Jumat, 21 Desember 2012 - 11:52 WIB
Jampersal Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 5308 kali



“Guna menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang cukup tinggi, perlu diberikan jaminan pembiayaan berupa Jaminan Persalinan (Jampersal).”

Kabupaten Magetan merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang secara terus menerus melakukan pembenahan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan sehingga menjangkau seluruh desa, yaitu dari 208 desa dan 27 kelurahan terdapat 235 Poskesdes yang siap memberikan pelayanan kesehatan baik untuk pelayanan umum maupun pelayanan ibu hamil.  Pelayanan kesehatan secara gratis di Magetan dilayani dari mulai di Ponkesdes (nama lain dari Poskesdes khusus di Jawa Timur), Puskesmas, hingga Rumah Sakit.  Adanya pelayanan kesehatan gratis ini karena Pemerintah menyediakan dana untuk jaminan kesehatan masyarakat miskin, yaitu Jamkesmas, Jamkesda, dan Jampersal. 

Di Magetan, Jampersal dapat dilayani dari mulai Ponkesdes sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang ada di seluruh wilayah Magetan. Pelayanan kesehatan di Ponkesdes maknanya adalah disetiap Ponkesdes sudah tersedia fasilitas kesehatan yang didukung dengan tenaga medis yang disebut dengan bidan desa. Salah satunya adalah Ponkesdes Sidowayah yang ada di Kecamatan Panekan.  Selain sebagai tempat pelayanan kesehatan, Ponkesdes di sini juga sekaligus sebagai tempat tinggal bidan desa.  Setiap bidan desa melakukan pembinaan terhadap para kader kesehatan Posyandu yang berada pada tingkat lingkungan RW (Rukun Warga).  Tujuannya adalah agar para kader memiliki pengetahuan yang cukup untuk memantau perkembangan kesehatan warga di lingkungannya.

Sejak diluncurkan, Jampersal di Magetan disambut sangat antusias oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang miskin.  Kendati Pengelolaan kepesertaan Jampersal merupakan perluasan kepesertaan dari program Jamkesmas yang mengikuti pola kepesertaan dan managemen Jamkesmas, akan tetapi Jampersal sedikit berbeda dalam hal penetapan pesertanya.  Karena, peserta program Jampersal adalah ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu nifas(pasca melahirkan sampai 42 hari), serta bayi yang baru lahir(0 – 28 hari) yang belum memiliki jaminan kesehatan. 

Selain melayani warga dalam pelayanan kesehatan umum, Ponkesdes Sidowayah dijumpai sering melayani ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya secara rutin.  Dengan dibantu seorang perawat yang ditempatkan juga di Ponkesdes bersama dengan bidan desa, pelayanan Ponkesdes Sidowayah jadi lebih prima.  Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan di desa, selain melayani pasien yang merupakan peserta Jamkesmas maupun Jamkesda, bahkan pasien umum, Ponkesdes Sidowayah juga memberikan pelayanan kepada peserta Jampersal. Peserta Jampersal ini meliputi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir sampai dengan usia 28 hari. 

Dulu sering dijumpai ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya ke dukun bayi yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.  Dengan membayar ala kadarnya, atau membayar dengan pola barter, bagi warga miskin sudah meringankan beban biaya pelayanan kesehatan.  Akan tetapi, karena tingkat pengetahuan dukun bayi mengenai kesehatan masih terbatas, dan sebagian berpegang pada ajaran warisan leluhur mereka yang terkadang sudah tidak bisa diterima lagi dengan akal sehat jika diterapkan pada jaman modern seperti sekarang ini, sekalipun di perdesaan. 

Dengan pengetahuan yang terbatas ini, terkadang dukun bayi melakukan pelayanannya dengan tidak memperhatikan kondisi kesehatan penyerta si ibu hamil.  Misalnya, kondisi ibu hamil dengan bawaan penyakit diabetes penanganannya berbeda dengan penanganan terhadap ibu hamil secara normal.  Hal ini seringkali menyebabkan terlambatnya penanganan ibu hamil dengan kondisi khusus,  yang mengakibatkan gagalnya penanganan hingga terjadinya kematian pada ibu maupun bayinya.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, perlu diberikan hak-hak mendapatkan pelayanan kesehatan salah satunya adalah Jampersal. Jaminan Persalinan (Jampersal) ini merupakan jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemerikasaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. 

Selain di Ponkesdes, peserta Jampersal dapat memanfaatkan pelayanan di Puskesmas dan jaringan pelayanan kesehatan di tingkat lanjutan seperti Rumah Sakit di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama.  Salah satu Puskesmas yang melayani pasien peserta Jampersal adalah Puskesmas Panekan yang berada di Kecamatan Panekan.  Puskesmas Panekan ini, selain melayani pasien umum peserta Jamkesmas maupun Jamkesda, juga melayani pasien yang merupakan peserta Jampersal. 

Puskesmas Panekan sudah dilengkapi fasilitas Poned yang khusus memberikan pelayanan terhadap ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya, serta pertolongan persalinan secara normal.  Dengan fasilitas ruang tempat periksa seluas 3x4 meter persegi, dan ruang rawat inap pasca melahirkan yang dilengkapi tempat tidur bayi, kendati belum maksimal akan tetapi keberadaanya sangat membantu dalam pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil di pedesaan.  Selain itu, Puskesmas Panekan juga merupakan Puskesmas rawat inap yang melayani pasien selama 24 jam.  Dengan 8 tempat tidur yang dibagi di dua ruangan terpisah untuk pasien laki-laki dan perempuan, melengkapi pelayanan kesehatan gratis di Magetan.

Pelayanan kesehatan di tingkat lanjutan dapat dilayani di Rumah Sakit kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama.  Di Magetan, pelayanan Jampersal ini dapat dilayani di RSUD Dr Sayidiman yang merupakan satu-satunya Rumah Sakit milik Pemerintah Daerah.  Pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi dengan resiko tinggi dan komplikasi, diberikan oleh tenaga medis spesial yang terdiri dari pelayanan kebidanan dan persalinan.  Hal ini karena fasilitas kesehatan tingkat pertama yaitu Ponkesdes dan Puskesmas sudah tidak dapat menangani dikarenakan terbatasnya tenaga dan peralatan medis.  Pelayanan ini dilaksanakan berdasarkan rujukan dari Puskesmas atau Ponkesdes, kecuali pada kondisi kedaruratan.

Salah satu pasien yang merasakan manfaat secara langsung pelayanan Jampersal adalah Suhartini.  Sebagai pasien peserta Jampersal dia tidak perlu memikirkan lagi masalah biaya persalinan yang cukup tinggi.  Istri dari Arip yang pekerjaannya serabutan ini sangat bersyukur karena ada Jampersal.  “Alhamdulillah ada Jampersal, saya mengetahui program ini dari bidan desa tempat saya periksa selama ini”, kata wanita yang sedang menantikan kelahiran anak pertamanya ini.  “Meskipun gratis tapi pelayanannya tidak ada diskriminasi”, tambahnya lagi.  Kendati kondisi kehamilannya tergolong tidak bermasalah,  wanita 24 tahun ini dirujuk dari Ponkesdes di Desa Kembangan Kecamatan Sukomoro ke RSUD Sayidiman karena usia kandungan sudah melewati Hari Perkiraan Lahir. 

Dengan kata lain, pelayanan Jampersal dapat dilayani di Ponkesdes, Puskesmas, maupun Rumah Sakit.  Karena keberadaan Jampersal yang didukung tenaga medis yang menjangkau hingga desa, Magetan berhasil menurunkan angka kematian ibu dan bayi hingga lebih dari 5x lipat.  Dimana, tahun 2011 Angka kematian Ibu (per 100.000 kelahiran hidup) sebanyak 118 kasus, dan Angka Kematian Bayi dan Balita (per 1000 kelahiran hidup) sebanyak 22 kasus.  Tahun 2012, menurun menjadi 22 kasus untuk angka kematian ibu, dan 12 kasus untuk angka kematian bayi dan balita.

Faktor lainnya yang turut membantu menurunkan angka kematian ibu dan bayi adalah peran tenaga medis mulai dari bidan desa di Ponkesdes hingga Puskesmas yang rutin melakukan penyuluhan mengenai pentingnya pemeriksaan masa kehamilan pada ibu hamil agar bayi dalam kandungannya tetap sehat dan selamat hingga waktu melahirkan tiba.

para tenaga medis dalam melakukan penyuluhan langsung ke masyarakat, didukung oleh adanya biaya operasional yang bersumber dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang di luncurkan kepada seluruh Puskesmas di Magetan.  Pada tahun 2012, Magetan mendapat alokasi BOK dan Laktasi sebesar Rp 4,9 miliar, yang menjangkau 22 Puskesmas dimana setiap Puskesmas mendapat dana BOK mulai Rp 75 juta hingga Rp 106 juta.  BOK merupakan program Pemerintah yang berupaya  mengedepankan  pencegahan daripada pengobatan, melalui berbagai penyuluhan, sosialisasi, pendampingan dan lain sebagainya.

Di lain pihak, berbagai fasilitas kesehatan juga terus ditingkatkan hingga ke pelosok desa.  Dalam hal ini, pada tahun 2011, Pemkab Magetan telah membangun dan merehab Puskesmas dan Puskesmas Pembantu serta penambahan ruang baru untuk gudang farmasi dan laboratorium kesehatan dengan anggaran mencapai Rp 2,8 miliar yang lokasinya tersebar di Magetan.  Sehingga, sampai saat ini fasilitas kesehatan yang ada di Magetan adalah 2 RSU, 22 Puskesmas, 59 Puskesmas Pembantu, 235 Poskesdes, dan 920 Posyandu.

Pelayanan kesehatan gratis di Magetan  didukung penyediaan dana yang cukup besar. Anggaran kesehatan pada tahun 2011 tercatat Rp 68,3 miliar, sedangkan untuk tahun 2012 naik menjadi Rp 84,83 milyar.  Dana tersebut dipergunakan untuk pembangunan sarana kesehatan, pelayanan kesehatan gratis melalui Jamkesda dan penanganan untuk pasien dengan Surat Pernyataan Miskin khusus untuk pasien Hemodialisa dan Kemoterapi kanker hingga Rp 1,5 juta, dan selebihnya untuk operasional Puskesmas, Polindes, Puskesmas Pembantu, serta pencegahan penyakit menular. 

Peningkatan pelayanan kesehatan terus menjadi perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah. Karena itu pelayanan kesehatan gratis di Magetan merupakan bagian dari pelayanan kesehatan gratis secara nasional yang dilaksanakan sejak tahun 2005. Selain Jamkesmas, untuk mempercepat pencapaian Milenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 khususnya menurunkan angka kematian ibu dan bayi, tahun 2010 Pemerintah meluncurkan program Jaminan Persalinan (Jampersal).  Pelayanan kesehatan gratis secara nasional didukung alokasi dana Jamkesmas sebesar Rp 5,1 triliun pada tahun 2010 dan naik menjadi Rp 6,3 triliun pada tahun 2011. (Diana Saragih & Khusnul Khotimah)