Senin, 11 April 2011 - 14:38 WIB
Sekolah Gratis di Jembrana
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 3600 kali


Pendidikan berperanan penting dalam memajukan suatu bangsa. Semakin besar masyarakat yang mengenyam pendidikan, akan semakin besar pula kemajuan yang bisa dicapai. Untuk itulah pemerintah menetapkan pengembangan pendidikan sebagai program prioritas. Hal ini ditandai dengan kebijakan pengalokasian anggaran pendidikan sebesar 20 persen APBN sebagaimana diamanatkan konstitusi. Anggaran pendidikan tahun 2009 sebesar Rp 207,41 triliun, tahun 2010 naik menjadi Rp 209,54 triliun, dan tahun 2011 naik lagi menjadi Rp 248,97 triliun.

Anggaran pendidikan tahun 2010 dialokasikan untuk pembangunan gedung SD – SMP satu atap di 250 lokasi dengan anggaran Rp 100 miliar, pembangunan ruang kelas baru untuk SMP sebanyak 3.000 ruang dengan anggaran Rp 230,38 miliar, perbaikan sarana dan prasarana SMP dengan anggaran Rp 30 miliar, pembangunan laboratorium dan perpustakaan serta peralatannya untuk SMP dan SMA dengan anggaran Rp 183 miliar.

Pemerintah juga melaksanakan pendidikan gratis untuk siswa SD-SLTP (wajar 9 tahun) melalui BOS di mana tahun 2010 dikucurkan Rp 16,6 triliun dan tahun 2011 sebesar Rp 16,4 triliun. BOS telah dilaksanakan sejak tahun 2005 di mana alokasi untuk tiap siswa terus ditingkatkan. Pada tahun 2011, untuk siswa SD di kabupaten ditetapkan Rp 397 ribu  dan untuk siswa SD di kota Rp 400 ribu, sedangkan untuk siswa SMP di kabupaten diberikan Rp 570 ribu dan untuk siswa SMP di kota Rp 575 ribu.

Selain itu untuk membantu siswa miskin, pemerintah memberikan beasiswa khusus siswa miskin (BKSM) yang diberikan kepada 1,79 juta siswa SD dengan anggaran Rp 684,58 miliar, tingkat SMP sebanyak 751.153 siswa dengan anggaran Rp 413,15 miliar, tingkat SMA sebanyak 248.124 siswa dengan anggaran Rp 193,53 miliar, dan pelajar SMK sebanyak 329.000 siswa dengan anggaran Rp 256,62 miliar.

Pemerintah juga melaksanakan program  Beasiswa Bidik Misi yang diberikan kepada 20 ribu mahasiswa baru dengan besarnya beasiswa Rp 5 juta persemester. Dana tersebut untuk biaya kuliah, buku serta biaya hidup selama menempuh pendidikan.

Seiring mempermudah akses pendidikan bagi siswa, pemerintah juga terus meningkatkan kesejahteraan dan kualitas guru. Hal ini ditandai dengan ditetapkannya guru sebagai profesi, sehingga secara bertahap dilakukan sertifikasi dan diberikan tunjangan yang besarnya satu bulan gaji. Hingga tahun 2010 jumlah guru yang sudah bersertifikat sebanyak 404.808 guru SD, dan 130.549 guru SMP dan SMA. Untuk itu, pemerintah telah menganggarkan tunjangan profesi guru sebesar Rp 13,48 triliun.

Keterpaduan program pendidikan diharapkan akan melahirkan generasi muda yang cerdas, berkualitas dan berprestasi baik tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, pengelolaan lembaga pendidikan juga diharapkan lebih profesional dengan mengedepankan pembinaan siswa secara komprehensif, baik kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual.

Salah satu contoh daerah yang menaruh perhatian besar pada dunia pendidikan adalah Kabupaten Jembrana, Bali, yang menggratiskan biaya pendidikan untuk siswa SD hingga SLTA. Sekolah gratis untuk SD dan SLTP dilaksanakan sejak tahun 2005 dengan dana BOS, sedangkan sekolah gratis untuk SLTA dilaksanakan sejak tahun 2006 dengan menggunakan dana dari APBD Kabupaten Jembrana dengan jumlah anggarannya per tahun sekitar Rp 2,85 miliar. Pemkab juga melarang sekolah-sekolah di Jembrana memungut biaya pendidikan bagi siswa, termasuk untuk pelaksanaan ujian nasional.

Tahun 2010 Jembrana mendapat anggaran BOS sebesar Rp 1,26 miliar dengan rincian untuk SD sebesar Rp 693,9 juta dengan jumlah murid sebanyak 27.750 orang, dan untuk SLTP sebesar Rp 574,5 juta dengan jumlah murid sebanyak 11.190 orang. Proses pencairan BOS dilaksanakan setiap tiga bulan yakni Maret, Juni, September dan Desember di mana dananya langsung ditransfer ke rekening sekolah, sehingga tidak ada pemotongan oleh Dinas Pendidikan. Meski pencairan sudah tepat waktu, pihak sekolah mengharapkan pencairan BOS dilaksanakan pada awal triwulan yakni Januari,  April, Juli dan Oktober, agar pihak sekolah tidak mencari dana talangan terlebih dahulu.  

Pelaksanaan sekolah gratis salah satunya terwujud di SDN 3 Dauhwaru, Kecamatan Jembrana yang mendapat dana BOS sebesar Rp 92.104.000 untuk 216 siswa, dan tahun 2011 (triwulan pertama) Rp 22.728.500 untuk 226 siswa. Para siswa juga mendapat pinjaman buku-buku pelajaran, sehingga tidak perlu membeli buku. Selain bersekolah gratis, sebanyak empat siswa mendapat beasiswa miskin sebesar Rp 720.000/tahun/orang yang diberikan dua kali dalam setahun. Uang tersebut dipergunakan untuk membeli seragam sekolah, buku, tas, dan alat-alat sekolah lainnya. Penggunaan beasiswa tersebut dimonitor oleh kepala sekolah sehingga tidak ada yang dipakai oleh orang tua murid untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Para siswa yang mendapat beasiswa itu antara lain Yoga Prasetya Putra, kelas 5, Ikd Agus Juliawan, kelas 4, dan Ni Luh Putu Mega Artini, kelas 6. Yoga buah hati I Gusti Agung, pesuruh di kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Dia mendapat beasiswa Rp 360.000/semester dan dipergunakan untuk membeli buku tulis, pensil, dan alat-alat sekolah lainnya. “Saya senang bersekolah gratis karena mendapat BOS dan juga mendapat beasiswa,” kata siswa yang bercita-cita menjadi dokter ini.

Ikd Agus Juliawan yang akrab dipanggil Agus anak buruh bangunan. Agus mendapat beasiswa Rp 360.000/semester yang dipergunakan untuk membeli baju seragam dan buku. “Sekolah saya lancar karena sekolah tidak memungut biaya apapun pada siswa. Saya berharap BOS dan beasiswa untuk siswa miskin dilanjutkan,” kata siswa yang ingin menjadi polisi ini.

Sementara itu  Mega, sapaan akrab Ni Luh Putu Mega Artini, mengatakan, ia mendapat beasiswa Rp 360.000/semester yang antara lain dipergunakan untuk membeli buku tulis dan alat-alat tulis. “Selain dapat BOS dan beasiswa, saya juga mendapat pinjaman buku-buku paket,” katanya.

Ayahnya, Nyoman Sutiarsa, adalah kuli serabutan dan berpenghasilan tidak menentu. Nyoman bersyukur karena sekolah anaknya lancar berkat adanya sekolah gratis. “Saya tertolong dengan adanya sekolah gratis dan hal ini meringankan beban saya. Saya ingin Mega terus dapat sekolah sampai perguruan tinggi,” ujarnya.

Pemberian beasiswa bagi siswa miskin relatif tepat sasaran, karena para orang tua rata-rata bekerja sebagai buruh kasar dengan penghasilan tidak menentu, sehingga adanya beasiswa sangat membantu memenuhi kebutuhan sekolah yang menjadi tanggung jawab orang tua antara lain sepatu, tas, seragam, buku tulis, pulpen dan lain sebagainya.

Di SDN 3 Dauhwaru tersedia perpustakaan yang dibangun tahun 2006 dengan anggaran Rp 40 juta yang bersumber dari APBN. Para siswa memanfaatkan perpustakaan ini dengan membaca buku-buku yang dapat menambah pengetahuan.

Manfaat BOS juga dirasakan oleh para siswa SMPN 1 Negara, antara lain I Made Ari Sulistya yang akrab dipanggil Made, kelas VIII B, dan Ida Bagus Kade Andriawan yang akrab dipanggil Bagus, kelas VIII E. Selain bersekolah gratis mereka juga mendapat beasiswa miskin Rp 275.000/semester/orang.  Made adalah anak buruh cuci motor, dan dia bersyukur dengan adanya sekolah gratis. “Orang tua saya berpenghasilan pas-pasan, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Seandainya saya diharuskan membayar biaya sekolah, orang tua saya tidak mampu,” ungkapnya berterus terang.

Sedangkan Bagus adalah anak buruh bangunan, dan ia gembira karena dapat bersekolah de–ngan gratis. “Saya berharap pemerintah melanjutkan sekolah gratis karena sangat menolong murid-murid dari keluarga miskin,” tuturnya.

Fasilitas yang tersedia di SMPN 1 Negara antara lain laboratorium biologi, laboratorium fisika, dan laboratorium komputer. Tahun 2008 SMP ini mendapat anggaran Rp 200 juta dari Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan balai pertemuan, dan tahun 2009 mendapat bantuan 40 unit komputer dari DAK.

Sementara itu salah satu contoh SLTA yang melaksanakan sekolah gratis adalah SMAN 2 Negara yang mendapat dana operasional sekolah dari Pemkab Jembrana sebesar Rp 980 juta/tahun. Sekolah gratis disyukuri oleh para siswa SMAN 2 Negara, antara lain Juli Arthana, dan Sudra. Juli mengemukakan, semua siswa tidak dipungut uang SPP, dan hanya membeli buku-buku pelajaran. “Enak sekolah gratis karena meringankan siswa-siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu,” kata siswa kelas XI ini.

Hal senada diungkapkan Sudra, siswa kelas X. “Saya menyambut baik sekolah gratis karena dapat meringankan beban orang tua saya,” cetusnya.

Dengan adanya pendidikan gratis, membuat pelajar di Jembrana tidak lagi memikirkan biaya sekolah sehingga lebih fokus kepada proses belajar mengajar. Hal ini berdampak kepada tingkat kelulusan SD  hingga SMA tahun 2010 mencapai 100 persen, meningkat dibanding tahun 2009 sebesar 98,60% (SD), 99,23% (SMP) dam 99,97% (SMA).

Selain tingkat kelulusan 100 persen, pelajar Jembrana juga meraih berbagai prestasi yang membanggakan antara lain duta Indonesia dalam ajang Internasional Junior Sains Olympiade (IJSO) tahun 2010 di Nigeria dan juara II pada Olympiade Sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi Bali.  (Arif Rahman Hakim & Mikasari MJ)