Selasa, 22 Januari 2013 - 09:10 WIB
Perpaduan BOS dan BOSDA : Meningkatkan Akses Pendidikan Gratis
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 2257 kali



Pendidikan merupakan salah satu pilar utama pembangunan dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Salah satu bagian penting dan strategis dalam pembangunan pendidikan adalah pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini serta Pendidikan Dasar dan Menengah. Pembangunan pendidikan harus mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia ( SDM ), yang pada akhirnya memberi andil dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan pembangunan pendidikan, masyarakat harus dilibatkan dengan maksud untuk mendorong dan memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas masyarakat, serta meningkatkan peranannya, termasuk dalam mengupayakan sumber dana dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah.

Kota Banjarmasin juga meletakkan bidang pendidikan sebagai hal utama bagi pembangunan daerah. Hal ini dilihat dari alokasi anggaran pendidikan dimana pada tahun 2012 sebesar Rp79,35 miliar berasal dari APBN dan dari APBD sebesar Rp 37,62 miliar. Anggaran ini meningkat  35,86% dari tahun 2011 yakni sebesar Rp58,41 miliar dari dana APBN dan meningkat sebesar 38,53% dari tahun 2011 dana APBD yakni sebesar Rp27,16 miliar.

Sementara untuk dana BOS yang berasal dari APBN untuk SD dan SMP pada tahun 2011 mencapai nilai total Rp36,15  miliar, untuk 64.754 siswa SD dan 23.052 siswa SMP, sedangkan tahun 2012 dana meningkat sebesar 49,56% menjadi Rp 54,15 miliar untuk 64.892 siswa SD dan 23.269 siswa SMP. Sementara alokasi dana BOSDA sebesar Rp12,23 miliar  untuk 64.754 siswa SD dan siswa SMP sebanyak 23.054 siswa. Untuk tahun 2012, Pemerintah Kota Banjarmasin  menerima dana BOS sebesar Rp54,15 miliar  dan dana BOSDA sebesar Rp25,56 miliar.

Perpaduan dana BOS dan BOSDA dipergunakan untuk meningkatkan akses pendidikan gratis bagi pelajar. Peruntukannya yakni pembayaran SPP, pembelian dan penggandaaan buku teks pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan ujian siswa, perawatan sekolah, pembayaran honorarium bulanan guru honorer. Selain itu BOS juga digunakan untuk pembelian perangkat komputer (multimedia), beasiswa siswa dari keluarga miskin, dan pengembangan profesi guru. Dana BOS tahun 2011 tuntas dimanfaatkan karena disalurkan sesuai waktu, sesuai jumlah dan peruntukkan.

Anggaran pendidikan juga dialokasikan untuk perbaikan sejumlah fasilitas sekolah. Pada tahun 2012 Kota Banjarmasin memperbaiki sebanyak 272 ruang kelas dengan total anggaran sebesar  Rp 20,34 miliar dimana ditujukan untuk 249 ruang kelas SD, 17 ruang kelas SMP dan 6 ruang kelas SMA, jumlah ini meningkat pesat dibandingkan yang hanya memperbaiki pada tahun 2011 sebanyak 14 ruang kelas SD dan 17 ruang kelas SMP.

Salah satu sekolah yang memanfaatkan dana BOS untuk meningkatkan kualitas belajar anak didiknya yakni di SMPN 2 Banjarmasin. Memiliki jumlah siswa sebanyak 704 orang dan 36 ruang kelas serta dilengkapi dengan 8 buah kamar mandi, ruang perpustakaan, ruang komputer, ruang internet, laboratorium bahasa, bengkel seni, ruang keseniaan dan ruang kantin.

Dengan adanya peningkatan anggaran dana pendidikan terlihat kondisi gedung sekolah  SMPN 2 yang bertingkat dan tertata dengan baik, serta kondisi cat tembok yang masih baik membantu siswa untuk belajar dengan nyaman. Selain itu telah terdapat beberapa fasilitas pendidikan seperti perpustakaan yang  cukup layak, tersedianya laboratorium komputer, laboratorium bahasa, serta ruang kesenian lengkap dengan alat musik baik tradisionil maupun alat musik modern beserta sound systemnya. Untuk kegiatan musik, sekolah ini bersyukur karena mendapatkan bantuan alat band beserta sound sistemnya dari Wakil Presiden.

Semua siswa di SMPN 2 Kota Banjarmasin sudah tidak dikenakan biaya, karena semua ditanggung oleh pemerintah melalui dana BOS dan BOSDA. Sedangkan untuk siswa miskin diberikan beasiswa atau bantuan yang berasal dari dana amal persaudaran yang dikumpulkan secara sukarela dari siswa oleh siswa dan untuk siswa.

Salah satu penerima bea siswa miskin Akmal Soleh, siswa kelas 8, merasa bersyukur atas bantuan  yang diberikan pemerintah  dengan adanya sekolah gratis dan bantuan dari bea siswa. “Bea siswa sangat membantu kami dalam menempuh pendidikan dn berharap agar beasiswa bagi siswa miskin dapat terus berlangsung karena sangat membantu meringgankan biaya pendidikan keluarga,” ujarnya.

  Hal yang sama juga diungkapkan Azimi Ramadhani (kelas 9B), Jl. Sutoyo No.75 Kelurahan Banjarmasin Barat, bercita-cita menjadi pemusik. Dengan prestasi menjadi juara 1 untuk musik tradisional se-Kalimantan Selatan, bersyukur atas prasarana dan sarana yang disediakan pemerintah di sekolahnya dan berharap agar pemerintah memperhatikan ketersediaan alat musik di sekolah  agar dapat menyalurkan bakat seni siswa.

 Dalam meningkatkan pengetahaun dan  ketrampilan siswa Kota Banjarmasin juga terus mengembangkan pendidikan bagi masyarkat  melalui sekolah kejuruan. Salah satu sekolah kejuruan yang berhsil dengan baik yaitu SMK 5 Banjarmasin. Sekolah  yang berstandar internasional ini berdiri di atas lahan 2,5 Ha. Bertujuan untuk mendidik siswa dengan pengetahuan yang dapat dipergunakan untuk siap menghadapi dunia kerja, siswa di SMK 5 ini dibekali dengan berbagai ketrampilan yang mendukung siswa untuk dapat siap kerja maupun memberikan pengetahuan tambahan bagi mereka akan pengenalan akan bidang otomotif, serta ketrampilan lainnya, dimana siswa dapat memilih apakah akan terus melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi maupun mencari lapangan kerja.

Ketrampila yang dimiliki siswa di sini cukup  bervariatif dimana tersedia 4 unit mobil yang siap dirakit dengan tenaga-tenaga guru yang terampil membimbing mereka, selain itu tersedia juga puluhan motor yang siap untuk menjadi bahan percobaan, serta beberapa alat yang menjadikan siswa di SMK 5 ini siap untuk berkarya. Selain dalam bidang otomotif mereka juga dibekali dengan kemampuan perakitan komputer serta kegiatan lainnya.

Dengan kerjasama  beberapa perusahaan swasta yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar di perusahaan otomotif  ini juga memberikan suatu kesempatan bekerja bagi mereka. Serta sekolah ini mendapatkan bantuan dari lembaga donor untuk mengembangkan pendidikan serta menjadi contoh pengembangan pendidikan di wilayah Kalimantan Selatan khususnya.

Untuk pendidikan dasar 9 tahun pemerintah kota Banjarmasin juga memperhatikan siswa yang kurang mampu atau anak-anak yang terpaksa bekerja dengan mendirikan  Sekolah  Bawang. Sekolah yang berada di lokasi lingkungan Pasar Lima, Banjarmasin Barat,  ini menampung siswa yang berasal dari anak buruh pengupas bawang, anak jalanan maupun anak yang kurang perhatian untuk dididik tanpa dipungut biaya.  Di sekolah ini sudah menampung 30 orang siswa yang belajar di SD dan 30 siswa yang menempuh pendidikan setingkat SMP.

Minat belajar siswa ini terus di pupuk dan dikembangkan oleh guru-guru yang memberikan perhatian serius terhadap pendidikan anak. Untuk menarik minat, para guru  memberikan bantuan makan kecil untuk siswa yang belajar serta adanya bantuan uang saku yang diberikan setiap bulannya sebesar Rp4.000 hingga Rp6.000,- per siswa. Harapan dengan adanya sekolah ini memberikan kesempatan pendidikan bagi mereka agar mempunyai  cita-cita dan masa depan yang lebih baik.

Salah satu siswa di Sekolah Bawang, Iqbal. 14 tahun, warga di Kelurahan Kelayan yang tinggal bersama neneknya, merasa bersyukur karena dapat belajar di Sekolah Bawang, Dengan adanya perhatian dari pemerintah mereka dapat menikmati pendidikan, juga disediakan buku-buku pelajaran serta diberikan makanan tambahan berupa kue. Iqbal yang bercita-cita menjadi sarjana berharap agar pemerintah lebih memperhatikan pendidikan anak-anak jalanan yang terpaksa mencari pendapatan dari mengupas bawang atau mengamen karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Dengan dibantu oleh 5 orang guru yang berasal dari sekolah Mawar 2 mereka mendidik sekitar 30 siswa yang belajar pada tingkat SD dan 30 siswa yang sudah menamatkan tingkat SD. Salah seorang guru yang mengajar di Sekolah Anak Bawang, M. Zaini 50 tahun berharap agar adanya perhatian pemerintah untuk peningkatan fasilitas sehingga memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengecap pendidikan yang layak meskipun tidak sama persis dengan sekolah reguler namun kualitas pendidikan bisa lebih ditingkatkan dengan adanya fasilitas seperti perpustakaan khusus dan gedung serta kursi yang lebih memadai. “Anak jalanan dan anak-anak pengupas bawang itu juga berhak mengecap pendidikan yang lebih baik,” ujarnya.

Pelaksanaan sekolah gratis merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan dasar di seluruh tanah air. Secara nasional sekolah gratis untuk anak SD dan SMP dilaksanakan sejak tahun 2005 melalui penyediaan dana BOS. Besaran dana BOS yang dianggarkan pada tahun 2011 sebesar Rp16,64 triliun dan pada tahun 2012 dinaikkan menjadi Rp 27,67 triliun. Adapun dana BOS tersebut digunakan untuk membiayai sekitar 31,3 juta siswa SD dan 13,38 juta siswa SMP di seluruh Indonesia.

Perhitungan dana BOS per siswa per tahun pada tahun 2011 semula Rp 397.000/siswa untuk tingkat SD dan pada tahun 2012 dinaikkan menjadi Rp 580.000/siswa, sementara untuk tingkat SMP pada tahun 2011 semula Rp 570.000/siswa menjadi Rp 710.000/siswa pada tahun 2012. Penyaluran dana BOS juga diperbaiki, semula melalui Kabupaten/Kota, diubah melalui provinsi, sehingga diharapkantidak lagi terjadi keterlambatan pencairan dana BOS seperti pada tahun 2011. Dana BOS tahun 2012 dapat dicairkan pada awal triwulan, sehingga memperlancar pelaksanaan sekolah gratis. Di samping itu, sebanyak 57 daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan diberikan dispensasi dengan pencairan sekaligus untuk 6 bulan atau tiap semester. 

(Sahat Yogiantoro dan Diana Saragih)