Senin, 19 Agustus 2013 - 15:05 WIB
PIDATO DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO PRESIDEN REPUBLIK INONESIA PADA PEMBUKAAN KONGRES DIASPORA INDONESIA II
, JCC, 19 AGUSTUS 201
Oleh : DESK INFORMASI
- Dibaca: 1616 kali


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati para Ketua Lembaga Tinggi Negara,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II,

Yang Mulia para Duta Besar Negara Sahabat,

Yang saya hormati para Duta Besar RI di beberapa Negara Sahabat,

Yang saya hormati peserta Kongres Diaspora Indonesia Kedua sekalian yang saya muliakan.

Salam diaspora,

 

Pertama – tama, atas nama Pemerintah dan rakyat Indonesia, saya ucapkan selamat datang di Jakarta kepada para peserta Kongres Diaspora Indonesia Kedua.  Kepada diaspora yang beragama Islam, saya ucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1434 Hijriah, maaf lahir batin.

Tahun lalu, saudara-saudara menyalakan api sejarah dengan menyelenggarakan Kongres Dias-pora Indonesia yang pertama di Los Angeles. Kongres tersebut dihadiri lebih dari dua ribu peserta, dan menghasilkan Deklarasi Diaspora Indonesia yang tadi dengan sangat inspiratif dibacakan oleh wakil-wakil diaspora.

Tahun ini, Kongres kembali mengukir sejarah karena untuk pertama kalinya mengajak diaspora Indonesia "mudik" ke tanah air. Dan diaspora kali ini hadir dalam jumlah yang lebih besar dibanding di Los Angeles - hampir 4,000 peserta !  Ini sesuatu yang luar biasa karena saya tahu banyak diaspora yang datang dari jauh - dari Afrika,  Amerika dan Amerika Latin. Saya sampaikan apresiasi yang tinggi atas dedikasi dan itikad baik saudara-saudara untuk mensukseskan Kongres ini.

Masih segar dalam ingatan saya bahwa tahun lalu saya menyatakan bahwa tidak boleh ada diaspora Indonesia yang diperlakukan seperti orang asing jikalau pulang ke kampung halaman-nya. Mudah-mudahan, selama di Indonesia, sauda-ra-saudara dapat merasakan sendiri sambutan kekeluargaan dari rakyat Indonesia. Prinsipnya: sepanjang di kepala, hati dan darah anda ada "Indonesia", maka sepanjang itu pulalah anda akan selalu menjadi bagian dari keluarga besar Indonesia.

Karena itulah, saya gembira bahwa dalam acara pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus di DPR kemarin, untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik hadir delegasi diaspora Indonesia, dan secara resmi diumumkan keberadaannya oleh Ketua Sidang.  Ini pertanda jelas bahwa bangsa dan negara Indonesia benar-benar memandang dias-pora sebagai sahabat dan aset Indonesia.

Kongres ini merupakan kesempatan yang berharga bagi para diaspora Indonesia dari berba-gai belahan dunia untuk bertemu dan berkenalan dengan sesama diaspora.  Teorinya sebenarnya sangat sederhana : jaringan, atau networking, adalah  sumber kemajuan dan peluang --- semakin banyak jaringan yang terjalin, semakin banyak pula peluang yang timbul.  Karena itu, manfaatkanlah kesempatan Kongres ini untuk saling mengenal dan mengembangkan jaringan yang dapat menguntung-kan kita semua.

Dari perhelatan besar ini, mudah-mudahan kita semua dapat memahami bahwa Indonesia bukan saja suatu bangsa, namun juga adalah warisan budaya.  Indonesia is not just a country.  It is also a heritage.

Warisan budaya ini tersebar di berbagai penjuru dunia. Di Afrika Selatan, konon ada 1 juta orang yang berdarah Melayu, sebagian besar dari Indo-nesia. Disana, pejuang asal Makassar, Syeikh Yusuf telah diakui sebagai pahlawan nasional Afrika Selatan karena perjuangannya yang gigih melawan apartheid.  Bahkan disana ada kota kecil bernama "Maccasar" yang pernah saya kunjungi. Di Malaysia, selain 2 juta lebih warga Indonesia disana, banyak jutaan lagi warga bumiputera Melayu yang merupakan keturunan Indonesia. Di Madagaskar, sedikitnya 70 % dari 22 juta pendu-duknya diperkirakan berdarah Indonesia.  Di Suri-name, jumlahnya sekitar 15 %.  Di Belanda, konon ada 1 juta orang yang berdarah Indonesia.  Di Timor Leste dan di Kaledonia Baru, proporsinya orang berketurunan Indonesia juga tinggi.

Saya yakin, di semua tempat ini Indonesian heritage memperkaya khasanah budaya negara-negara tersebut, dan menjadi aset yang menyu-burkan persahabatan antar-bangsa. Di semua tempat ini, heritage Indonesia menjadi sinar budaya yang luhur, yang santun, yang menghargai kebhi-nekaan, namun yang keras berjuang demi keadilan.

Kongres ini juga merupakan kesempatan yang langka bagi rakyat Indonesia di tanah air untuk menyadari dan melihat profil diaspora Indonesia yang sebenarnya.  Kita menyadari, profil diaspora ini masih belum sepenuhnya dipahami di tanah air.

Profil apa itu?

Profil diaspora Indonesia sebagai suatu komu-nitas global yang besar, yang terdiri dari ratusan komunitas yang tersebar di berbagai kota, negara dan benua, yang jumlahnya totalnya mungkin sebanding dengan penduduk kota Jakarta.

Profil diaspora Indonesia yang walaupun sangat beraneka-ragam namun umumnya mempunyai ikat-an batin dengan Indonesia.

Profil diaspora Indonesia sebagai suatu komu-nitas dinamis yang padat ilmu, padat modal, padat jaringan, padat budaya, padat karya.

Diaspora Indonesia penuh dengan sosok-sosok yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi kita.

Ada sosok Sehat Sutarja, yang dengan bermo-dal ijazah listrik dari Pasar Baru berhasil meraih gelar Doktor dari UCLA Berkeley, membangun perusahaan IT raksasa Marvell di Silicon Valley yang kemudian menguasai dua pertiga dari industri semi-conductor dunia.

Ada sosok Sri Mulyani, putri terbaik bangsa Indonesia yang kini kita pinjamkan -- kita pinjamkan -- kepada Bank Dunia untuk menjabat sebagai Managing Director - orang Indonesia pertama yang memegang jabatan tinggi tersebut.

Ada juga cerita 2 kakak beradik dari Kalimantan, Iwan dan Nisin Sunito : yang satu menjadi raja property di Sydney, dan satunya lagi raja peter-nakan di Perth.

Ada sosok Ibrahim Rasool, seorang putra dari keluarga muslim dari Slamang, yang lahir di Cape Town dan kemudian menjadi tokoh African National Congress dan dalam era Presiden Nelson Mandela terpilih menjadi Premier propinsi West Cape.

Ada sosok ratusan anak-anak diapora Indonesia yang dengan ikhlas memecahkan celengan tabung-an mereka untuk memberi bantuan kemanusiaan bagi keluarga dan anak-anak 8 anggota TNI yang tertembak di Papua. Saya diberitahu bahwa bantuan itu akan diserahkan besok kepada Panglima TNI.

Dan jangan lupa : ada 2,5 juta  sosok TKI di luar negeri yang bekerja keras membanting tulang dan selalu mengirim uang untuk membantu sanak saudaranya di tanah air).  Dengan sumbangan kolektif sekitar 7,1 milyar dolar AS (pada tahun 2012), mereka adalah pahlawan devisa Indonesia yang abadi.

Semua inilah yang membuat diaspora Indo-nesia komunitas global yang cemerlang yang penuh potensi.

Sebenarnya, potensi Diaspora Indonesia ini tidak lepas dari tampilnya kekuatan "diaspora" sebagai fenomena global.  Menurut PBB, kini ada sekitar 215 juta orang yang bekerja di luar negara kelahirannya - sama besarnya dengan jumlah penduduk Brazil. Setiap tahun, sekitar 2 juta orang dari dunia berkembang pindah untuk belajar, bekerja atau berbisnis di negara lain.  Dan umumnya mereka terus memelihara ikatan batin dengan negara asalnya.

Devisa yang dikirim oleh diaspora secara global mencapai sekitar 500 milyar dollar AS.  Jumlah devisa yang diterima negara-negara berkembang dari diaspora TIGA kali lebih besar dari bantuan yang diberikan negara-negara maju.  Karena itulah, dalam menentukan strategi pembangunan ke depan, Pemerintah Indonesia mau tidak mau perlu mempunyai "strategi diaspora", agar dapat memanfaatkan aset, jaringan dan brain power yang dimiliki diaspora Indonesia.

Disinilah letak strategis Kongres Diaspora kali ini di Jakarta.  Kalau dalam Kongres pertama, Kongres telah berhasil menyulut semangat dan identitas diaspora Indonesia, maka dalam Kongres ke-dua kalini ini kita harus bisa menjelmakan SEMANGAT menjadi SINERGI.  Sinergi antara segala potensi dan aset diaspora dengan segala potensi dan aset di Indonesia.  Sinergi antara peluang-peluang yang ada di Indonesia dengan peluang-peluang yang ada dalam jaringan diaspora Indonesia.

Menurut saya, ada TIGA bentuk sinergi yang dapat diupayakan melalui Kongres ini.

PERTAMA, sinergi di antara komunitas-komunitas diaspora secara global.

Alhamdulillah, dalam 1 tahun terakhir, telah terjadi proliferasi Indonesia Diaspora Networks secara global.  Saya mendapatkan laporan, sampai saat ini sudah terbentuk 55 chapter Indonesian Diaspora Networks di 26 negara.  Ini adalah pertanda betapa gesit dan semangatnya mereka dalam merintis gerakan diaspora yang baru lahir ini.

Tantangannya adalah bagaimana cabang-cabang IDN tersebut dapat merumuskan suatu me-kanisme interaksi dan kerjasama yang substantif. Selain itu, gerakan diaspora juga perlu sebanyak mungkin menyerap dan merangkul jutaan diaspora Indonesia yang masih belum terjangkau. Disini, saya menghargai sekali pembentukan database berbasis on-line bernama Diaspora Network Brain Bank yang kini sudah operasional.  Saya harap Brain Bank ini dapat menjadi sumber data yang dapat menampung dan menggiatkan brain power diaspora Indonesia.

Sinergi KEDUA yang perlu dicapai adalah antara diaspora dengan Pemerintah, baik Pusat maupun daerah.

Baik Pemerintah maupun diaspora sama-sama mempunyai aset, modal, jaringan dan peluang. Mudah-mudahan dalam Kongres ini, diaspora dapat melihat sendiri kemajuan Indonesia yang pesat sebagai emerging economy dunia.  Kalau anda mencari peluang bisnis, simaklah Master Plan Pembangunan Indonesia yang bernama MP3EI - mirip plat nomor mobil memang - yang akan membentuk 6 koridor pertumbuhan di Indonesia, yang akan  didukung investasi total sebesar 4.012 trilyun rupiah atau sekitar US$400 milyar.  Saya mengundang diaspora untuk mengambil bagian dari rencana besar bangsa Indonesia ini.

Dalam kaitan ini, saya senang bahwa Pemerintah telah menepati apa yang saya janjikan kepada Kongres di Los Angeles tahun lalu : yakni memberikan kemudahan visa bagi diaspora yang sudah tidak lagi menjadi WNI dan memungkinkan mereka untuk dengan mudah memiliki Kartu Izin Tinggal Tetap (Permanent Resident). Alhamdulillah, hal ini sudah terlaksana melalui pengesahan Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 2013.

Saya juga telah menginstruksikan kapasitas kantor Desk Diaspora Indonesia dapat terus ditingkatkan, baik dari segi personel, anggaran dan perangkat, agar dapat membantu melayani jutaan diaspora Indonesia. Namun kebijakan diaspora Pemerintah akan gagal kalau hanya bersifat sektoral saja.  Disini, saya meminta seluruh jajaran Pemerintah untuk "diaspora minded", selalu proaktif dan responsif terhadap tawaran kerjasama, dan jeli menangkap peluang yang diulurkan oleh diapora.   Pemerintah perlu lebih teliti mempelajari potensi diaspora.

Saya senang sekali bahwa diaspora Indonesia dari Belanda kini sedang aktif menjalin kerjasama dengan Pemda DKI untuk membangun inovasi "kampung vertikal" yang hijau dan ramah ling-kungan.

Sinergi KETIGA adalah antara diaspora dengan masyarakat di tanah air.

Tidak semua kerjasama harus melalui Pemerin-tah. Dalam era globalisasi, kita sepenuhnya menya-dari realita bahwa arus interaksi antar-masyarakat justru lebih intensif daripada arus antar-Pemerin-tah.

Karena itu, saya gembira melihat kini sudah ada MOU antara KADIN dan Indonesia Diaspora Business Council yang dipimpin oleh Edward Wanandi, dan HIPMI juga sangat aktif merangkul pengusaha diaspora.

Kita juga apresiatif terhadap program "computer for schools" yang kini sudah berjalan, dan merupakan sumbangan dari diaspora yang mampu kepada sekolah-sekolah di seluruh pelosok tanah air. Atau juga program "quarter a day" dimana anak-anak diaspora menabung 25 cents per hari untuk kelak disalurkan kepada anak-anak sekolah dari keluarga miskin. Saya berharap banyak lagi program sosial yang inovatif yang dilahirkan Kongres.

Kita semua juga tersentuh karena selama di Jakarta banyak diaspora yang berpartisipasi dalam “Kelas Inspirasi” bekerjasama dengan Yayasan “Indonesia Mengajar”, dan ada juga yang ikut program penghijauan sepanjang Kalimalang dan Muara Angke, Jakarta.

Pendeknya, kalau Kongres ini berhasil mening-katkan ketiga sinergi ini, maka saya yakin diaspora Indonesia akan tumbuh pesat secara global.

Saudara-saudara sekalian yang saya banggakan,

Saya berharap tema “Pulang Kampung” Kongres ini tidak hanya sekedar melepas rindu akan kampung halaman. Tetapi juga dapat menghasilkan berbagai  sinergi kerjasama yang bermanfaat bagi kita bersama.

Saya senang bahwa selama Kongres ini akan dibahas oleh para pakar dari diaspora Indonesia mengenai isu-isu penting, seperti inovasi-inovasi diaspora dan manfaatnya bagi Indonesia. Tentunya tidak kalah penting adalah pembahasan mengenai peran pengusaha diaspora dalam mengembangkan peluang bisnis dan investasi di Indonesia.

Saya juga mencatat bahwa diaspora telah menjadi bagian atau stakeholder penting dalam foreign policy establishment Indonesia, serta dalam dunia diplomasi Indonesia. Dalam konteks diplomasi total, diaspora dapat memainkan peran dan memberi kontribusi bagi keberhasilan misi dan engagement Indonesia di luar negeri.

Untuk itulah, saya mendorong agar diaspora tidak segan-segan outreach ke Perwakilan-perwa-kilan Indonesia di luar negeri. Begitu pula, sudah menjadi keharusan bagi Perwakilan-perwakilan untuk engaged dengan diaspora Indonesia di nega-ra akreditasinya. Saya juga sangat berharap agar kemampuan seorang Kepala Perwakilan dalam membina diaspora di negara akreditasinya dapat menjadi salah satu ukuran bagi keberhasilan dan efektivitas Kepala Perwakilan tersebut.

Saya sungguh berharap agar Kongres Diaspora Indonesia ini tidak berhenti di sini, tetapi dapat terus dilaksanakan secara berkala dan berkesinambungan.

Diaspora is remarkable community yang saya yakini dapat ikut membangun remarkable Indo-nesia.

Akhirnya, dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT, dan dengan ucapan Bismi-llahirrahmanirrahim, Kongres Diaspora Indonesia Kedua, dengan resmi saya nyatakan  dibuka.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 19 Agustus 2013

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

 

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO