Jumat, 10 Agustus 2012 - 22:13 WIB
PENGANTAR AWAL PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO PADA SIDANG KABINET TERBATAS MENGENAI PERKEMBANGAN KEMAJUAN PENYALURAN KREDIT UNTUK UKMK GEDUNG BRI PUSAT, JAKARTA, JUMAT, 10 AGUSUTUS 2012.
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 676 kali


 

Bismillahirahmannirahim,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Saudara Wakil Ppesiden Republik Indonesia, saudara-saudara peserta rapat koordinasi yang saya hormati. Alhamdulilah kita dapat kembali melanjutkan rangkaian kunjungan kerja kita di sejumlah Kementerian dan Lembaga pemerintah, dan hari ini kita berkunjung ke salah satu Badan Usaha Milik Negara BRI dengan tema untuk membahas perkembangan atau kemajuan satu program yang sangat penting yaitu penyaluran kredit untuk usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah yang kita  kita kenal dengan kredit untuk rakyat atau KUR.

Sungguh pun yang menjadi shohibul bait BRI, tetapi yang kita bahas ini adalah kemajuan dari penyaluran KUR yang dilakukan oleh berbagai bank baik pusat maupun daerah yang terus terang memiliki manfaat yang besar. Namun sebelumnya saya ingin menyampai beberapa hal sebelum nanti Menko Perekonomian akan mengupdate kemajuan penyaluran KUR ini secara nasional, dan kemudian saya meminta Direktur Utama BRI untuk menyampaikan apa yang dilakukan BRI, meskipun bukan hanya BRI yang menyalurkan KUR ini, para pimpinan bank yang lain juga hadir tapi bagaimana pun  jaringan dan cakupan yang disalurkan BRI jauh lebih luas. Sementara bank-bank yang lain memiliki peran yang tidak sama mesknpun mereka juga berkontribusi terhadap menyaluran KUR ini, bank-bank diluar BRI mengemban tugas yang tidak kalah penting penyaluran kredit pada wilayah yang lain juga untuk mengerakan perekonomian kita.

Saudara-saudara, bank dan perbankan ini sangat penting, dikala tidak ada gejolak atau krisis maka bank dengan memberikan kredit antara lain bisa mengerakan perekonomian. Banyak yang difasilitas dan kemudian hasilnya juga nyata atau riil. Tentu diluar menyalurkan kredit juga ada usaha simpan dan pinjam dan usaha-usaha yang lain juga itu sangat diperlukan oleh masyarakat kita, tapi bank dan perbankan juga sering menjadi awal malapetaka perekonomian di dunia. Krisis 2008-2009 antar lain juga dipicu oleh krisis perbankan, kolepsnya bank pada tingkat dunia. Sekarangpun krisis 2011-2012 ada bank di Eropa yang sekali bailout itu memerlukan anggaran 100 miliar dollar AS setara hampir 1.000 triliun rupiah.

Dinegara kita 1998 krisis ekonomi yang sangat dahsyat juga dipicu oleh krisis perbankan, 2008-2009 kalau kita tidak cepat dulu untuk melakukan sesuatu untuk salah satu bank yang dianggap bermasalah bisa terjadi lagi seperti 1998-1999 dulu. Meskipun ada resiko politiknya untuk memberikan penyertaan modal sementara atas Bank Century yang jumlah sekitar 600 juta dolar, political costnya tinggi sekali sampai setahun kurang lebih, meskipun tidak segera pada saat diambil tindakan menyelesaikan masalah tidak terjadi krisis, tidak ada apa-apa tetapi setahun kemudian lantas menjadi isu besar. Kita pahami memang politik bisa begitu meskipun jumlah belum seberapa dibandingkan bailout negara lain yang juga dilakukan dengan tujuan yang sama. Oleh karena itu, kalau mengingat peran bank seperti saya pesan kepada pimpinan perbankan, kelola dengan baik, jalankan misi baik untuk perekonomian maupun untuk raykat kita juga dengan baik. Keliru lalai apalagi ada penyimpangan dampaknya luar biasa.

Saudara-saudara saya ingin menyampaikan bahwa kewajiban dan misi besar kita boleh saya katakan ada dua yang berkaitan dengan dunia keuangan dan perbankan. Pertama, untuk bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat mengurangi kemiskinan dan pengangguran, salah satu cara yang ditempun adalah  dengan mengerakan usaha mikro usaha kecil dan usaha menengah. Dan KUR yang kita lakukan, yang saudara salurkan juga salah satu jalan atau cara yang efektif untuk mengerakan usaha mikro dan usaha kecil utamanya yang langsung maupun tidak langsung berkontribusi untuk pengurangan kemiskinan dan pengangguran dan peningkatan kesejahteraan rakyat, itu yang pertama.

Sedangkan kewajiban, misi yang kedua yang juga bisa disumbang dunia keuangan dan perbankan adalah kita mengerakan, mengembangkan dan mengaplikasikan apa yang disebut dengan financial inclusion yang saya terjemahkan keuangan untuk semua. Rakyat berpenghasilan rendah pun punya akses ke perbankan tentu dengan cara yang lebih mudah. Financial inclusion ini sepertinya hanya urusan simpan pinjam atau hal hal yang berkaitan dengan keuangan untuk rakyat perpenghasilan rendah misalnya, tetapi ini juga memiliki tujuan mulia karena manakala negara bisa menerapkan dan menjalankan yang disebut financial inclusion maka itu mencerminkan bahwa kita peduli pada keamanan dan keadailan social, social security dan justice social justice. Begini saudara-saudara saya lahir dari komunitas yang berpenghasilan rendah, mereka kaum miskinyang berpenghasilan rendah itu biasanya dalam kehidupannya memiliki kecemasan fear dengan penghasilan yang pas-pasan, bagaimana besok, bagaimana lusa, bagaimana anak-anak saya dan seterusnya.

Fear, tentu tidak adil sekarang Indonesia anggota G-20, ekonominya terbesar, disebut salah satu emerging economic. Lantas  masih ada rakyat yang memiliki kecemasan atas masa depannya oleh karena itulah financial inclusion dalam arti yang luas dan nanti kalau bisa dijalankan di negeri ini tujuan dan manfaat akan luar biasa baiknya, dan bicara financial inclusion saya tadi berbicara dengan Wapres itu bukan soal orang berpenghasilan rendah itu bisa mengakses pada perbankan, bisa menyimpan uang dengan cara yang mudah, murah bahkan ada yang digratiskan, demikian juga bisa meminjam untuk keperluan tertentu.

Saya tahu Bank Indonesia telah mempelopori dengan tabunganku dan juga imbangan dari yang lain-lain. tetapi saya ingin betul tahun-tahun mendatang ini lebih digerakan dan ditingkatkan. Setiap kita menghadiri G-20 maksud saya delegasi Indonesia saya selalu mengingatkan Pemimpin Dunia disitu juga ada World Bank, disitu juga ada IMF, itu ada Regional Development Bank, agar yang dipikirkan jangan hanya global financial stability misalkan, global financial system agar ekonomi bergerak ekonomi dunia tumbuh tetapi saya selalu ingatkan think about pembangunan, about social protection, about narrowing gap between the have and the have not, termasuk financial inclusion. Dan ketika kita sering bertemu dengan lembaga-lembaga keuangan internasional kita kita serukan, jadi kita pun sadar bahwa itu perlu kita tingkatkan. Di Los Cabos G-20 yang belum lama dilaksanakan saya bersama Presiden Meksiko dan Presiden Chile serta champion dari financial inclusion pada tingkat global mendeklarasikan agar dunia lebih bekerjasama untuk financial inclusion ini.

Saudara-saudara itulah dua hal besar berkaitan dengan keuangan berkaitan dengan perbankan berkaitan dengan policy kita. Kalau kita lihat dari dua hal besar itu, urusan usaha rakyat, urusan mikro kredit menurut saya sudah berjalan sudah oke tinggal bagaimana kita membuat lebih oke. Kalau selama ini lebih banyak pada industri atau sektor tengah dan hilir. Maka marilah kita salurkan ke sektor hulu misalkan di komunitas pertanian, komunitas nelayan dan lain sebagainya. Bikin aturan yang tepat supaya jalan, kalau aturannya tidak tepat ya tidak jalan, kalau tidak ya sayang sekali uangnya ada ratusan triliun kita salurkan tetapi tidak terserap. KUR ini juga dapat feedback ada testimoni ada yang mengatakan KUR tidak ada artinya ya salah besar, tidak jujur itu.

Nah yang kedua financial inclusion ini menurut saya mari dengan kerjasama yang bagus kita tingkatkan kita masih punya waktu dua tahun untuk kabinet Indonesia bersatu kedua ini mari kita lakukan segala sesuatunya agar financial inclusion ini betul-betul berada dimana-mana. Silahkan BI, bank-bank baik pemerintah negara maupun swasta dan semua pihak untuk bekerjasama menyukseskan financial inclusion ini, termasuk financial literacy. Rakyat ini harus didik diajari ngga usah gamang dengan bank bisa ko menyimpan dengan cara begini kalau perlu uang bisa ko meminjam dengan cara begini dengan catatan tolong ini, tolong itu kalau ini sudah dimengerti oleh seluruh rakyat Indonesia maka policy dan program untuk mengembangkan financial inclusion akan berhasil dengan baik.

Itulah saudara saudara yang saya sampaikan sebagai pengantar, dan setelah ini saya persilakan Menko Perekonomian terlebih dahulu dan setelah itu mewakili dari para pimpinan perbankan nanti Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia kami persilakan laporan dan presentasinya.

(Humas Setkab)