Kamis, 07 April 2011 - 07:39 WIB
Penyediaan Listrik Pulau Lombok
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 3787 kali



Kebutuhan energi listrik mengalami pertumbuhan rata-rata 7 persen pertahun, seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup baik dalam enam tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata tumbuh 6 persen pertahun, bahkan ekonomi Indonesia tetap tumbuh di saat negara-negara di dunia mengalami perlambatan hingga pertumbuhan ekonomi minus akibat krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2009. Ekonomi Indonesia pada tahun 2009 tetap tumbuh positif 4,5 persen yang merupakan tertinggi ketiga setelah China dan India.

Salah satu faktor pendukung tumbuhnya ekonomi tersedianya pasokan energi yang cukup di mana salah satunya ketersediaan listrik. Namun demikian Indonesia dihadapkan pada kenyataan atas permasalahan mendasar terhadap kapasitas pasokan listrik yang tidak mampu mengimbangi peningkatan konsumsi listrik masyarakat dan dunia usaha.

Sejak krisis moneter tahun 1998, pemerintah belum menambah pembangunan pembangkit listrik karena memerlukan investasi besar  dan waktu yang panjang. Pasca krisis dan stabilnya ekonomi Indonesia, pada tahun 2006 Presiden SBY mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 tentang penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk melakukan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang dikenal dengan Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10.000 Megawatt Tahap 1.

BoilerRealisasi dari Perpres tersebut, dibangun 35 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang memiliki kapasitas total 10.000 Megawatt. Dari ke-35 PLTU tersebut, 10 PLTU dibangun di Pulau Jawa dan Bali serta 25 unit dibangun di luar Pulau Jawa. Pembangunan listrik di Jawa dan Bali berlokasi di beberapa wilayah yaitu 3 unit di Banten, 2 unit di Jawa Tengah, 2 Unit di Jawa barat, dan 3 unit di Jawa Timur.

Proyek 10.000 MW di luar Pulau Jawa antara lain dibangun di Sibolga Sumatera Utara berkapasitas 2 x 115 MW, PLTU Pangkalan Susu Langkat  berkapasitas 2 x 220 MW, PLTU Kalsel-Asam-asam dengan kapasitas 2 x 65 MW, PLTU Kupang yang berkapasitas 2 x 16,5 MW, PLTU Ende berkapasitas 2 X 7 MW, PLTU Sulsel-Barru berkapasitas 2 X 50 MW, PLTU 2 Sulut-Amurang  dengan 2 X 25 MW, dan PLTU Maluku Utara-Tidore berkapasitas 2 X 7 MW.

Proyek Percepatan PLTU 10.000 Megawatt ini selain untuk mengejar pasokan tenaga listrik sekaligus merupakan upaya untuk mendukung penghematan dan diversifikasi energi dari pembangkit tenaga listrik berbahan bakar minyak (BBM) menjadi berbahan bakar batubara berkalori rendah. Pengalihan BBM ke batubara sangat menguntungkan, karena cadangan batubara melimpah ruah di Indonesia yang diperkirakan menyimpan 57 miliar ton dan cukup untuk memenuhi kebutuhan energi selama 147 tahun.

Saat ini dari ke-35 PLTU yang dibangun, pembangkit listrik yang sudah selesai dan beroperasi antara lain PLTU Labuan Banten Unit 1 yang sudah mengalirkan sebesar 2 x 300 MW, PLTU Labuan Angin Sibolga dan PLTU Pangkalan Susu. Pada tahun 2011, pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW memasuki tahap akhir dan beberapa pembangkit listrik sudah mulai uji coba, sehingga ditargetkan penambahan daya listrik 2.845 megawatt yang masuk ke sistem jaringan Jawa Bali yang berasal dari enam pembangkit listrik yang berlokasi di Indramayu, Rembang, Lontar, Suralaya, Paiton dan Palabuhanratu.

Sedangkan untuk wilayah Indonesia Timur, pada tahun 2011 ini direncanakan akan mendapat tambahan kapasitas daya dari  PLTU Kalsel-Asam-asam, PLTU 2 NTT - Kupang, PLTU NTT-Ende, PLTU Sulut-Amurang, PLTU Sulsel-Barru dan PLTU Maluku Utara-Tidore.

Kondisi Kelistrikan Pulau Lombok

Jaringan TransmisiPulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan daerah terakhir yang bebas pemadaman bergilir sebagaimana diresmikan Presiden SBY pada 31 Juni 2010. Sebelum deklarasi bebas byar pet (pemadaman bergilir) kondisi kelistrikan di Pulau Lombok mengalami defisit sebesar 35 MW, sehingga harus dilakukan pemadaman bergilir selama 5 – 6 jam perhari.

Untuk mengantisipasi kekurangan daya listrik, PLN melakukan penyewaan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) secara bertahap. Pada tanggal 15 Juni menyewa PLTD berkapasitas 5 MW, kemudian pada 17 Juni menyewa mesin PLTD berkapasitas 10 MW, pada 20 Juni menyewa PLTD sebesar 10 MW sehingga dan pada 30 Juni melakukan revitalisasi pembangkitAmpenan sehingga bisa menambah 5 MW. Dengan demikian, pada 30 Juni kondisi kelistrikan di Pulau Lombok sudah seimbang dengan kebutuhan masyarakat, sehingga bebas pemadaman bergilir, namun masih rawan pemadaman jika terjadi kerusakan pada salah satu pembangkit.

Untuk memperkuat cadangan listrik, pada bulan Agustus 2010, PLN kembali menyewa PLTD bekapasitas 7 MW sehingga kondisi kelistrikan di Pulau Lombok mengalami surplus 7 MW dan bisa bebas pemadaman meskipun. Kondisi kelistrikan semakin kuat dengan penambahan daya sebesar 18 MW pada September – Oktober 2010, sehingga sistem kelistrikan Pulau Lombok mengalami surplus sekitar 25 MW, dan bebas pemadaman bergilir meskipun terjadi perbaikan pada salah satu pembangkit, karena pembangkit rata-rata berkapasitas 4 – 7 MW. Saat ini, sistem kelistrikan Lombok memiliki kapasitas 141,5 MW dengan beban puncak 116 MW dan di luar beban puncak mencapai 65 – 75 MW.

Meskipun telah bebas pemadaman bergilir, rasio elektrifikasi atau masyarakat yang menikmati listrik di Pulau Lombok masih tergolong kecil yakni hanya 25,6 persen masih jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 64,3 persen. Rasio elektrifikasi tertinggi diraih Kota Mataram yang mencapai 43,4% disusul Kabupaten Lombok Barat 34,1%, Kabupaten Lombok Utara 27,4%, Kabupaten Lombok Tengah 22,3% dan rasio elektrifikasi terkecil adalah Kabupaten Lombok Timur yang baru mencapai 16,1,%. 

Dalam rangka memperkuat sistem kelistrikan Pulau Lombok sedang dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) NTB Unit 2 berkapasitas 2x25 MW dan Unit 3 berkapasitas 1x25 MW yang berlokasi di Jeranjang Kabupaten Lombok Barat. PLTU Unit 2 merupakan bagian dari proyek pembangunan listrik 10.000 MW tahap 1 dengan investasi Rp 354,29 miliar dan US$ 30,78 juta yang kini progresnya telah mencapai 24 persen dan ditargetkan selesai pada September 2012. Sementara PLTU unit 3 merupakan pembangunan pembangkit yang dibiayai APBN dengan anggaran Rp 296,28 miliar di mana progresnya telah mencapai 80 persen dan diharapkan selesai pada Agustus 2011.

Keceriaan Setelah ListrikPembangunan PLTU NTB ini dilengkapi pembangunan Gardu Induk Jeranjang 150 KVA serta jaringan transmisi untuk mengalirkan listrik. PLTU NTB memerlukan batubara sekitar 491.720 ton pertahun untuk Unit 2 dan 140.160 ton untuk PLTU unit 3. Dengan hadirnya PLTU ini diharapkan semakin memperkuat sistem kelistrikan Pulau Lombok dan bisa menyelesaikan daftar antrian listrik yang kini mencapai 172 ribu calon pelanggan. Dalam rangka memperluas rasio elektrifikasi, PLN Mataram sebagai penanggung jawab pelayanan listrik di Pulau Lombok telah melakukan sambungan baru pada 27 Oktober 2010 sebanyak 13.136 sambungan, sementara untuk Pulau Sumbawa mencapai 2.886 sambungan sehingga total sambungan listrik baru di NTB mencapai 16.022 sambungan. Penyambungan listrik baru di Pulau Lombok ini merupakan bagian dari Program Nasional Gerakan Sehari Sejuta Sambungan Listrik.

Dari target satu juta pelanggan baru, PT PLN berhasil melebihi target dengan menyambungkan 1.001.042 sambungan listrik baru di seluruh Indonesia. Dengan penyambungan baru ini, daftar tunggu sambungan listrik baru secara nasional berkurang dari 2,5 juta calon pelanggan menjadi sekitar 1,5 juta calon pelanggan.

Penyambungan listrik di Pulau Lombok mendapat sambutan antusias dari masyarakat, karena selama ini mereka menggunakan diesel atau ikut listrik tetangga, sehingga pemakaian terbatas dan biaya yang mahal. Adanya sambungan listrik baru membuka wawasan dan jendela informasi seiring antusiasme masyarakat menyaksikan siaran televisi atau radio. Masyarakat yang sebelumnya tidak bisa menikmati siaran televisi atau radio, kini bisa bebas mencari informasi sekaligus menikmati hiburan. Sambungan listrik juga telah mengubah wajah lingkungan yang semula gelap menjadi terang benderang.

Keceriaan Warga Setelah Sambungan ListrikSalah satu masyarakat penerima sambungan listrik baru adalah Eko Supriyadi, warga Desa Midang Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat yang memasang listrik berkapasitas 1.300 watt. “Dengan adanya listrik, lingkungan di sini jadi terang benderang. Dulu di sini rawan pencurian karena gelap, sehingga tiap malam saya selalu ronda. Sekarang alhamdulillah tidak ada lagi tindakan pencurian,” tuturnya. 

Sebelum menggunakan lisrik, ia memakai genset sehingga harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 300 ribu perbulan untuk biaya pembelian bensin sekitar 2 liter perhari. “Waktu pakai genset hanya bisa menyalakan lampu 6 jam perhari, setelah itu gelap gulita,” tambahnya.

Penerima sambungan listrik lainnya adalah Paulus warga Jl. Kristal 6 Desa Midang Kecamatan Gunung Sari yang mendapat sambungan berkapasitas 900 watt dengan biaya pemasangan Rp 2,33 juta. Sebelum mendapat sambungan listrik ia menggunakan genset serta ikut sambungan dari tetangga kampung. “Dengan adanya listrik baru menjadi lebih bebas, bahkan sekarang saya kasih sambungan listrik ke tetangga yang belum dapat jaringan listrik,” tuturnya. “Dalam tiga bulan ini, saya membayar Rp 26 – 48 ribu, saya khawatir nanti bayar mahal, karena meteran saya belum pernah dikontrol,” tambahnya. (Darwis dan Firman)