnya. Pelayanan Poskesdes ini yang rata-rata melayani 15 pasien per hari dan sangat membantu warga masyarakat.

 Bidan Hema Eka Vita, berasal dari Puskesmas Karang Selatan ini bersyukur karena ditempatkan di Rusunawa Kelayan karena bisa ikut membantu pelayanan kesehatan warga Rusunawa walaupun dengan sarana dan fasilitas yang masih minim terutama untuk hal sterilisasi dan sanitasi. “Kalau untuk pengobatan penyakit ringan seperti batuk, demam, diare, atau cek kesehatan masih bisa dan obat-obatnya memadai, namun untuk persalinan masih belum standar karena butuh sanitasi dan sterilisasi alat, dan itu belum ada di pos kesehatan ini,” ujarnya. Ia berharap agar pemerintah lebih memperhatikan pelayanan kesehatan yang lebih baik lagi bagi masyarakatnya terutama di Rusunawa Kelayan mengingat pos kesehatan ini juga melayani warga dari luar Rusunawa.  Ia juga berharap ada juga perhatian kepada bidan sebagai tenaga pelaksana terdepan dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat terutama ibu hamil dan balita.

 Keunggulan lain dari Rusunawa ini adalah adanya pemanfaatan limbah kotoran manusia untuk sumber energi. Limbah tersebut ditampung dalam satu kolam besar dimana kemudian diolah sehingga menghasilkan biogas yang dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan memasak warga. Namun proyek ini masih dalam taraf uji coba dan pengembangan. Kendati saat ini baru 24 KK yang bisa menikmati sumber energi alternatif ini yakni di Blok Av lantai 1, besar harapan warga agar Biogas yang cukup ramah lingkungan ini dapat terus dikembangkan sehingga dapat menggatikan biaya pembelian minyak tanah atau gas karena lebih murah dan ramah lingkungan.

Salah satu penghuni Rusunawa Kelayan, Chairul Nisa mengaku bersyukur karena telah dapat menempati Rusunawa Blok A/lantai 1, dengan biaya sewa sebesar Rp 180.000,-/bulan serta biaya air yang hanya Rp 10.000 per bulan. Ia merasa lebih bersyukur lagi karena dia mendapatkan rumah yang mempunyai aliran Biogas yang dapat digunakan untuk memasak bagi kebutuhan keluarga. “Bersyukur karena sekarang kami sudah ada Biogas,  kami takut dalam menggunakan tabung gas yang isuenya  sering meledak. Selain itu dengan biogas menghemat karena harga minyak tanah yang kini mencapai Rp 9.000/liter, lumayanlah untuk tambahan beli susu anak dan dan terima kasih untuk program Jampersalnya,” ujar Chairul Nisa.

Rusunawa menjadi salah satu solusi utama untuk mengatasi permasalahan rumah masyarakat miskin. Rusunawa dirintis sejak tahun 2003 dalam rangka mengurangi kawasan kumuh terutama di perkotaan, dengan tujuan meningkatan kualitas lingkungan permukiman melalui upaya peremajaan, pemugaran, dan relokasi. Kemudian, sejak tahun  2006 Pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) juga melakukan perbaikan rumah melalui program rumah swadaya. Bantuan  dana yang diberikan Rp5 juta/unit untuk kategori peningkatan kualitas atau rusak ringan, dan  Rp10 juta/unit untuk kategori pembangunan baru atau rusak berat. Pada periode 2009 – 2011 Kota Banjarmasin mendapat bantuan rumah swadaya sebanyak 420 unit dengan total anggaran Rp2,47 miliar, yang terdiri dari peningkatan kualitas untuk 320 unit rumah dengan anggaran Rp 1,47 miliar, dan pembangunan rumah baru sebanyak 100 unit dengan anggaran Rp 1 miliar.

Syarat penerima  manfaat rumah swadaya tidak jauh berbeda dengan penghuni Rusunawa yaki bermata pencaharian sebagai buruh pabrik, buruh nelayan, buruh tani, tukang becak, dan lain-lain yang termasuk dalam masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka umumnya berpenghasilan sekitar  Rp 500 ribu - Rp1 juta/bulan. Uang bantuan  dari Kemenpera  dipergunakan membeli bahan material, sementara tenaga pemugaran rumah dilakukan oleh warga secara gotong-royong yang dikoordinir Pemda setempat. Semula rumah mereka kondisinya memprihatinkan, tak layak huni, atap dan dindingnya berlubang-lubang dan kebanjiran di musim hujan. Setelah direhab rumah warga miskin tersebut menjadi layak huni, tidak bocor lagi, dan mereka dapat tidur dengan nyenyak.

Selain itu Pemerintah juga membangun jalan  lingkungan  dan drainase di sekitar rumah swadaya, sebab semula jalan lingkungan hanya dari tanah dan tidak ada drainase, sehingga kumuh, air dari rumah menggenangi jalan, yang dapat menimbulkan banyak penyakit. Setelah dilakukan pembangunan jalan dan drainase yang waktunya bersamaan dengan pembangunan rumah swadaya, lingkungan menjadi bersih dan rapi. Salah satu kelurahan yang mendapat bantuan rumah swadaya adalah Kelurahan Pekauman, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Di sini terdapat 14 unit rumah swadaya yang dibangun tahun 2011 lalu. Kartawiyah (50 tahun), warga Mutiara Dalam RT 16, Kelurahan Kelayan Selatan, merasa bersyukur atas bantuan perbaikan baru rumahnya sebesar Rp10 juta berupa uang yang dibelikan bahan-bahan untuk membangun rumahnya yang kini sudah berdiri lebih baik dengan atap seng dan dinding kayu yang sudah dicat warna merah jambu, sebelumnya rumah Kartawiyah terbuat dari dinding triplek yang rudah lapuk dan atap rumbia.

Keluarga Kartawiyah tidak bisa merenovasi rumah sendiri karena dengan upah yang dihasilkan dari bekerja pengupas bawang dan suami yang berjualan Koran tidak mungkin dapat memperbaiki rumahnya. Namun berkat bantuan dari pemerintah mereka sekarang dapat hidup dengan tenang dan nyaman tidak takut rumahnya roboh sewaktu-waktu karena hujan lebat dan angin. Selain itu mereka berharap agar pemerintah juga memperhatikan pembangunan jembatan kayu ulin yang sudah tua di wilayah mereka sebab akses dua kelurahan di wilayah itu dihubungkan dengan jembatan tersebut.

 Penerima bantuan rumah swadaya lainnya yakni Siti Fatimah (32 tahun), pedagang sayur warga Mutiara Dalam RT 16/RW 02 Kelurahan Kelayan Selatan. Siti sangat bersyukur atas bantuan rumah yang diberikan pemerintah dalam pembangunan rumah mereka pasca musibah kebakaran yang menghanguskan rumah mereka awal tahun lalu. Dengan bantuan yang diberikan oleh pemerintah sebesar Rp10 juta per KK, mereka dapat membangun kembali rumahnya dan lebih baik agar anak-anaknya. Pada saat kejadian tersebut 11 rumah habis terbakar dan Siti bersama warga korban lainnya hanya bisa menyelamatkan pakaian di badan dan anak-anak mereka. Rumah yang terbuat dari kayu dan rumbia menyebabkan api cepat menyebar, selain itu lokasin yang sulit dijangkau mobil pemadam kebakaran menyebabkan api sangat sulit dipadamkan. Kini dengan bantuan program rumah swadaya, 11 rumah yang terbakar sudah dibangun kembali dan telah dapat ditempati. “Terima kasih kepada pemerintah karena sudah membantu kami, dan alangkah lebih baik jika ada juga bantuan perbaikan jalan di lingkungan kami karena jalan yang lama sudah rusak dan sering terjadi genangan air dari air pasang sungai,” ujarnya. 

(Diana Saragih dan Yogiantoro)