Kamis, 26 Juli 2012 - 10:35 WIB
Ciber City dikembangkan di Kota Baubau
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 2640 kali



Kota Baubau merupakan sebuah kota yang baru mekar sejak tahun 2001. Namun, kota ini banyak melakukan pembenahan di bidang pendidikan. Salah satu langkah strategis yang diambil oleh Pemerintah Kota Baubau adalah menyediakan fasilitas internet di sekolah-sekolah dan beberapa lokasi ruang publik sehingga masyarakat dapat mengakses informasi dengan cepat.

Dari 121 jumlah sekolah yang ada di Kota Baubau, 85 diantaranya sudah dapat terkoneksi dengan internet. Program ini berjalan cukup baik berkat kerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan program peningkatan kemampuan dari pemerintah kota Baubau, di mana setiap sekolah mendapatkan bantuan berupa modem untuk mengakses internet. Selain itu di lingkungan sekolah disediakan juga  Wifi yang dapat diakses walaupun kemampuannya masih rendah.

Selain itu pemerintah kota Baubau juga melakukan suatu langkah kerjasama dengan Pemerintah Kota Seoul Korea Selatan baik dalam bidang teknologi maupun dalam penyusunan mata pelajaran tertentu. Ibukota negeri ginseng tersebut membantu perlengkapan komputer sebanyak 300 unit untuk sejumlah sekolah. Selain itu Seoul membantu dalam mengembangkan bahasa tulis dari suku Cia-Cia yang mempunyai kesamaan dialek dengan bahasa Korea Selatan. Kerja sama ini sudah berlangsung sejak tahun 2009, dan akan terus dikembangkan sebagai bagian dari pengembangan kerjasama pembangunan daerah dengan sebutan “ Sister City”.

Kondisi sekolah yang ada di kota Baubau hampir 90 % dalam keadaan baik di mana kondisi sekolah di desa yang terpencil pun dalam keadaan baik, walaupun koneksi internet yang dipasang tidak dapat diakses karena lemahnya signal yang ada. Tetapi untuk ketersediaan komputer setiap sekolah paling tidak sudah memiliki satu ruang computer  dengan minimal 10 komputer, yang dapat dipergunakan untuk pengenalan dasar bagi para siswanya, baik pada tingkat SD, SMP maupun SMA di Kota Baubau.

SMA Negeri 3 Baubau yang terletak di Desa Limpu, Kecamatan  Betoambari memiliki tingkat kelulusan sebanyak 99.8% pada tahun 2012 di mana dari 235 siswa hanya 2 orang yang tidak lulus. Komputer yang tersedia 40 buah buah di mana 20 diantaranya merupakan bantuan dari pemerintah Korea Selatan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyerap dalam pengetahuan teknologi. Sayangnya bantuan ini belum bisa dimaksimalkan karena 20 komputer tidak bisa dioperasikan.

SMAN 3 Baubau dikenal memiliki lingkung–an sekolah yang sejuk dan nyaman. Berdasarkan peninjauan lapangan, pada setiap halaman ruang kelas terdapat taman yang harus dirawat oleh siswa. Secara periodik, taman tersebut dinilai. Kelas dengan nilai terbaik diberi penghargaan. Langkah tersebut adalah bagian dari upaya sekolah untuk memberikan penyadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Program tersebut berdampak terhadap citra sekolah di luar. Tercatat, sekolah ini mendapatkan penghargaan sebagai juara 1  Sekolah sehat pada tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kepala Sekolah SMAN 3 Baubau Ellyati bersyukur karena sekolah–nya mendapat juara 1 pada program Kesehatan Sekolah untuk Provinsi Sulawesi Tenggara. "Pada level nasional kita juga juara ke 10. Ini prestasi yang membanggakan," kata dia.

Untuk penyediaan jaringan internet, lanjut Ellyati, bermanfaat besar bagi siswa karena sangat mendukung program belajar mengajar. Akses internet yang memadai membuat siswa bisa mendapatkan informasi dari mana saja untuk menunjang materi belajar.

La Aimin (19th) pelajar kelas tiga yang baru lulus tahun ini merasa bersyukur karena karena bisa mendapatkan layanan pendidikan yang memadai di Kota Baubau.  Bagi dia, selain pendidikan formal, guru di SMAN 3 memberikan pendidikan tambahan "sadar lingkungan".  "Muatan lokal sadar lingkungan itu penting agar setelah lulus kita punya sense untuk  membantu pelestarian alam," ujar pelajar yang mengaku ada sumbangan wajib Ro 35 ribu perbulan dari Komite Sekolah ini.

Sekolah lain yang merasakan pentingnya teknologi informasi yang memadai bagi siswa adalah SMP Negeri 2 Kota Baubau. Sekolah dengan jumlah siswa sebanyak  981 siswa ini memiliki 1 ruang khusus laboratorium komputer dan satu lagi laboratorium bahasa. Di ruang laboratorium kompter tersedia 18 komputer yang semua terkoneksi internet. Sedangkan di ruang laboratorium bahasa terdapat 21 komputer.

Emmi hafitri, 13 tahun, siswa kelas 8 SMPN 2 Baubau mengaku senang dengan adanya fasilitas komputer yang memadai di sekolah. Dengan fasilitas tersebut, ia bisa mencari data tambahan di internet. "Dengan internet, kita bisa cari data apa saja," kata dia sambil mengerjakan soal ulangan secara online melalui komputer sekolah.

Terlebih, lanjut Emmi, semua fasilitas tersebut ia dapatkan secara gratis karena ada program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). "Kan ada BOS. Jadi kita dapat pendidikan gratis," imbuhnya.

Martin Maini, guru kelas 9 sudah mengajar selama 19 tahun dan sudah mendapatkan sertifikasi sebesar Rp 15 juta/ tahun. Martin bersyukur atas perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru dan peningkatan mutu guru karena sekarang sudah ada 25 guru dari Kota Baubau yang di berikan beasiswa untuk melanjutkan ke S2 di Makasar.

Pada level Sekolah Dasar, SDN 3 Baubau adalah salah satu sekolah yang cukup favorit di Baubau. Sekolah yang terletak di desa Wale, Kecamatan Wolio ini kondisinya bagus dan  sudah dilengkapi fasilitas komputer yang memadai. Sayangnya, hingga kini, sekolah ini belum memiliki koneksi internet.

SDN 3 Baubau sudah mendapatkan dana BOS triwulan I 2012 sebesar Rp 179.580.500. Dana tersebut terpakai sebesar Rp 162.093.680 yang diantaranya dialokasikan untuk pengembangan proses belajar mengajar Rp 50.584.000, kegiatan ekstrakurikuler pengayaan Rp 13.300.000, dan penanaman karakter Rp 4.540.000.

Maurin Helena, pelajar kelas 5, yang bercita-cita menjadi dokter gigi ini bersyukur karena sudah dapat menggunakan komputer untuk menjawab soal-soal yang diberikan oleh gurunya, selain itu dia juga berharap agar pemerintah juga mau memperhatikan pendidikan di desa-desa yang jauh dari kota supaya mereka juga dapat menggunakan komputer.

Dari segi kualitas guru pemerintah kota juga memberikan kesempatan bagi guru untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan ke jenjang S2 di Makassar. Pada tahun 2011 pemerintah kota telah memberangkatkan 25 guru dari tingkat SMP untuk melanjutkan sekolahnya di Kota Makasar dengan bantuan biaya kuliah dari Pemerintah setempat. Sedangkan sertifikasi rata-rata guru sekolah di kota Baubau sudah mendapatkan sertifikasi tanpa adanya potongan.

Pembangunan infrastruktur pendidikan gencar dilakukan di Kota Baubau. Terbukti, gedung sekolah di kota ini yang berjumlah 127 buah (75 SD, 29 SMP dan 23 SMA) 95 % dalam kondisi baik. Semua sekolah berlantai porselen dan atap berlapis waterproof. Tidak ada satupun sekolah yang berlantai tanah.

Pada tahun 2011, pemerintah menyediakan dana alokasi khusus (DAK) pendidikan untuk Sekolah Dasar (SD) di Kota Baubau sebesar Rp 6.599.560.000,-. Dana tersebut sebagian besar untuk pembangunan ruang kelas baru Rp 1.445.460.000,- dan rehabilitasi Rp 1.032.125.000,-. Sedangkan DAK pendidikan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar Rp 2.338.050.000,- yang sebagian dimanfaatkan untuk pembangunan ruang kelas baru Rp 687.050.000,- dan rehabilitasi Rp 200 juta.

Sementara itu, realisasi Bantuan Operasional Sekolah (BOS) juga berjalan relatif bagus. Sejak tahun 2010, program pendidikan gratis 12 tahun sudah terealisasi. Dari segi alokasi dana, anggaran BOS Kota Bau Bau pada tahun 2011 untuk Sekolah Dasar sebesar Rp 7.617.200.000,- dengan jumlah siswa 19.043 orang. Sedangkan untuk SMP sebesar Rp 4.190.025.000,- dengan jumlah siswa 7.287 orang.

Pada tahun 2011 terdapat 153.026 ruang kelas yang sudah diperbaiki. Dimana sebanyak 18.000 ruang kelas SD telah diperbaiki dengan anggaran 2.81 triliun dan direcanakan 92.598 ruang kelas SD akan diperbaiki pada tahun 2012 dengan anggaran 11.81 triliun. Pada tahun 2011 sebanyak 3.500 ruang SMP diperbaiki dengan anggaran 518.4 miliar dan direncakana 38.928 ruang kelas SMP adakn diperbaiki pada tahun 2012 dengan anggaran 5.76 triliun. (Yus dan Yogi)