Selasa, 07 Agustus 2012 - 12:38 WIB
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO PADA SIDANG KABINET TERBATAS DI KEMENTERIAN ESDM, KANTOR PUSAT PERTAMINA PADA TANGGAL 7 AGUSTUS 2012
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 902 kali


Bismillahirrahmanirahim,

Assalamu’alaikum, Wr.Wb.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Saudara Wakil Presiden dan para peserta Rapat Koordinasi yang saya hormati. Alhamdullilah kita kembali melaksanakan rangkaian kunjungan kerja kita ke berbagai kementerian dan lembaga, dan hari ini ke Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral yang dilaksanakan di Kantor Pusat Pertamina.

Sebelum Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan laporan dan presentasinya berkaitan dengan apa yang kita lakukan sekarang ini dalam pembangunan sektor energi dan sumber daya mineral, termasuk isu-isu aktual yang dihadapi, serta solusi apa yang ditempuh oleh jajaran Energi Sumber Daya Mineral. Sebagaimana biasa saya ingin menyampaikan sejumlah hal sebagai pengantar.

Sebagaimana kita ketahui bersama sektor energi adalah sektor yang penting. Energi merupakan keperluan masyarakat kita dan menjadi hajat hidup mereka semua  sebagaimana pangan. Oleh karena itu negara dalam hal ini pemerintah harus memiliki kebijakan strategi dan juga program-program aksi yang tepat di bidang energi ini, terlebih sekarang ini dengan meningkatnya penduduk dunia sudah mencapai 7 miliar. Demikian juga penduduk Indonesia, maka kebutuhan atau demand akan energi meningkat secara signifikan. Sementara dari sisi supply tidak selalu bisa mengikuti tuntutan dari demand itu mismatch atau gap antara supply dengan demand inilah yang sering menimbulkan persoalan, bukan hanya persoalan ekonomi, bahkan juga persoalan sosial politik dan keamanan publik.

Kita mengikuti dinamika di tingkat dunia politik sekarang ini juga dipengaruhi oleh kompetisi perebutan sumber-sumber kehidupan, termasuk sumber-sumber energi di masa depan. Oleh karena itu sebagai negara yang Alhamdullilah dikarunia oleh Allah SWT sumber-sumber energi yang relatif cukup marilah kita kelola dengan baik dan kemudian kita gunakan dengan baik pula.

Saya mengingatkan betapa pentingnya kita mengelola permasalahan energi dan sumber daya mineral ini. Kalau Saudara ingat BBM katakanlah itu dimata rakyat yang dilihat adalah harganya, Sedangkan di mata kita disamping harga berapa besar subsidi yang harus dikeluarkan untuk menopang harga minyak yang berlaku sekarang ini, harga BBM maksud saya. Makin besar subsidi diberikan kepada BBM dan listrik maka ruang untuk membangun keperluan yang lain termasuk pembangunan infrastruktur juga berkurang, karena kurangnya infrastruktur menganggu investasi. Investasi terganggu pertumbuhan terganggu. Pertumbuhan terganggu, lapangan pekerjaan terganggu dan segala turunannya. Hanya dari urusan berapa harga BBM yang paling tepat dan berapa subsidi yang paling baik untuk itu. Alhamdullilah meskipun keadaan kita masih dipenuhi dengan banyak persoalan dan tantangan.  Kemarin BPS mengumumkan kuartal kedua dan sudah diberitakan oleh berbagai media internasional. Kita tumbuh 6,4%. Bayangkan kalau urusan yang menganggu investasi itu bisa kita bikin beres, investasi lebih naik lagi, tidak perlu khawatir kita dengan menciutnya ekspor akibat krisis ekonomi global artinya dari pertumbuhan 6,4% itu saya yakin dan saya optimis bisa tumbuh lagi.

Saya ingin menggambarkan ada mata rantai antara kebijakan harga BBM, kebijakan subsidi dan peluang yang kita dapatkan di dalam membangun ekonomi sekarang dan ke depan. Listrik kita dulu menyadari kalau listrik berkurang kita punya program penambahan 10 ribu mega watt. Kita ingin dapat laporan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sudah berapa yang sudah bisa kita direalisasikan, berapa yang belum, kemudian kita masuk pada penambahan listrik 10 ribu mega watt kedua, sejauh mana implementasinya . Mengapa ini saya angkat karena kalau listrik kurang, industri akan terpukul, bahkan terhenti bahkan ada orang berani berinvestasi karena tidak ada jaminan dukungan listrik. Ini juga banyak turunanya, banyak dampaknya.

Demikian juga kontrak-kontrak menjadi perhatian publik. Saya mengatakan berkali-kali disatu sisi kita harus mentaati kontrak, itulah norma dan nilai internasional, tentunya Indonesia sebagai anggota G-20, anggota PBB, negara terbesar di ASEAN harus bagian dari rezim internasional, begitulah tata kehidupan dunia, namun di sisi lain kontrak-kotrak di masa lalu yang tidak sangat adil yang sungguh merugikan negeri ini rakyat kita tentu kita harus berbicara baik-baik.

Saya tahu ESDM sudah melangkah sejumlah akhir sudah diraih, tapi tolong dilaporkan nanti apa yang tengah kita lakukan dan kemudian apa yang telah kita capai dan apa lagi pekerjaan rumah berikutnya lagi apa Minerba, Mineral dan batubara, ini komoditas kita batubara yang mengincar negara lain untuk kepentingan dia, jangan keliru kita. Mari kita kelola dengan baik, kerja sama internasional itu lazim di perekonomian dunia yang sudah integrate dan interconnected sekarang ini, tetapi jangan kita tidak mendapatkan manfaat yang terbesar dari usaha di bidang Minerba ini. Oleh karena itulah kita telah berketetapan untuk mengeluarkan policy bahwa minerba itu harus singkatnya dilakukan hilirisasi dengan nilai tambah yang lebih besar, manfaat yang lebih besar sehingga baik dan adil bagi negara kita.

Itulah sejumlah  hal yang ingin saya sampaikan sebagai pengantar agar sekali lagi kita semua termasuk jajaran Kementerian ESDM dengan segala BUMN yang ada di dalam bisa memahami cara pandang ini dan kemudian goal atau tujuan yang hendak kita capai dari sektor ESDM. Dengan pengantar ini saya persilakan Menteri ESDM untuk menyampaikan laporan dan presentasinya.

                                                --------------------------