Selasa, 11 September 2012 - 15:18 WIB
Nias Selatan Terapkan Sekolah Gratis SD Hingga Perguruan Tinggi
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 4421 kali



Nias Selatan merupakan salah satu daerah tertinggal tetapi bisa menyelenggarakan pendidikan gratis sejak pertengahan tahun 2011, dan merupakan kabupaten pertama di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan gratis hingga Perguruan Tinggi. Penerapan pendidikan gratis di Nias Selatan didukung oleh perpaduan dana BOS sebesar Rp60,71 miliar yang meliputi BOS untuk siswa SD Rp 40,37 dan SMP sebesar Rp 10.34, miliar serta dana APBD sebesar Rp130 miliar atau 21,6% dari total APBD yang berjumlah Rp 600 miliar. Alokasi dana pendidikan sebesar 21,6% tersebut memungkinkan karena Kabupaten Nias Selatan memperoleh dana DAK dan DAU sebesar Rp454 miliar pada 2011 sehingga dana pendidikan bisa mendapat alokasi prioritas.  Dana pendidikan gratis tersebut untuk membiayai 69.604 siswa SD, 14.568 siswa SMP, 11.560 siswa SMA dan 4.000 mahasiswa. 

Pelaksanaan sekolah gratis di Nias Selatan didukung Peraturan Daerah (Perda) No 30 Tahun 2011 tentang Pendidikan Gratis, yang intinya melarang pungutan di sekolah dalam bentuk apapun. Bagi sekolah yang melanggar akan dikenakan sanksi mulai dari teguran, mutasi hingga pencopotan dari jabatan. Di lain pihak, Perda juga memuat sanksi bagi orang tua yang sengaja menyuruh anak-anaknya putus sekolah karena alasan kurang mampu secara ekonomi. Hal ini menyebabkan tingkat kelulusan pelajar Nias Selatan tahun ajaran 2011/2012 untuk semua tingkatan hampir 100%, dengan perincian SD 99,54%, SMP 99,86% dan SMA/SMK 99,31%.

Salah satu sekolah yang merasakan manfaat pendidikan gratis yakni SDN Dharma Caraka Kota Teluk Dalam. Gedung sekolah yang dibangun tahun 2006 oleh Kementerian Luar Negeri pasca gempa Nias 2005 ini memiliki jenjang pendidikan SD hingga SMK dan melaksanakan pendidikan gratis dari dana BOS. SDN Dharma Caraka memiliki 212 siswa di 6 kelas yang ada, dan difasilitasi oleh perpustakaan dan laboratorium sains dasar, akan tetapi laboratorium tersebut belum memiliki alat yang memadai untuk mendukung praktik sains siswa. Meski demikian, salah satu siswa kelas 3 SDN Dharma Caraka bernama David Deo Bulolo  pada Juni 2012 lalu meraih penghargaan juara 2 olimpiade sains nasional tingkat SD di Jakarta. Siswa SDN Dharma Caraka berharap pemerintah bisa meningkatkan fasilitas sekolah mereka sehingga ke depan prestasi sekolah bisa lebih ditingkatkan lagi.

Sekolah lain yang merasakan manfaat pendidikan gratis yakni SMK Negeri I Teluk Dalam. Direnovasi fisik pada 2006 pasca gempa Nias, SMKN I Teluk Dalam kini memiliki 500 siswa yang belajar di 17 ruang kelas dalam 4 jurusan yaitu jurusan tata boga, tata busana, pariwisata, dan teknik komputer. Sekolah ini memiliki fasilitas laboratorium praktik untuk tata boga, ruang disain dan menjahit, serta laboratorium komputer. Di SMKN I Teluk Dalam, para siswa diajarkan untuk memiliki ketrampilan sesuai jurusannya sehingga ke depan ia siap terjun ke dunia kerja maupun membuka lapangan kerja sendiri dengan mengandalkan ketrampilan yang telah dimilikinya. Salah satunya yaitu Butet Sarumaha, siswa kelas XII Jurusan Tata Busana. Ia memilih jurusan tata busana agar bisa membuka usaha menjahit ketika lulus nanti dan jika bisa lulus SPMB ia ingin kuliah di Universitas Negeri Medan jurusan tata busana untuk meningkatkan skill-nya. Sejak 2011, ia dan siswa lainnya di sekolah tersebut tidak lagi dipungut biaya SPP dan biaya lainnya, karena sudah mendapat alokasi dana dari Pemkab Nias. “Sebelum digratiskan setiap siswa membayar SPP sebesar Rp50 ribu per bulan, tapi sekarang semua sudah gratis. Ini sangat membantu siswa terutama siswa kurang mampu sehingga tidak perlu lagi memikirkan biaya pendidikan tetapi cukup belajar dan mengejar prestasi,” ujarnya.

Penerapan sekolah gratis hingga perguruan tinggi telah meningkatkan jumlah siswa yang melanjutkan kuliah yang sebelumnya hanya 10% kini hampir 80% melanjutkan kuliah bahkan siswa yang dulu tidak bisa kuliah, kini melanjutkan kuliah di dua Perguruan Tinggi yang ada di Kota Teluk Dalam, yakni STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Nias Selatan dan STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Nias Selatan. STIE Nias Selatan memiliki 2 program studi yakni Program Studi Manajemen (S1) dan Program Studi Akuntansi (D3), sementara STKIP memiliki 7 program studi, yakni Pendidikan Matematika (S1), Pendidikan Biologi (S1), Pendidikan Bahasa Indonesia (S1), Pendidikan Bahasa Inggris (S1), Pendidikan Ekonomi (S1), Pendidikan PKn (S1), dan Program Studi Bimbingan Konseling (S1). Perguruan tinggi yang berdiri sejak 2008 ini memiliki tenaga dosen dengan latar belakang pendidikan mayoritas S2, dan ke depan akan membuka jurusan hukum, teknik dan Sekolah Tinggi Manajemen Ilmu Komputer (STMIK), sehingga bisa menaikkan status dari perguruan tinggi  menjadi universitas.

Pemkab Nias Selatan melakukan kerja sama dengan pihak perguruan tinggi Yayasan Pendidikan Nias Selatan untuk menggratiskan mahasiswa dari biaya akademik seperti uang kuliah dan uang ujian. Dalam setahun setidaknya setiap mahasiswa menghabiskan dana pendidikan sebesar Rp2,5 juta – Rp3,5 juta, namun oleh Pemkab Nias Selatan seluruh biaya tersebut dibayarkan dari dana APBD Nias Selatan. Saat ini setidaknya ada 4.784 mahasiswa yang dibiayai kuliah di 2 perguruan tinggi di Nias Selatan, baik putra daerah maupun dari luar Nias Selatan. Akan tetapi beasiswa ini hanya berlaku bagi  mahasiswa yang memenuhi IP minimal 2,00 setiap semester, jika tidak akan dicabut. Seperti yang diungkapkan Dikir Duha (20 tahun), mahasiswa penerima beasiswa di STIE Nias Selatan.

Peningkatan sumber daya manusia (SDM) oleh Pemkab Nias Selatan juga diberikan khusus bagi siswa berprestasi dan telah lulus seleksi untuk memberikan beasiswa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi di luar Nias Selatan yakni di Universitas Methodis Indoensia di Kota Medan, dan Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Pada tahun 2011, sebanyak 130 siswa mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah dengan disiplin ilmu kedokteran sebanyak 50 orang dan 80 orang disiplin ilmu lainnya. Sementara tahun ajaran 2012-2013 akan diberi kuota 200 siswa yang akan diberi beasiswa khususnya di Fakultas Kedokteran. Kuota beasiswa bagi mahasiswa kedokteran ini diprioritaskan karena Kabupaten Nias Selatan sangat kekurangan tenaga dokter. Saat ini hanya ada sekitar 31 dokter termasuk 1 dokter spesialis, 28 dokter umum, dan 2 dokter gigi, sementara kebutuhan dokter setidaknya 71 dokter umum, 5 dokter spesialis, dan 12 dokter gigi, untuk pelayanan kesehatan masyarakat Nias Selatan yang berjumlah 289 ribu jiwa.

Salah satu mahasiswa kedokteran penerima beasiswa dari Pemkab Nias Selatan yakni Boy Duha, mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Methodis Indonesia (UMI) di Medan. Boy sangat senang bisa mendapatkan beasiswa kedokteran di UMI Medan dan ia memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar menjadi dokter yang kelak akan mengabdikan ilmunya di Nias Selatan. Pada Juni 2011 ia mengikuti seleksi beasiswa yang diadakan Dinas Pendidikan Nias Selatan untuk kategori beasiswa jurusan kedokteran.  “Kalau hanya mengandalkan biaya dari orangtua, saya pasti tidak akan sanggup kuliah kedokteran karena orangtua saya hanya sebagai buruh angkut. Namun kesempatan yang diberi Pemkab Nias Selatan kepada para siswa berprestasi yang sudah lulus seleksi menguatkan motivasi para intelektual muda Nias Selatan untuk bangkit dan belajar dan kemudian mengaplikasikan ilmu di tanah kelahiran,” ujarnya. Menurut Boy Duha, biaya akademik selama kuliah ini juga dibarengi adanya uang saku sebesar Rp500 ribu per bulan. Namun, beasiswa tersebut akan tetap berlangsung jika IP kumulatif  tetap minimal 2,50 dan apabila kurang dari angka minimal tersebut maka beasiswanya bisa dicabut. Hal ini bertujuan agar mahasiswa penerima beasiswa bisa maksimal kuliah dan sebelum resmi menjadi mahasiswa penerima beasiswa mereka harus menandatangani surat perjanjian agar kelak lulus mengabdi di Nias Selatan.

Perluasan akses pendidikan merupakan salah satu program prioritas nasional bidang pendidikan yang diwujudkan dengan pelaksanaan sekolah gratis 9 tahun atau usia wajib belajar yang didukung dana BOS pada tahun 2012 sebesar Rp 27,67 triliun dan dana alokasi khusus (DAK) untuk pendidikan. Pemkab Nias Selatan setidaknya menerima Rp32,5 miliar dana DAK dari APBN 2012, dan dana pendamping DAK APBD senilai Rp3,3 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan 72 ruang kelas baru (RKB) SD senilai Rp9,1 miliar, 15 RKB SMP senilai Rp2,2 miliar, pengadaan buku pengayaan, meubiler SD dan SMP, dan pengadaan alat peraga bidang studi. (Diana Saragih dan Titi Isdarti)