Rabu, 10 April 2013 - 22:47 WIB
Penuntasan Perbaikan Sekolah di Bulukumba
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 2372 kali



Pemerintah menjadikan pendidikan sebagai program prioritas untuk mencetak sumber daya manusia unggul. Perhatian pemerintah tidak hanya membuka kesempatan bagi seluruh masyarakat usia sekolah untuk menikmati pendidikan melalui program wajib belajar 9 tahun. Pemerintah juga memperhatikan kelayakan gedung sekolah. Pemerintah bertekat pada tahun 2013 ini seluruh sekolah memiliki ruang kelas yang layak untuk kenyamanan belajar siswa. Pemerintah Kabupa-ten (Pemkab) Bulukumba, Sulawesi Selatan telah mengalokasikan anggaran pembangunan gedung sekolah tahun 2012 tercatat Rp 34,9 miliar, sedangkan tahun 2013 menurun menjadi Rp 28,2 miliar dikarenakan gedung yang layak sudah berkurang.

Tahun 2012 dilakukan perbaikan 221 sekolah dan direncanakan pada tahun 2013 penuntasan sekolah layak dengan memperbaiki 176 sekolah dari total  573 sekolah yang ada. Adapun yang dibangun 177 Sekolah SD, 46 sekolah SMP dan 4 sekolah SMA. Dengan pembangunan gedung sekolah ini, ditargetkan tidak ada sekolah yang tidak layak. Perbaikan ruang kelas baru yang didukung ketersediaan berbagai fasilitas telah mendorong siswa belajar dengan nyaman. Para siswa yang selama ini mengeluhkan karena ruang kelasnya bocor, pengap dan kotor, kini  bisa menikmati ruang kelas baru yang layak, bersih, berlantai keramik serta halaman sekolah berupa paving blok.

Pihak sekolah menerima bantuan perbaikan sekolah dengan sistem swakelola. Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan pihak sekolah yang diberi kebebasan menentukan untuk berapa ruang kelas yang akan direhab dan model kelas yang akan dibangun. Semisal pihak sekolah dalam pagu anggaran pembangunan untuk 5 ruang kelas, bisa dibuat 6 ruang kelas dengan memanfaatkan material bangunan lama yang masih layak digunakan.

Sementara itu, pelaksanaan pendidikan di Bulukumba telah melaksanakan wajib belajar 9 tahun gratis dari jenjang SD hingga SMP. Pelaksanaan pendidikan dengan dukungan dana BOS yang mencapai Rp 42,3 miliar yang dipergunakan untuk membebaskan biaya operasional sekolah bagi 50.046 siswa SD/sederajat dan 16.667 siswa SMP/sederajat dan 12.124 siswa SMA/SMK. Dana BOS tahun 2012 sudah terealisasi selama empat triwulan, termasuk BOS rintisan untuk SMA/ SMK. Pelaksanaan pendidikan di Bukukumba didukung dana BOS daerah sebesar Rp 20,1 miliar untuk tahun 2012 dengan sumber pendanaan dari APBD Provinsi Sulawesi Selatan 40% dan APBD Bulukumba 60%.

Dampak pembangunan dan perbaikan gedung sekolah yang dipadu dengan pelaksanaan pendidikan gratis wajib belajar 9 tahun mendorong angka kelulusan siswa dalam dua tahun terakhir yang mencapai 100% untuk semua jenjang SD – SMA. Selain itu  angka putus sekolah untuk tingkat wajib belajar 9 tahun juga relatif kecil hanya di bawah 1 persen. Untuk tingkat SD, angka putus sekolah hanya 0,05% dan tingkat SMP hanya 0,3%.

Salah satu sekolah yang mendapatkan program penuntasan ruang kelas adalah SDN 4 Bentenge Kecamatan Ujung Bulu. Anggaran yang diterima untuk pembangunan rehab total Rp 181,3 juta. Sistem swakelola membuat pihak sekolah dengan anggaran tersebut bisa membangun 4 ruangan. Seluruh ruang kelas sekolah ini direhab berat, terdiri dari 3 ruang kelas dan 1 ruang kelas bersama perpustakaan. Sekolah ini belum memiliki ruang perpustakaan, untuk sementara perpustakaan menjadi satu dengan salah satu ruang kelas. Ruang kelas baru telah mengubah yang sebelumnya bocor, dinding reot, kini berdiri ruang kelas dengan lantai keramik, bercat hijau cerah. Dengan kondisi sekolah yang baru siswa lebih bersemangat dalam menuntut ilmu, karena kondisi ruang kelas bersih, rapi dan nyaman. Siswa tidak khawatir terjadi kebocoran dan roboh di dalam kelas. Apalagi di setiap kelas dilengkapi kipas angin untuk menyejukkan udara. Letak sekolah yang berada dipesisir pantai menjadikan udara panas pada siang hari.

Sekolah ini juga mendapat dana BOS sebesar Rp 66.265.000 dan BOSDA Rp 15,2 juta untuk membiayai 112 siswa. Dana BOS diberikan setiap triwulan yang besarnya sekitar Rp 17 juta. Tahun anggaran 2012 realisasi BOS dan BOSDA mencapai 100% di sekolah ini. Dana BOS diperuntukkan penambahan rehabilitasi ruang kelas, pembelian buku pelajaran, lemari, dana alat pendukung belajar mengajar di kelas. Para siswa miskin di sekolah ini juga menerima beasiswa yang besarnya Rp 360 ribu per siswa/tahun. Kegiatan belajar - mengajar didukung oleh tenaga pengajar sebanyak 9 guru PNS dan 4 guru honorer. Gaji yang diterima paling rendah golongan IIIA sebesar Rp 2,2 juta per bulan dan tertinggi golongan IVB sebesar Rp 4,2 juta per bulan. Sedangkan honorer menerima gaji sebesar Rp 250 ribu per bulan. Tenaga guru PNS sudah menjalani sertifikasi berjumlah 5 orang.

 Rehab ruang kelas mendapat sambutan positif dari siswa, salah satunya Nur Fadila, siswa kelas VI. “Dulu kelas bocor, panas, bocor kami pindah ketempat yang tidak bocor berdesakan dengan teman yang lain. Sekarang tidak takut kelas bocor dan sekolah tidak bayar, buku juga diberi pinjam. Beasiswa Rp 360 ribu dibuat beli seragam merah putih dan baju muslim,” ujarnya.  Hal yang sama dikemukakan Andini Putri, siswa kelas V yang bercita-cita menjadi dokter. Anak dari seorang nelayan dan ibu rumah tangga ini bersemangat untuk sekolah. “Ruang kelas jadi sejuk karena ada kipas angin, bersih tidak takut roboh. Buku dikasih pinjam, ada buku IPA, Bahasa Indonesia, PPKN, kesenian dan lainya. Sekolah tidak bayar,” jelas bintang kelas ini.

Sementara di tingkat SMP, perbaikan sekolah juga dirasakan SMPN 3 Pesisir, Bulukumba yang mendapat bantuan rehab sekolah pada tahun 2012. Anggaran pembangunan yang diterima SMPN 1 sebesar Rp 704 juta. Ruang kelas dibangun dengan dua tingkat dengan memperkuat pondasi. Setiap kelas dilengkapi dua kipas angin agar udara lebih sejuk. Sedangkan di luar kelas, pihak sekolah menyiapkan tempat duduk yang menempel dengan kelas untuk siswa saat istirahat.

Proses belajar-mengajar di sekolah ini dilaksanakan dengan dukungan dana BOS tahun 2012 sebesar Rp 188.037.000 dan BOSDA Rp 104.166.400 Untuk 267 siswa. Dana tersebut disalurkan setiap tiga bulan yang besarnya Rp 47.037.000. Realisasi BOS dan BOSDA tahun 2012 telah terealisasi 100%. Dana BOS tersebut dipergunakan untuk biaya operasional sekolah meliputi pembelian alat tulis kantor, membayar tagihan listrik Rp 7 juta per bulan, telpon dan air Rp 1,9 juta per bulan, pembayaran gaji guru tidak tetap (GTT) Rp 6,9 juta per bulan, buku pelajaran serta kegiatan ulangan harian/ ujian akhir semester dan ujian sekolah. Selain itu, dana BOS juga dipergunakan untuk pemberian bantuan siswa miskin melalui beasiswa miskin sebesar Rp 275 ribu per siswa/tahun. Pihak sekolah memanggil orang tua untuk membuat kesepakatan dan memberikan uang beasiswa.

 Perbaikan sekolah berdampak pada semangat belajar siswa, salah satunya Najdatul, siswa kelas VIII ini tidak patah arang, orang tua bekerja wiraswata dengan berdagang di toko kelontong. “Sekarang fokus belajar, di kelas sejuk, tidak panas sebelumnya kelas bocor harus mengungsi ke kelas lain. Saya dapat beasiswa Rp 275 ribu untuk membeli buku, tas, sepatu,” kata siswi yang bercita-cita menjadi guru ini. Hal senada diungkapkan Susilowati, siswi kelas IX bercita-cita menjadi wartawan. “Ruang kelas bersih, saya dapat beasiswa Rp 275 ribu untuk membeli tas, buku, sepatu sisanya ditabung,” papar siswi yang akan melanjutkan ke SMAN 1 Bulukumba ini. 

Di tingkat SMA, sekolah yang mendapat perbaikan ruang kelas, salah satunya SMAN 1 Bulukumba. SMA unggulan yang memiliki 877 siswa ini, pada tahun 2012 mendapat alokasi dana perbaikan sebesar Rp 300 juta yang digunakan untuk membangun 2 ruang kelas baru. Pembangunan 2 ruang kelas baru menelan dana Rp 300 juta dengan ukuran 12 x 8 meter. Ruang kelas baru tersebut menggunakan atap baja ringan, dinding tembok, lantai keramik, serta sirkulasi udara melalui kaca di ke kedua sisinya. Pada perubahan APBN 2012 SMAN 1 Bulukumba mendapatkan bantuan sebesar Rp 300 juta untuk perbaikan 2 ruang kelas baru dan sedang berjalan. Sekolah ini memiliki 27 rombel dengan 25 ruang kelas yang layak. Hadirnya ruang kelas baru yang nyaman disambut antusias para siswa salah satunya, Esti Amalia siswa kelas XI, Anak dari nelayan ini mengaku kelas yang baru lebih nyaman dari sebelumnya. “Setelah diperbaiki ruang kelas menjadi lebih nyaman. Saya juga bersyukur karena mendapat beasiswa Rp 780 ribu yang dipergunakan untuk membeli peralatan sekolah, seragam, LKS, alat tulis serta transportasi ke sekolah, dan sisanya ditabung,” tutur bintang kelas dan bercita-cita menjadi dokter ini.

SMAN 1 mendapat dana BOSDA sebesar Rp 190.800.000 per tahun untuk operasional sekolah. Selain itu pihak sekolah sesuai kesepakatan komite sekolah menetapkan iuran bulanan Rp 75 ribu bagi siswa kelas X, Rp 65 ribu bagi siswa kelas XI dan kelas XII. Jika ada 2 anak dalam satu keluarga yang sekolah di SMAN 1 Bulukumba pihak sekolah hanya mengenakan iuran satu siswa. Namun mulai tahun ini pihak sekolah menunggu dana BOS untuk siswa SMA/ sederajat sehingga dihentikan dulu penarikan kepada siswa sejak awal tahun 2013 ini. Dana tersebut terutama dipergunakan untuk peningkatan kualitas siswa, guru dan untuk membantu membangun sarana  dan prasarana.

Dana BOS dan BOSDA sangat menunjang pelaksanaan pendidikan gratis 9 tahun dan akan meningkat menjadi 12 tahun sejak tahun 2013. Hal ini seyogyanya menjadikan semua anak usia sekolah menikmati bangku sekolah. Namun masih ditemukan 2 anak usia sekolah bernama Rasul (12 tahun) dan Igar (11 tahun) yang tidak melanjutkan sekolah dikarenakan membantu orang tua mencari nafkah di daerah pesisir, tepatnya di Kampung Penreh, Kel. Matekko Kecamatan Gantarang. Padahal di lingkungan kampung nelayan tersebut, terdapat 5 sekolah SD yakni SD 26 Matekko, SD 27 Matekko, SD 41 Matekko, SD 297 Matekko dan SD 327 Matekko.  Menurut keterangan yang didapat dilapangan orang tua si anak sempat sakit keras sehingga diminta menggantikan orang tua budidaya rumput laut. Kondisi orang tua sudah membaik tetapi anaknya tetap tidak sekolah. Orang tua tidak mengetahui cara mendaftarkan kembali anaknya untuk sekolah.

Daerah pesisir di Bulukumba berbeda dengan daerah pertanian di Desa Lonrong, Kec. Ujung Loe, di mana semua anak usia sekolah menikmati bangku sekolah. Diharapkan agar menjadi perhatian dinas terkait agar memperhatikan hak anak untuk mendapatkan pendidikan hingga pelosok daerah. Pada prinsipnya membantu orang tua bisa dilakukan usai jam pulang sekolah.

Secara nasional sekolah gratis untuk SD dan SMP dilaksanakan sejak tahun 2005 melalui program BOS. Perhitungan dana BOS per siswa per tahun ditingkatkan dari semula Rp 397.000/siswa untuk tingkat SD tahun 2011 menjadi menjadi Rp 580.000/siswa tahun 2012. Adapun untuk tingkat  SMP ditingkatkan dari Rp 570.000/siswa menjadi Rp 710.000/siswa. Penyaluran dana BOS juga diperbaiki yang semula melalui kabupaten/kota, diubah melalui provinsi, sehingga diharapkan tidak lagi terjadi keterlambatan pencairan dana BOS seperti pada tahun 2011.

Tahun 2012 Pemerintah mengalokasikan dana BOS sebesar Rp 27,67 triliun atau mengalami peningkatan 43,6% dibanding tahun 2011 yang berjumlah Rp 19,4 triliun. Selain itu, pada tahun 2012 juga sudah dimulai rintisan BOS untuk siswa SMA, sehingga ke depan diharapkan pembebasan biaya operasional meningkat hingga jenjang SMA. Saat ini sejumlah kabupaten/kota dan provinsi telah menggratiskan biaya operasional sekolah hingga jenjang SMA melalui BOSDA yang dipadukan dengan BOS.

Selain itu, Pemerintah memberikan beasiswa khusus siswa miskin (BKSM) kepada 3,5 juta siswa SD, 1,2 juta siswa SMP, 1,12 juta siswa SMA/SMK dan 91.412 mahasiswa.

Pemerintah juga terus menggenjot perbaikan ruang kelas layak di mana tahun 2011 sebanyak 18.000 SD telah diperbaiki dengan anggaran 2,81 triliun dan 3.500 SMP dengan anggaran Rp 518,4 miliar. Pada tahun 2012 pemerintah mengalokasikan dana Rp 5,4 triliun untuk memperbaiki 61.697 ruang kelas SD dan Rp 2,19 triliun untuk memperbaiki 29.937 ruang kelas SMP.

Pemerintah juga terus memperhatikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ditetapkan menjadi program prioritas pemerintah.Pemerintah memberikan bantuan pembangunan 200 ruang kelas baru PAUD, pembangunan 50 Unit PAUD Terpadu, rehabilitasi 100 lembaga PAUD Terpadu, bantuan rintisan PAUD bagi 13.177 lembaga, pemberian alat peraga edukasi bagi 2.000 lembaga PAUD, dan penguatan sarana pembelajaran bagi 16.841 lembaga PAUD. Pada tahun 2013, pemerintah bahkan menyiapkan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) bagi 45.000 PAUD yang menjangkau sekitar 1,35 juta anak.

(khusen & Dhuha)