Kamis, 26 Juli 2012 - 11:40 WIB
Penghijauan dan Penyediaan Air di Gunung Kidul
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 3481 kali



Seiring dengan kesadaran semua pihak, khususnya masyarakat yang memiliki budaya menanam pohon yang kuat, kini Gunung Kidul menjadi daerah ijo royo-royo dan sebagai daerah percontohan pengelolaah hutan berbasis komunitas. Banyak lembaga maupun kelompok masyarakat dari berbagai daerah datang ke daerah ini untuk belajar bagaimana masyarakat bisa mengelola hutan dengan baik.

Tahun  2011 Gunung Kidul telah melakukan gerakan penanaman pohon sebanyak 1 juta lebih sebagai bagian dari pemulihan vegetasi hutan dengan luas total area hutan rakyat di kabupaten ini sebesar 40.000 hektare  yang tersebar di 18 kecamatan. Jadi, setiap tahun luas hutan rakyat bertambah sebesar 300 hektare per tahun.

Tahun 2011 Pemkab Gunungkidul melakukan penghijauan lahan kritis berupa hutan rakyat seluas 355 hektar yang tersebar di 14 kecamatan Bulan Desember 2011. Program tersebut didanai oleh APBD Gunungkidul senilai Rp 433 juta.  Kini Hutan Rakyat di Kabupaten mencapai 35.400,7 Ha yang dikelola oleh kelompok tani ditingkat Padusunan. Ditingkat kabupaten pengelolaan dikoordinir oleh Koperasi yang bernama Koperasi Wana Manunggal lestari.

Selain itu sasaran kegiatan yang paling menonjol adalah Hutan Kemasyarakatan yang dilakukan di kawasan lahan kritis di Hutan Negara yang berstatus Hutan Produksi maupun Hutan lindung dengan pemegang Ijin adalah koperasi tani. Saat ini Luas total Hutan kemasyarakatan mencapai 1.087,65 Ha dan dikelola oleh 35 Kelompok yang bergabung menjadi 7 Koperasi. Salah satu Koperasi Hutan Kemasyarakatan bernama KHK Sedyo Makmur, di Dusun Jragum, Desa Ngeposari Kecamatan Semanu dengan anggota 250 orang dan memiliki luas lahan garapan 115 Ha.  Koperasi ini menanami sebagian besar lahannya dengan pohon jati yang saat ini berumur lima tahun. “ Kami mendapat bibit pohon jati dari pemerintah dan mulai menanam pada tahun 2007 pada awalnya kami bingung bagaimana menggarap lahan yang bebatuan dan tandus” ujar Tambio ketua Koperasi. Selain bantuan bibit, kelompok juga mendapat batuan 6 ekor induk sapi pada tahun 2009, kini sesudah selang tiga tahun berjalan jumlah sapi telah bertambah menjadi 11 ekor. “ dengan adanya berbagai bantuan pemerintah kami menjadi mandiri, saat ini fokus kami menghadapi musim kemarau didepan yang kami siasati dengan menanam musiman dan tidak perlu  banyak air seperti singkong”  jelas Mardi yang menjadi Sekretaris di Koperasi.

Gunung Kidul dengan kondisi tanah yang tandus selama ini setiap tahun selalu mengalami krisis air selama musim kemarau. Pemulihan vegetasi hutan dengan jalan menanam pohon, merupakan solusi jangka panjang. Solusi jangka pendek untuk mengatasi krisis air, yang ditempuh Pemkab adalah mengoptimalkan teknologi pengangkatan air sungai bawah tanah sebagai sumber air yang melimpah. Sebagai kabupaten dengan wilayah terluas di DIY, terkenal salah satunya karena kelangkaan air bersih yang selalu terjadi tiap tahun. Kabupaten ini dikelilingi perbukitan karst dan memiliki curah hujan rata-rata 115 hari per tahun, atau kurang dari separuhnya.

Saking “akrabnya” Gunung Kidul dengan kekeringan, bencana itu bahkan dimasukkan dalam Peraturan Daerah (Perda) No.6/2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Gunungkidul 2010-2030. Gunungkidul dinyatakan memiliki 12 kawasan yang berpotensi mengalami kekeringan. Sebagian besar kawasan itu terletak di selatan Gunungkidul.

Kawasan itu meliputi Purwosari, Panggang, Paliyan, Saptosari, Tepus, Tanjungsari, Girisubo,  Rongkop, Semanu, sebagian Wonosari, Patuk dan Gedangsari. Di sisi lain, Gunung Kidul juga memiliki sumber daya air yang cukup melimpah, sebut saja Sub Sistem Bribin, Seropan, Baron, Ngobaran dan Duren. Selama ini, andalan pasokan air warga Gunungkidul kebanyakan dari perusahaan daerah air minum (PDAM) dan air hujan. Saat kemarau tiba, kekeringan hampir pasti terjadi.

Untuk mengatasi kemarau dan kebutuhan air bersih dibangun sebuah sistem penyediaan air minum (SPAM) yang dinamakan proyek Bribin II di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di daerah Gunungkidul yang tandus itu ternyata air berlimpah, tapi jauh di bawah tanah, di dalam perut bumi. Secara geologis Gunungkidul terbentuk dari pegunungan kapur (karst), di mana air permukaan meresap jauh ke dalam tanah dan membentuk sungai-sungai bawah tanah yang mengalir deras ke laut. Di daerah ini terdapat goa yang menembus bawah tanah dan mencapai sungai-sungai bawah tanah tersebut.  Salah satu goa itu adalah goa Bribin yang berada di pegunungan  Sewu.

Pembangunan sistem bendungan air bawah tanah yang pertama di dunia ini dimulai tahun 2004 dan diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum,  12 Maret 2010. Dananya berasal dari Indonesia sebesar Rp 35 miliar dan Jerman sebesar Rp 3,2 juta euro.

Prinsip kerja Proyek Bribin II terbilang sederhana. Air dipompa melewati pipa setinggi 104 meter dan mampu mencakup 80 – 100 liter/detik. Pompa beroperasi dengan penggerak turbin listrik mikrohidro. Daya listrik sebesar 200 kilowatt sebatas untuk mencukupi kebutuhan proyek, seperti lampu penerangan bawah tanah dan kantor. Dengan teknologi ini dapat menghemat energi sekitar Rp 20 juta setiap hari. Sayangnya turbin mikrohidro rusak karena terendam air saat sungai pasang dan meluap hingga menenggelamkannya.

Di permukaan tanah, air didorong melalui pipa berdiameter 20 sentimeter (cm) sepanjang sekitar tiga kilometer menuju penampungan berkapasitas 1.000 meter kubik di atas bukit setinggi 144 meter. Tepatnya di Dusun Kanigoro, Dadapayu, Kecamatan Semanu. Sebanyak 67.000 jiwa atau sekitar 70 persen penduduk di Kecamatan Semanu telah menikmati air bersih.

Sejak tahun  September 2009 hingga akhir Juni 2012 diperkirakan sudah 628.000 meter kubik air yang disalurkan ke jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), tampungan air dialirkan melalui pipa ke rumah-rumah penduduk hingga jangkauan 30 kilometer.

Sebelumnya telah dibangun proyek Bribin I tahun 1984. Hanya saja, proses itu mahal karena menggunakan generator solar yang setiap jamnya mengonsumsi 200 liter solar. Menggunakan pompa listrik dari PLN, biayanya Rp 265 juta per tahun. Sedangkan pada proyek Bribin II, di luar biaya 3,2 juta euro untuk pengadaan lift, pipa, turbin, pompa, dan pembangunan bendungan bawah tanah, ongkos memompa air nol rupiah. Sistem bendungan bawah tanah dapat dioperasikan secara terus-menerus selama 24 jam tanpa biaya energi.  Keberadaan Bribin II melengkapi Bribin I.

Salah satu desa yang mendapat air bersih dari goa Bribin adalah desa Dadapayu, Kecamatan Semanu. Penduduknya berjumlah 500 KK. Semua penduduk telah berlangganan air PDAM. Seorang warga bernama Ngatio mengatakan ia berlangganan air PDAM sejak tahun 1992. “Dulu sebelum ada PDAM, saya mengambil air di telaga atau di goa Bribin yang terletak 1 km dari rumah saya. Sehari saya memikul tiga ember. Waduh, capek sekali. Tetapi, beban saya mulai berkurang setelah pemerintah membangun sarana air di Goa Bribin. Kini kebutuhan air tercukupi di Semanu,” katanya.

Penduduk lainnya, yaitu Suyati, juga merasakan manfaat proyek Bribin. Mereka mengatakan airnya bersih dan pasokannya lancar. “Warga berlangganan air PDAM sebesar Rp 7.500/ kubik, dimana dulu sebelumnya mereka harus membeli dari mobil tangki yang seminggu sekali datang membawa air dengan harga Rp 75.000- 100.000/ 5 kubik atau hemat lebih dari 2 kali lipat” ujarnya menjelaskan.

Potensi sungai bawah tanah seperti di Gunung Kidul juga akan dilakukan di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, yang berbatasan dengan Gunung Kidul. Terdapat 8 desa di Kecamatan Precimantor, Wonogiri, yang sulit mendapat air bersih.

SPAM lainnya di Gunungkidul adalah SPAM Baron di Kecamatan Tanjungsari, yang dibangun tahun 2007 dan diresmikan tanggal 14 Oktober 2009. SPAM Baron merupakan proyek kerjasama Pemkab Gunungkidul dan pemerintah Jepang. Jepang memberikan bantuan Rp 120 miliar, sedangkan Pemkab Gunungkidul mengucurkan dana Rp 4,9 miliar untuk pembebasan tanah pembuatan jalan masuk, pembuatan pagar, dan pemasangan listrik. Air di SPAM Baron diambil dari Pantai Baron dan melayani 90.000 SR (sambungan rumah) ( Fajar Ilham  & E.S Dalimunthe)