Minggu, 14 April 2013 - 09:35 WIB
KREDIT USAHA RAKYAT Membuka Akses Permodalan Petani Rumput Laut
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 4825 kali



Kabupaten Bulukumba berada di bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan yang sebagian besar wilayahnya berada di kawasan pesisir. Tercatat ada 7 kecamatan—dari 10 kecamatan—yang wilayahnya berada di pinggir pantai dengan total panjang garis pantai 128 km. Melihat kondisi geografis tersebut, maka sangat wajar jika banyak warga yang berprofesi sebagai petani rumput laut dan nelayan. Terdapat tidak kurang dari 172 kelompok tani rumput laut di Bulukumba dengan jumlah 1000 petani.

Berdasarkan catatan Pemda Bulukumba, produksi rumput laut Bulukumba setiap tahunnya mencapai 140 ribu ton rumput laut basah. Namun, angka tersebut bisa bertambah jika potensi yang ada di kawasan ini dimaksimalkan. Dalam skala maksimal, potensi pengembangan rumput laut di Bulukumba bisa mencapai 850 ribu ton per tahun.

Dari segi luas lahan, potensi budidaya rumput laut di Bulukumba juga terbilang besar, yakni sekitar 9000 hektar. Namun, baru sekitar 6000 hektar yang sudah digarap. Dengan kata lain, ada sekitar 3000 hektar yang masih tersisa dan perlu pengembangan.

Melihat besarnya potensi budidaya rumput laut di Bulukumba tersebut, BRI sebagai salah satu bank penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) mengucurkan pinjaman modal kepada sejumlah petani rumput laut. Perkembangan budidaya rumput laut didukung penyaluran dana KUR untuk sektor pertanian, perburuhan, dan sarana pertanian pada tahun 2012 sebesar Rp 10,78 miliar bagi 1.239 debitur yang berprofesi sebagai petani dan nelayan. Pengajuan KUR tanpa agunan dapat diajukan dibawah RP 20 juta dengan persyaratan antara lain Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Surat Keterangan usaha dari RT atau Keluarahan, foto copy Keterangan Kepemilikan Rumah Tinggal untuk mengantisipasi nasabah tidak pindah tempat tinggal. Waktu pelayanan dengan persyaratan yang lengkap kurang dari satu pekan sudah dicairkan.

Secara kumulatif, penyaluran KUR melalui BRI Cabang Bulukumba per-Desember 2012 mencapai Rp 106.988.000.000 yang disalurkan ke 13.634 nasabah. Sebagian besar dana tersebut disalurkan ke sektor perdagangan, restoran, dan hotel sebesar Rp 55.886.500.000 dengan nasabah sebanyak 7.122 orang. Sektor pertanian, perburuhan, dan sarana pertanian—yang didalamnya juga termasuk budidaya rumput laut—disalurkan sebesar Rp 25,67 miliar untuk 3.272 nasabah.

Dari sisi waktu pengurusan KUR, rata-rata sekitar 7 hari sejak diajukan. Prosesnya  dimulai dari pendaftaran atau pengajuan pinjaman, kemudian pengisian formulir dan melengkapi persyaratan. Pihak bank kemudian akan melakukan survei untuk menilai kelayakan usaha tersebut. Setelah dinilai layak, nasabah akan dipanggil untuk melakukan penandatanganan perjanjian kredit. Dana pun cair dengan ditransfer ke rekening nasabah, tanpa ada potongan.

Salah satu petani budidaya rumput laut yang merasakan manfaat KUR adalah Yodding, warga Kampung Panreh, Kelurahan Matekko, Kecamatan Gantarang. Pria kelahiran tahun 1963 ini sudah mendapatkan kucuran dana KUR dua kali, masing-masing sebesar Rp 5 juta dengan cicilan Rp 259.300 selama 24 bulan.  Selain cicilan yang cukup ringan, Yodding memilih KUR karena prosesnya yang tidak rumit. Dengan hanya membawa fotokopi KTK, Kartu Keluarga, dan surat keterangan usaha dari Kelurahan, ia bisa langsung mengajukan pinjaman melalui skema KUR. ”Prosesnya cukup mudah. Tidak ada persyaratan macam-macam dan pencairannya juga tergolong cepat, hanya sekitar 1 minggu,” kata Yodding.

Pinjaman dana KUR tersebut dimanfaatkan oleh Yodding untuk membeli tali bentang bibit rumput laut. Kini ia memiliki tali bentang untuk budidaya rumput laut sepanjang 400 meter. Dengan adanya penambahan bentang, diharapkan penghasilan petani rumput laut seperti dirinya bisa meningkat. Yodding bercerita, penghasilan dalam sekali panen bisa mencapai Rp  3 juta per-100 bentang, dengan asumsi hasil panen cukup bagus  dengan masa panen diperkirakan selama 2 bulan. ”Kalau musimnya bagus, penghasilan kita bagus, tetapi ada masa-masa tertentu di mana hasil panen kami tidak maksimal,” ujarnya.

Yodding bersyukur pemerintah memberi perhatian terhadap petani rumput laut melalui program KUR. Namun, ia berharap ada perhatian lebih besar lagi terhadap petani rumput laut karena secara ekonomi mereka masih pas-pasan. Terlebih jika memasuki musim paceklik dan harga rumput laut yang tidak stabil. Saat ini, harga rumput laut jenis cottonii sekitar Rp 9.000 perkilogram. Untuk rumput laut dengan kualitas lebih rendah bahkan hanya sekitar Rp 2.500/kilogram. ”Program-program seperti KUR cukup membantu dan memang itulah yang kami harapkan. Tetapi kami mengharapkan ada perhatian lebih, karena kondisi ekonomi petani rumput laut masih di bawah standar,” harap dia.

Sudda, 30 tahun, juga termasuk petani rumput laut yang mendapatkan kucuran dana KUR sebanyak 2 kali masing-masing Rp 5 juta. Selain persyaratan fotokopi KTP, KK, dan surat keterangan usaha, ia juga diminta menyerahkan BPKB motor sebagai jaminan. ”Meski diminta BPKB, saya tidak masalah, yang penting bisa mendapatkan pinjaman dalam waktu cepat,” kata dia.

Senada dengan Yodding, Sudda juga berharap ada perhatian tambahan dari pemerintah terhadap petani rumput laut. Meski ada perkembangan setelah mendapatkan dana KUR, kondisi ekonomi petani rumput laut di Kampung Panreh, Kelurahan Matekko, Kecamatan Gantarang memang belum stabil. Berdasarkan peninjauan Tim Bertindak Untuk Rakyat, sebagian besar masyarakat di wilayah ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Mereka rata-rata juga mendapatkan bantuan beras miskin (raskin) dari pemerintah. Kondisi rumah para petani rumput laut juga banyak yang belum sesuai dengan standar hidup layak. Karena itu, dibutuhkan program berlapis untuk meningkatkan ekonomi petani. ”Di sini juga banyak anak-anak usia Sekolah Dasar yang putus sekolah. KUR memang memberi manfaat, tetapi melihat kondisi di sini, kami membutuhkan perhatian lebih besar lagi dari pemerintah,” tandasnya.

Selain petani rumput laut, KUR BRI juga merambah sektor perdagangan. Sektor ini memang menjadi ‘primadona’ pengucuran dana KUR di berbagai daerah, tak terkecuali Kabupaten Bulukumba. Dari Rp 106.988.000.000 yang disalurkan ke 13.634 nasabah, sebagian besar dana tersebut disalurkan ke sektor perdagangan, restoran, dan hotel sebesar Rp 55.886.500.000 dengan nasabah sebanyak 7.122 orang.

Sentra pedagang kecil yang menjadi target penyaluran KUR BRI adalah mereka yang membuka usaha di Pasar Sentral Bulukumba. Terbukti, selain dilayani melalui Teras BRI Pasar Sentral Bulukumba, mantri KUR dari BRI unit di sekitar pasar juga merambah UMKM di pasar tersebut.

Salah satu pedagang di Pasar Sentral Bulukumba yang mendapatkan pinjaman dana KUR adalah Hastuti Damayanti. Wanita yang masih lajang ini tercatat sebagai nasabah KUR BRI dengan plafon pinjaman sebesar Rp 20 juta dan beban cicilan Rp 1,4 juta perbulan selama 18 bulan. Bagi Hastuti, beban cicilan itu tidak cukup berat karena penghasilan dari usaha jual beli pakaian yang dimilikinya bisa mencapai Rp 7 juta perbulan. Bahkan, dalam masa-masa tertentu seperti menjelang lebaran, penghasilannya bertambah besar. ”Kalau dari segi pelayanan, kemudahan persyaratan, kecepatan pencairan, KUR sangat bagus. Pedagang kecil seperti kami ini sangat terbantu dengan adanya program KUR,” kata dia.

Lulusan sebuah perguruan tinggi swasta di Bulukumba ini menilai, program KUR membuka akses lebih luas terhadap permodalan yang selama ini menjadi kendala utama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mengembangkan usaha. Ia berharap, program KUR terus dipertahankan agar UMKM lebih mudah mengembangkan usaha. ”Saya harap KUR terus dipertahankan. Lebih bagus lagi jika plafonnya ditambah,” saran Hastuti.

Selain Hastuti, Selvi (24 tahun) dan Naharia (40 tahun) adalah pedagang kecil di Pasar Sentral Bulukumba yang mendapatkan kucuran dana dari KUR BRI. Selvi adalah pedagang sayur-mayur yang sudah hampir lima tahun membuka usaha di pasar tersebut. Naharia bahkan lebih lama lagi, ia sudah 20 tahunan membuka usaha jasa selep kelapa dan berjualan berbagai macam rempah-rempah. Pedagang kecil seperti Selvi dan Naharia dapat dengan mudah mendapatkan pinjaman dana melalui skema KUR karena mantri KUR BRI Bulukumba cukup proaktiv memberikan penawaran langsung kepada mereka. ”Banyak mantri KUR BRI yang mendatangi kami dan menawarkan kredit. Mereka menjelaskan apa itu KUR dan bagaimana prosesnya untuk mendapatkan pinjaman tersebut. Pendekatan langsung seperti itu membuat kami lebih memahami seluk-beluk pinjaman bank,” kata Naharia.

Berdasarkan pengakuan penerima, proses pencairan dana KUR di Bulukumba relatif mudah. Mereka tinggal mendatangi kantor BRI setempat atau bank penyalur lainnya, menyerahkan semua persyaratan, termasuk surat keterangan usaha dari kelurahan/desa. Bahkan, di Pasar Sentral Bulukumba, mantri KUR BRI terlihat pro-aktif menawarkan KUR dan mendampingi nasabah dalam proses pengajuan hingga pencairan.

Program KUR merupakan  bagian dari Program Pro Rakyat Klaster 3 yang bertujuan membantu mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah. Penyaluran KUR terus diperbaiki dan diperluas serta ditargetkan bisa menyalurkan Rp 30 triliun per tahun.

Sejak disalurkan tahun 2007, hingga Februari 2013 telah hampir Rp 100 triliun dengan debitur yang mendapatkan KUR mencapai 7,6 juta pelaku UMKM. Pencapaian penyaluran KUR yang cukup signifikan, karena Presiden SBY senantiasa memonitor dan melakukan evaluasi perkembangan KUR. Presiden SBY juga memberikan target penyaluran KUR Rp 20 triliun per tahun, bahkan pada tahun 2012 target tersebut ditingkatkan menjadi Rp 30 triliun, dan pada posisi 21 Desember 2012 telah mencapai Rp 32,25 triliun.

Bank penyalur KUR juga terus diperluas yang pada awalnya hanya disalurkan oleh 6 bank nasional, kini menjadi 33 bank atau mengalami peningkatan hingga 500% lebih. Ke-33 bank tersebut meliputi 7 bank nasional termasuk 2 bank umum syariah dan 26 Bank Pembangunan Daerah (BPD) di 33 provinsi.

Jumlah rata-rata pinjaman nasabah mengalami peningkatan dari Rp 7,6 juta per nasabah pada tahun 2008 menjadi Rp 17 juta per nasabah pada tahun 2012. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM penerima KUR, usahanya terus berkembang sehingga jumlah kredit terusmeningkat. (khusen yusuf & syamsud dhuha)