Selasa, 08 Januari 2013 - 22:13 WIB
Penyediaan Air Bersih Banjarmasin Terbesar di Indonesia
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 4235 kali



Air bersih merupakan kebutuhan utama masyarakat selain pangan dan energi. Penyediaan air bersih melalui perusahaan daerah air minum (PDAM) yang memadai sangat diharapkan masyarakat terutama karena semakin menurunnya kualitas air sungai sebagai sumber air bersih. Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan melalui PDAM Bandarmasih saat ini pelayanan air minumnya sudah mencapai 122.179 sambungan rumah tangga atau mencakup 98,7 % dari jumlah penduduk Banjarmasin, sehingga menempatkan Banjarmasin sebagai kota terbesar dalam pelayanan air bersih di Indonesia.  Bahkan, pada tahun 2013, cakupan layanan air bersih di Banjarmasin ditargetkan menjangkau seluruh penduduk, sehingga akan menjadikan Banjarmasin sebagai kota pertama di Indonesia yang melayani kebutuhan air bersih bagi seluruh masyarakatnya.

Air baku yang dimanfaatkan PDAM Bandarmasih untuk suplai air bersih diperoleh dari sungai Tabuk di Kabupaten Banjar. Air dialirkan melalui pipanisasi, setelah itu air dimasukkan dalam bak pengendapan sehingga terdapat air bersih yang sudah tersaring akan mengalir ke dalam filter selanjutnya untuk disterilkan dengan bahan disinfecta dengan kadar antara 0,2 s/d 1,5 ppm, atau syarat kekeruhan yang ditetapkan oleh kementrian kesehatan tidak boleh melebihi 5 NTU. Rata-rata syarat yang harus dijaga oleh PDAM Bandarmasih besarnya tidak melebihi 2,5 NTU,  setelah terpenuhi baru disalurkan melalui pipa ke masyarakat umum. Semua proses ini sudah dimonitor oleh mesin secara otomatis, sehingga jika ada penyumbatan atau kemacetan bisa terpantau di layar monitor.

Selain itu, PDAM Badarmasih juga melakukan uji sampel secara berkala tiap 1 jam untuk mengetahui kondisi air saat itu, agar dapat diambil tindakan yang tepat jika ada ketentuan kualitas yang terganggu, sehingga masyarakat tidak mengalami kerugian dari penggunaan air PDAM. Setiap jam, PDAM selalu mengambil sampel berupa berapa besarnya kadar keasaman (ph) dari air dan besarnya NTU untuk memantau dari segi kesehatan, kejernihan air serta sisa warna pembuangan limbah.

PDAM Bandarmasin juga telah membangun tampungan air dengan kapasitas 10.000 m³, sehingga kapasitas air PDAM Bandarmasih menjadi berkisar 1.550 liter/detik, dari sebelumnya yang tercatat sekitar 1.000 liter/detik. 

Sebagai antisipasi cadangan listrik, PDAM Bandarmasih juga menyediakan genset, agar proses pengolahan air baku tetap berjalan meskipun terjadi pemadaman listrik. Untuk kebutuhan energi dalam memenuhi kebutuhan air bersih, PDAM setiap tahunnya menyediakan anggaran sebesar Rp 2,5 miliar.

Harga jual air bersih saat ini berkisar Rp 4.194/m³, harga yang cukup murah mengingat fungsi air bersih yang sangat vital. Selain itu, bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), diberikan subsidi untuk pemasangan baru sekitar Rp 650 ribu, sehingga mereka cukup membayar Rp150 ribu, sementara harga normalnya berkisar Rp 800 ribu. Hal ini dilakukan agar masyarakat pemanfaat air bersih semakin meluas, menjangkau  semua kalangan.

Di lain pihak, khusus untuk  warga yang berada di daerah kepulauan yang tidak memiliki sumber air tanah karena merupakan kawasan rawa yang memiliki air payau serta masyarakat yang tinggal di perdesaan yang berada di luar jangkauan PDAM, disediakan layanan air bersih melalui Pansimas dan PAC (pengelolaan air cepat) berupa alat penyaring air sungai sehingga bisa dikonsumsi dengan aman.

Meluasnya cakupan layanan air bersih berdampak positif dalam menurunkan penyakit diare dan kolera yang sebelumnya mewabah di Banjarmasin. Dulu, warga terpaksa mengkonsumsi air sungai sebagai sumber air bersih sehingga penyakit seperti diare sering diderita warga. Bahkan pada akhir 1990-an, Banjarmasin pernah berstatus KLB kolera karena penduduk pinggir sungai Martapura mengkonsumsi air tidak sehat.

Penyediaan ari bersih di daerah terpencil salah satunya berlokasi di RT 13 Kelurahan Mantuil Kecamatan Banjarmasin Selatan. Terdapat sekira 100 KK warga yang belum tersambungi pipa PDAM, sehingga warga mengandalkan PAC dan membeli air ledeng dari warga yang sudah mendapat sambungan PDAM. Harganya berkisar Rp1.000-Rp2.000/jerigen isi 20 liter.

 Salah satu warga RT 13, Anisa (53 tahun), mengatakan ia mendapatkan bantuan perlengkapan PAC pada Agustus 2012 lalu, dimana ada sekira 50 PAC yang dibagikan kepada warga. Proses pengelolaan air jernih dimulai dari pemanfaatan air sungai yang berasal dari sungai Martapura, kemudian dialirkan melalui pipa masuk ke dalam bak penampungan berupa tong viber berkapasitas 200 liter, setelah itu air yang sudah mengendap masuk dalam proses Mixingwell dimana air sungai dicampur dngan bahan kimia (Koagulan) dengan perbandingan 20 s/d 60 ppm dimana Koagulan akan bercampur sebanyak 20 miligram pe liter air baku  dan dilakukan pencampuran. Lalu diaduk-aduk hingga 30 menit setelah itu air akan menetes dalam tampungan sehingga air bersih akan keluar melalui pipa dan siap untuk digunakan. Masyarakat bersyukur untuk bantuan ini, karena sekarang mereka bisa menghemat biaya pembelian air  dimana untuk harga air Rp 1.000 / jerigen dengan volume 20 liter.

Selain pemberian bantuan PAC, PDAM Bandarmasih bekerjasama dengan beberapa lembaga juga memberikan bantuan penyaluran air ke desa yang terletak di muara sungai atau dikenal juga dengan desa Pulau Bromo. Daerah ini merupakan daerah yang timbul menjadi salah satu wilayah dengan penghuni lebih 400 kk. Bantuan yang bantuan berupa alat transportasi kapal penyeberangan yang membawa 4 tandon air bersih dengan kapasitas 4.000 Liter, dengan anggaran mencapai Rp 40 juta/tahun, yang berasal dari bantuan beberapa CSR perusahaan yang tergerak dalam membantu penyediaan air bersih. Masyarakat dapat membeli air per jirigennya sebesar Rp 1.000 / 20 liter.

Penyediaan air bersih di Banjarmasin juga didukung jaminan ketersediaan air baku dengan kuantitas dan kualitas yang memadai. Pemerintah pusat, propinsi maupun pemerintah kota melakukan perlindungan daerah tangkapan air, manajemen terpadu daerah aliran sungai, pengendalian pencemaran air, penertiban ijin penggunaan air serta upaya antisipasi penyediaan sumber air baku untuk masa yang akan datang. 

Kota Banjarmasin diakui sebagai kota besar yang mengelola air bersih terbaik di antara negara-negara di Asia Tenggara. Atas prestasinya ini, Banjarmasin mendapat penghargaan dalam bentuk sertifikat pengakuan atau "Clean Water" untuk kategori kota besar yang diserahkan berbarengan dengan puncak penyerahan penghargaan "Asean Environmentally Sustainable Cities" (Asean Esc Awards) tahun 2011 atau penghargaan untuk semua kota dengan penetapan lingkungan berkelanjutan di tingkat Asean. Hasil tersebut berdasarkan seleksi bersama puluhan kota besar lainnya di Asia Tenggara pada pertemuan Asean Working Group On Environmentally Sustainable Cities (AWGESC) ke-9 di Yangon, Nyanmar Mei 2011 lalu, dengan perserta perwakilan kota-kota di belahan Asia Tenggara.

Penghargaan ini juga merupakan apresiasi terhadap banjarmasin yang telah membangun pengelolaan air limbah yang dulu dibuang ke sungai, kini sebelum dibuang diproses dulu oleh Perusahaan Daerah Pengelola Air Limbah (PD PAL) hingga air dibuang bersih. Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik yang ada di Banjarmasin menggunakan system terpusat (off site system) dimana air limbah diangkut dalam pipa penyalur air limbah (sewers), dari tempat dimana air limbah itu dihasilkan (WC, Septik Tank, kamar mandi, dapur) ke tempat pengolahan dan pembuangan (IPAL). Pengolahan limbah di IPAL menggunakan sistem biologis, dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan-bahan organik dan racun yang berbahaya pada air limbah dengan teknologi RBC (Rotating Biological Contactor) sehingga dihasilkan effluent (hasil pengolahan) yang memenuhi standar baku mutu air yang diijinkan.

Pengolahan Air Limbah secara terpusat merupakan “Pilot Project” bagi kota Banjarmasin, dimana cakupan area pelayanannya masih terbatas, artinya hanya masyarakat yang berada di kawasan jaringan air limbah yang sementara ini bisa dilayani dengan menggunakan jaringan perpipaan. Untuk melayani masyarakat di luar  kawasan pelayanan jaringan air limbah, PD PAL Banjarmasin menyediakan bentuk pelayanan dengan mobil khusus penyedot limbah sesuai dengan permintaan kebutuhan masyarakat. Bentuk pelayanan mobil ini bisa juga untuk mengatasi permasalahan masyarakat terhadap WC/Septic Tank–nya yang bermasalah.

Untuk menciptakan kondisi tersebut Pemerintah Kota Banjarmasin membentuk Peraturan Daerah No.16 Tahun 2006 tentang Tarif Jasa Pelayanan Pengolahan Air Limbah Kota Banjarmasin, dimana dalam PERDA No.16 Tahun 2006 disebutkan bahwa masyarakat / Badan Hukum yang berada di areal pelayanan jaringan air limbah diwajibkan memanfaatkan sarana pengolahan air limbah, termasuk dalam hal ini mengadakan penyambungan dari sumber limbahnya ke jaringan air limbah yang telah disediakan. Untuk tata cara penyambungan tersebut dilakukan sesuai aturan yang ditetapkan oleh PD PAL Banjarmasin selaku Pengelola Air Limbah. Maka dari itu diharapkan dukungan peran aktif seluruh lapisan masyarakat bersama-sama Pemerintah Kota Banjarmasin dalam mengelola air limbah dapat terwujudkan, untuk menuju Kota Banjarmasin Bungas (cantik).

Cakupan pelayanan air bersih di Banjarmasin hendaknya menjadi acuan bagi Pemprov Kalimantan Selatan mengingat pelayanan air minum di Provinsi Kalimantan Selatan sampai dengan penghujung tahun 2011 baru mencapai 51,79 %, di bawah rata-rata nasional sebesar 53,26 %. Dengan jumlah penduduk sekitar 3,6 juta jiwa, berarti bahwa penduduk yang belum memiliki akses aman air minum di Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 1,7 juta jiwa. Di sisi lain sasaran MDGs tahun 2015 untuk Provinsi Kalimantan Selatan adalah tingkat akses aman air minum sebesar 70 %. Dengan demikian, dalam kurun waktu 2,5 (dua setengah) tahun ke depan Pemerintah provinsi dan Kabupaten-Kota di Kalsel perlu menyediakan tambahan akses aman air minum bagi 600 ribu jiwa. 

(Diana Saragih dan Sahat Yogiantoro)