Senin, 13 Agustus 2012 - 12:24 WIB
Sinergi KUR & Gerbang Serasan Pacu Usaha Kecil di Muara Enim
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 3971 kali



Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah yang kreatif memadukan KUR dengan Gerbang Serasan, yakni program bimbingan pembuatan proposal pengajuan kredit serta pemberian subsidi bunga 6 - 8% per tahun. Pemda mengalokasikan dana Rp 2 miliar per tahun untuk subsidi bunga sekaligus asuransi kematian para pelaku usaha kecil.  

Program KUR di Muara Enim disinergikan dengan program khas daerah yakni Gerbang Serasan. Gerbang Serasan merupakan kepanjangan dari Gerakan Pembangunan Melalui Pemberdayaan Masyarakat di Bumi Serasan Sekundang. Bumi Serasan Sekundang adalah motto Kabupaten Muara Enim yang bermakna seiya sekata, satu tujuan. Program Gerbang Serasan mulai dilaksanakan tahun 2001 dan disempurnakan secara signifikan pada tahun 2008, dengan mengalokasikan dana dari ABPD.

Sinergi ini ditujukan untuk membantu usaha kecil di Muara Enim yang kesulitan akses modal, karena itu diberikan  bimbingan sekaligus subsidi bunga. Melalui Gerbang Serasan, Pemda mengalokasikan dana sekitar Rp 2 miliar per tahun yang ditujukan untuk memberikan subsidi bunga 6 - 8% per tahun. Selain itu, pelaku usaha yang masuk dalam program KUR - Gerbang Serasan juga diberikan asuransi kematian, artinya jika nasabah meninggal, maka ahli warisnya akan dibebaskan dari kewajiban membayar hutang karena ditanggung pihak asuransi.

Selain pemberian subsidi bunga, Gerbang Serasan  juga menyediakan Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) yang memberikan pendampingan kepada pelaku usaha dalam mengajukan kredit ke perbankan. Hadirnya KKMB ini telah memberikan rasa percaya diri  lebih para pelaku usaha ketika berhadapan dengan perbankan.  Mereka merasa punya tempat bertanya dan mengeluh, bahkan masyarakat didampingi dari proses awal pengenalan program kredit, pengajuan, hingga pencairan dana. 

Hanya saja, jumlah personil KKMB saat ini hanya 10 orang sehingga jangkauannya belum meluas hingga ke desa-desa. Untuk itu, personil KKMB hendaknya ditingkatkan secara bertahap mulai dari satu kecamatan satu KKMB hingga satu desa satu KKMB. Dengan demikian pergerakan usaha kecil di desa-desa akan semakin berkembang dengan cepat. Dampak dari kurangnya personil KKBM, dana subsidi yang dialokasikan Pemda Rp 2 miliar, yang terserap kurang dari 25%-nya, atau sekitar Rp 454,76 juta. Padahal, potensi untuk pengembangan usaha kecil masih sangat luas, sejalan dengan banyaknya pelaku usaha desa-desa, yang saat ini masih belum tersentuh kredit dan membutuhkan bimbingan.

Berdasarkan peninjauan di lapangan, para penerima kredit KUR-Gerbang Serasan rata-rata usahanya sudah realtif mapan dan beberapa di antaranya sudah terbiasa meminjam kredit dari perbankan. Karena itulah, jumlah kredit yang diterima rata-rata Rp 20 juta ke atas. Tingkat “kemapanan” usaha penerima KUR-Gerbang Serasan juga bisa dilihat dari kemampuan mereka dalam mengembalikan cicilan yang rata-rata lancar. Sementara subsidi bunga diberikan pada akhir masa cicilan, sehingga pada dasarnya mereka mampu membayar cicilan tanpa disubsidi sekalipun. 

Program KUR-Gerbang Serasan memang masih kurang menyentuh kredit kecil di bawah Rp 20 juta untuk masyarakat yang usahanya masih kembang kempis dan memiliki resiko yang tinggi. Padahal, kelompok usaha di bawah inilah sebenarnya yang memerlukan perhatian lebih dan lebih layak mendapat subsidi. Meskipun demikian, ada juga memang beberapa usaha kecil yang sebelumnya kesulitan mendapat KUR, akhirnya bisa memperoleh kredit setelah didampingi KKMB.

Usaha kecil penerima kredit dari program KUR-Gerbang Serasan pada umumnya berkembang cukup baik, dengan peningkatan omset rata-rata 30 – 50%, bahkan ada yang sampai 60% lebih. Perkembangan usaha kecil ini telah berdampak kepada penyerapan tenaga kerja sekitar  2 – 4 orang. Ke depan, seiring dengan penambahan tenaga KKBM, diharapkan penyaluran KUR-Gerbang Serasan bisa lebih menyeluruh untuk usaha kecil maupun mikro, sehingga akan mempercepat pengurangan kemiskinan dan pengangguran di Muara Enim.

Dilihat dari sisi waktu pengajuan kredit, rata-rata berlangsung sekitar 10 hari hingga 1 bulan, terhitung sejak pembuatan proposal, pembuatan surat rekomendasi, survei dan pencairan. Jumlah pinjaman yang disetujui perbankan berkisar 80 – 100 persen dari jumlah yang diajukan dan diterima utuh oleh pelaku usaha, tanpa potongan biaya apapun. 

Sementara itu, dilihat dari sisi usaha yang dibiayai relatif telah menjangkau berbagai jenis usaha di Muara Enim meliputi perkebunan dan pertanian, perdagangan, peternakan, perikanan jasa dan perindustrian. Mayoritas penyaluran kredit didominasi oleh sektor perkebunan dan pertanian yang mencapai lebih 50% dari total penyaluran per tahunnya.

Pada tahun 2011, total dana KUR – Gerbang Serasan yang sudah disalurkan mencapai Rp 12,65 miliar atau 63,02% dari target Rp 20,07 miliar. Dana tersebut diberikan kepada 368 pelaku usaha kecil, di mana sebanyak 77,63% merupakan usaha bidang perkebunan dan pertanian. Pada tahun 2012, jumlah KUR-Gerbang Serasan yang sudah disalurkan tercatat Rp 5 miliar.

Sementara itu, jumlah KUR yang disalurkan di Muara Enim di luar program Gerbang Serasan tercatat Rp 7,18 miliar yang diberikan kepada 1.058 usaha kecil. Penerima KUR di luar program Gerbang Serasan rata-rata mengetahui KUR dari rekan sesama pelaku usaha, mantri KUR dan sebagian dari informasi iklan di televisi atau surat kabar. Proses pencairan berlangsung sekitar 3 – 7 hari serta penerima KUR di bawah Rp 20 juta sebagian masih dikenakan agunan berupa Surat Keterangan Tanah (SKT).

Salah satu penerima manfaat program KUR – Gerbang Serasan adalah M Syarbii, pemilik usaha nasi goreng dan aneka minuman di Terminal Mambo Dua. Ia pertama kali mendapat suntikan modal dari KUR – Gerbang Serasan pada tahun 2010 sebesar Rp 25 juta untuk jangka waktu 24 bulan dengan cicilan Rp 1,3 juta per bulan. Namun demikian, karena usahanya lancar, ia melunasi cicilan tersebut dalam waktu 18 bulan. “Saya sangat terbantu, karena dibuatkan proposal dan pengurusan kreditnya ke bank. Tak hanya itu, di akhir cicilan saya mendapat subsidi sebesar Rp 3 juta yang ditransfer ke buku tabungan,” tuturnya. Setelah lunas, ia pun kembali mendapat kredit sebesar Rp 30 juta yang cair pada 23 Mei 2012 untuk jangka waktu 18 bulan.

Dampak dari kredit ini, tampak dari usahanya yang semakin berkembang mulai dari peralatan penjualan seperti cangkir, gelas, blender, kompor dan meja yang serba baru. Kapasitas kursi juga meningkat dari 18 kursi menjadi 24 kursi, sehingga bisa melayani lebih banyak pelanggan. Selain itu, berbagai menu yang ditawarkan juga semakin beragam  mulai dari bandrek, teh  telor, kopi, aneka jus, es kacang merah  hingga minuman kaleng dan botol (sofdrink). Hal ini berdampak kepada peningkatan omset yang mencapai 66% dari semula Rp 1,5  juta per hari kini menjadi Rp 2,5 juta per hari. “Karyawan saya juga bertambah 2 orang, dari sebelumnya 4 orang menjadi 6 orang, dengan gaji masing-masing Rp 25 ribu – Rp 35 ribu per hari,” tambahnya. 

Perkembangan usaha juga dirasakan Supinarsih yang menggeluti usaha pengolahan kayu di Jl. Ade Irma Suryani, Muara Enim. Ia mendapat kredit Rp 20 juta pada Mei 2011 untuk jangka waktu 2 tahun dengan cicilan Rp 1.017.000 per bulan. Ia juga mendapat subsidi sebesar 6% per tahun atau Rp 1.200.000 per tahun. “Dulu saya mengajukan KUR tahun 2009, tapi ditolak karena dinilai kurang layak. Sekarang dengan dibantu pendamping saya bisa mendapat kredit Rp 20 juta, saya senang  karena merasa dipercaya,” tuturnya.  

Usahanya terus berkembang dengan omset per bulan mencapai Rp 100 juta, sehingga selama 13 bulan sejak meminjam, ia tidak pernah terlambat membayar cicilan. Dampak dari peningkatan usahanya, telah menyerap 10 orang tenaga kerja dari sebelumnya yang hanya 7 orang.

Sementara itu, penerima manfaat program KUR – Gerbang bidang perkebunan antara lain dirasakan Selamet warga Jl. PTP Muara Harapan, Muara Enim yang mendapat kredit Rp 30 juta untuk jangka waktu 3 tahun dengan cicilan Rp 1.334.400 per bulan. Dana tersebut ia pergunakan untuk memperluas lahan perkebunan karet dan sawit dari sebelumnya 3 hektar menjadi 4 hektar. Dana tersebut dipergunakan untuk membersihkan lahan, membeli 400 bibit sawit, beli pupuk serta membayar upah 4 orang tenaga kerja baru. Manfaat kredit KUR – Gerbang Serasan juga dirasakan Abdul Rahim, pengecer pupuk bersubsidi yang mendapat kredit Rp 75 juta pada 9 mei 2012 untuk jangka waktu 2 tahun dengan cicilan Rp 1,4 juta per bulan. Ia mendapat subsidi bunga sebesar Rp 6 juta yang dibayarkan pada akhir cicilan. Seperti halnya Selamet, Ia juga pernah meminjam ke Bank Mandiri pada tahun 2009 sebesar Rp 10 juta. Akan tetapi, dengan adanya Gerbang Serasan lebih menarik, karena bisa mendapat subsidi bunga serta jumlah pinjaman bisa lebih besar.  Dampak dari kredit ini telah meningkatkan penjualan pupuknya hingga dua kali lipat lebih dari sebelumnya yang hanya 16 ton per bulan menjadi 40 ton per bulan.

Peningkatan usaha juga dirasakan Arifudin, pengusaha roti “Sha Sha” di Jalan Pasar Pagi, Tanjung Enim yang mendapat kredit Rp 40 juta pada Mei 2011 untuk jangka waktu 2 tahun dengan cicilan Rp 2,35 juta per bulan. Ia merasa terbantu karena mendapat subsidi bunga sebesar Rp 6,4 juta atau 8% dari total kredit. “Dana itu saya pergunakan untuk memperbaiki toko, beli open besar, beli mesin roti atau mixer serta untuk stok bahan baku,” tuturnya. Dengan tambahan modal ini, produksi rotinya meningkat dua kali lipat dari sebelumnya 2.000 roti per hari menjadi 4.000 roti per hari. Roti tersebut dijual dengan harga Rp 1.000 per buah, sehingga omsetnya sekitar Rp 4 juta per hari. Perkembangan usaha ini berdampak kepada peningkatan jumlah tenaga kerja yang juga dua kali lipat dari sebelumnya 4 orang menjadi 8 orang di mana rata-rata perempuan.

Sementara itu, salah satu penerima KUR di luar program Gerbang Serasan adalah Lestari pembuat keripik pangsit dan keripik bombai di Kampung Sidomulyo, Desa Pasar Tanjung Enim. Ia mengetahui KUR dari rekannya sesama pengusaha kecil. Ia mendapat KUR Rp 5 juta untuk jangka waktu 3 tahun dengan cicilan Rp 259.400 per bulan. Proses pengajuan membutuhkan waktu sekitar 3 hari dengan persyaratan KTP, KK, surat keterangan usaha dan jaminan Surat Keterangan Tanah (SKT). “Dengan adanya KUR saya bisa membuat keripik 200 bungkus per hari yang dijual ke Pagar Alam, Lahat, Batu dan Prabumulih. Sebelum mendapat KUR, penjualan hanya sekitar Tanjung Enim saja,” tuturnya.

Manfaat KUR juga dirasakan Sumini, pembuat kerupuk gendar “Putr Ragil” di Desa Tegalrejo, Kecamatan Tanjung Enim yang mendapat kredit Rp 7 juta untuk jangka waktu 2 tahun dengan cicilan Rp 367.000 per bulan. Proses pencairan KUR berlangsung 3 hari dengan persyaratan KTP, KK dan surat keterangan usaha dari desa, tanpa jaminan tambahan. “Dengan adanya KUR saya bisa membeli bahan kerupuk secara kontan serta bisa menyimpan terigu untuk cadangan,” tutur ibu yang biasa mengolah 12 kg terigu menjadi 60 bungkus kerupuk per hari ini.

Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan bagian dari Program Pro Rakyat yang bertujuan memacu usaha kecil agar berkembang dengan memberikan kredit yang murah dan mudah. Kredit modal melalui program KUR disebut murah karena bunganya yang ringan yakni hanya sekitar 11 – 12% per tahun  dibanding kredit komersil yang bisa mencapai 15 – 18% per tahun. Selain itu, proses pengajuan KUR tidak dikenakan biaya administrasi ataupun biaya lainnya yang biasa dikenal success fee. Dengan kata lain, pelaku usaha kecil bisa mendapat kredit secara utuh, tanpa potongan apapun.

KUR juga mudah karena persyaratannya tidak serumit kredit komersil, cukup KTP, KK dan surat keterangan usaha dari desa, dengan catatan usahanya sudah berjalan minimal 6 bulan. Bahkan khusus kredit di bawah Rp 20 juta diberikan tanpa agunan tambahan. (Firman dan Mika)